Aksi protes tak biasa dilakukan puluhan peternak ayam di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Ribuan bangkai ayam yang telah membusuk dibuang ke halaman Kantor PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Palangka Raya sebagai bentuk protes atas pemadaman listrik bergilir yang disebut telah menyebabkan kerugian ratusan juta rupiah.
Aksi tersebut berlangsung pada Rabu (29/7/2026) pekan lalu dan viral kembali seperti yang diunggah akun TikTok @ceritaoombm. Dalam video terlihat tumpukan bangkai ayam memenuhi trotoar hingga halaman kantor PLN, sementara aroma menyengat menyelimuti lokasi.
Puluhan peternak yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Palangka Raya Gelap (GPG) dan Persatuan Insan Perunggasan (INSAR) Kalimantan Tengah menilai pemadaman listrik yang berulang dan berlangsung lama telah memicu kematian massal ayam di kandang.
Peternak Klaim Rugi hingga Ratusan Juta Rupiah
Salah satu peternak, Satrio (35), mengatakan sebagian besar peternakan ayam broiler di Palangka Raya telah menggunakan sistem kandang tertutup (closed house) yang sangat bergantung pada pasokan listrik.
Menurutnya, listrik dibutuhkan untuk mengoperasikan blower atau kipas ventilasi yang menjaga sirkulasi udara di dalam kandang.
“Listrik itu sebetulnya merupakan nyawa buat ayam. Jadi ketika listrik ini padam, ya kami memang tetap memiliki genset. Hanya saja PLN ini kan tidak konsisten, tidak memberikan jadwal yang tegas kapan itu dimatikan. Ditambah lagi durasi pemadaman itu yang begitu lama,” ujarnya.
Meski memiliki generator set (genset), kata Satrio, alat tersebut hanya dirancang sebagai sumber listrik cadangan. Pemadaman yang berlangsung berjam-jam membuat genset harus bekerja terus-menerus hingga mengalami kerusakan.
Akibatnya, suplai udara di dalam kandang terhenti sehingga ribuan ayam mati karena kekurangan oksigen.
Ia mengaku kerugian yang dialami peternak telah mencapai ratusan juta rupiah. Bahkan, satu kandang berkapasitas sekitar 40 ribu ekor ayam disebut dapat mengalami kerugian hingga Rp360 juta.
“Kalau ayam sudah mati, sudah enggak bisa kita jual. Siapa yang mau beli ayam mati?” katanya.
Selain kehilangan ternak, peternak juga mengaku terbebani biaya operasional genset dan kesulitan memperoleh bahan bakar minyak (BBM) karena adanya pembatasan pembelian di SPBU.
Tuntut PLN Bertanggung Jawab
Dalam aksi tersebut, massa menuntut manajemen PLN memberikan penjelasan terkait pemadaman listrik yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir sekaligus bertanggung jawab atas kerugian yang dialami peternak.
Selain membuang bangkai ayam, massa sempat menyegel sementara kantor PLN UP3 Palangka Raya dan meminta pimpinan PLN menemui mereka.
Petugas kepolisian berjaga selama aksi berlangsung untuk mengantisipasi gangguan keamanan. Sejumlah petugas kebersihan juga dikerahkan membersihkan bangkai ayam yang berserakan di sekitar kantor PLN.
PLN Ungkap Penyebab Pemadaman
Menanggapi aksi tersebut, General Manager PLN UID Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Kalselteng), Iwan Soelistijono, menjelaskan pemadaman bergilir dilakukan karena terganggunya pasokan listrik pada Sistem Interkoneksi Kalimantan.
Menurutnya, gangguan terjadi akibat kerusakan generator di PLTU Asam-Asam serta kebocoran pipa boiler dan turbin pada dua unit pembangkit Independent Power Producer (IPP).
“Kondisi tersebut berdampak pada terbatasnya pasokan listrik di sebagian wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah,” kata Iwan dalam keterangannya.
PLN menyatakan telah mengerahkan personel dan sumber daya untuk mempercepat proses perbaikan pembangkit agar pasokan listrik kembali normal.(Sumber)











