Traveler yang punya ketertarikan dengan dunia kopi dan mau tahu bagaimana prosesnya dari hulu ke hilir, sepertinya harus datang ke Kamojang.
Kamojang adalah sebuah desa wisata yang berada di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Mereka punya kopi endemik, yaitu kopi Kamojang.
Dalam rangka memperkenalkan secara lebih luas, kelompok KAHURIPAN KAMOJANG dan didukung PLN Indonesia Power UBP Kamojang mempertemukan masyarakat, petani kopi, pelaku UMKM, komunitas, pemerintah, akademisi, pelaku usaha, serta berbagai pemangku kepentingan dalam festival perdana ini. Harapannya, festival ini menjadi langkah awal memperkenalkan potensi kopi dan wisata yang dimiliki Kamojang.
Festival Kopi Kahuripan Kamojang digelar di Foodcourt Kahuripan Kamojang, Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung pada Minggu (9/8/2026).
Di momen ini juga ada penandatanganan komitmen pelestarian kopi Kamojang serta lingkungan oleh PLN Indonesia Power Kamojang bersama Desa Laksana dan pelaku usaha kopi.
“Festival Kopi Kahuripan Kamojang bukan hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan kopi lokal, tetapi juga menjadi bagian dari strategi keberlanjutan Kahuripan Kamojang. Ketika kopi memiliki nilai ekonomi yang lebih baik, masyarakat akan semakin memiliki alasan dan insentif untuk menjaga lingkungan, mempertahankan budaya, serta mengembangkan potensi wilayahnya secara berkelanjutan,” kata Senior Manager PLN Indonesia Power UBP Kamojang, Yunus Tohir.
Tak berhenti di sini, Festival Kopi Kahuripan Kamojang diharapkan dapat berkembang menjadi agenda tahunan yang memperkuat branding Kahuripan Kamojang sekaligus membuka akses pasar bagi petani dan pelaku usaha lokal.
Pantauan detiktravel di lokasi, Minggu (9/8/2016) warga sangat antusias mendatangi festival dan mencicipi ragam tenant kopi dan UMKM. Di sini juga ada Kopi Lisung, otentiknya Kamojang yang masih mempertahankan metode tradisional untuk mengolah kopi.
Salah satu kegiatan utama festival kopi ini adalah Coffee Tour “Dari Panen sampai ke Cangkir”. Saya dan peserta lain diajak mengenal proses kopi mulai dari panen, pengolahan pascapanen, pemrosesan, hingga kopi siap disajikan.
Dalam momen tersebut turut hadir, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Bandung Wawan A. Ridwan. Dia berharap dengan adanya festival kopi ini bisa meningkatkan geliat wisata Desa Laksana.
“Desa Laksana termasuk ke dalam 27 desa wisata yang sudah mencapai level berkembang. Jadi artinya dengan adanya kegiatan festival kopi ini pengembangan desa wisata bisa dikolaborasikan dengan semua pihak. Kita berharap dengan adanya pengembangan desa wisata ini akan meningkatkan geliat ekonomi di masyarakat sekitar,” ujar Wawan.
Festival Kopi ini juga menjadi bagian dari pengembangan Eduwisata Kopi Kamojang. Konsep ini menggabungkan potensi perkebunan kopi, kehidupan masyarakat, budaya lokal, konservasi lingkungan, dan pembelajaran dalam satu pengalaman wisata.
Lebih lanjut, traveler yang ingin mengetahui bagaimana kopi ditanam hingga menjadi bubuk kopi bisa mengetahuinya melalui tur kopi. Nantinya, kegiatan ini akan menjadi salah satu daya tarik yang ditawarkan Desa Laksana ini.
“Ada beberapa paket wisata yang kita kembangkan. Kalau terkait kopi, tak hanya bubuk saja yang kita hasilkan. Juga ada beberapa produk-produk yang dihasilkan dari kopi artinya kita bisa jual untuk menjadi paket wisata seperti kue, pakan ikan dan lainnya.,” tutup Wawan.
(Sumber)












