News

Poros New Normal Pilgub Sumbar

0

Indra J Piliang

Ketua Umum Perhimpunan Sang Gerilyawan Nusantara 2020-2024

Sebulan menjelang pendaftaran, pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sumatera Barat (Sumbar) memasuki tahap krusial. Yakni, penentuan (segera) calon-calon yang bakal diusung.

Di atas kertas, setelah pasangan Fakhrizal – Genius Umar gagal memenuhi syarat calon perseorangan, masih bisa terbentuk maksimal empat pasangan calon.

Dari 65 kursi Dewan Perwakilan Rakyat daerah (DPRD) Provinsi Sumbar, terdapat komposisi yang menarik: 14 (Partai Gerindra), 10 (Partai Keadilan Sejahtera – PKS), 10 (Partai Amanat Nasional -PAN), 10 (Partai Demokrat), 8 (Partai Golkar), 4 (Partai Persatuan Pembangunan – PPP), 3 (Partai Nasdem), 3 (Partai Kebangkitan Bangsa – PKB) dan 3 (PDI Perjuangan). Syarat untuk mengusung minimal 14 kursi.

Dua pasang calon sudah mendekati final, yakni Nasrul Abit – Indra Catri yang diusung Partai Gerindra (14 kursi) dan Mulyadi – Ali Mukhni yang diusung oleh Partai Demokrat (10 kursi) dan PAN (10 kursi). Sudah 34 kursi yang terangkut.

Belakangan, Partai Golkar (8 kursi) membangun poros baru bersama Partai Nasdem (3 kursi) dan PKB (3 kursi). Bolehlah poros ini disebut Poros New Normal. Koalisi kuning-biru-hijau.

Penggagas Poros New Normal ini adalah pimpinan partai di tingkat provinsi. Tentu, saya membangun komunikasi dengan pimpinan pusat partai. Sebagai Badan Pemenangan Pemilu DPP Partai Golkar dengan wilayah koordinasi seluruh Sumbar, penulis punya subjektifitas dalam hal ini.

“Tunggu surprised!” jawab Aditya Willy, petinggi Partai Nasdem yang saya tidak tahu jabatannya.

“Terkait Pilgub, tinggal menunggu jadwal pembahasan dengan DPP,” balas Haji Alex Lukman, Ketua DPD PDI Perjuangan Sumbar.

Saya merasa tak perlu berkomunikasi dengan sahabat saya, Wakil Ketua Umum DPP PKB M Hanif Dhakiri, terkait sikap PKB. Siapa pula politisi asal Sumbar yang berani berhadapan dengan Febby Dt Bangso?

Lebih satu dekade saya kenal Febby, sulit sekali mengalahkan kelincahan, keuletan, dan penguasaan bola Febby. Ndak ada lapangan permainan saja, Febby bisa bermain sendiri dengan spartan, ligat dan presisi.

Jika Poros New Normal Sumbar ini berhasil solid, bahkan bisa bertambah dengan PDI Perjuangan, bagaimana dengan Mahyeldi Ansharullah dari PKS (10 kursi)? Satu-satunya partai yang bisa memenuhi syarat untuk diusung bersama tinggal PPP yang punya 4 kursi.

Dari dua pasangan yang sudah diumumkan, empat teritorial sudah terwakili, yakni Kab Pesisir Selatan (Nasrul Abitt), Kota Bukittinggi – Kab Agam (Indra Catri), Kota Pariaman – Kab Padang Pariaman (Ali Mukhni) dan Kota Payakumbuh – Kab 50 Kota (Mulyadi).

Teritorial yang belum terwakili adalah Kota Solok (termasuk Kabupaten Solok dan Kab Solok Selatan), Kab Pasaman (dan Kab Pasaman Barat), Kota Sawahlunto (plus Kab Sijunjung dan Kab Dharmasraya) dan Kab Tanah Datar (tukuk Kota Padang Panjang). Populasi Ksb Kepulauan Mentawai terlalu kecil untuk dihitung sebagai kekuatan politik.

Padang?

Sejak dulu penulis tak memasukkan Padang sebagai basis politik dalam pilgub Sumbar. Padang tidak mewakili teritorial subetnografis apapun. Padang adalah kota pedagang kaki lima atau pasar besar yang menjadi ibukota provinsi pada tahun 1958.

Alasan perpindahan Ibukota Sumbar dari Bukittinggi ke Padang tentu sangat terang-benderang: Bukittinggi semakin identik dengan Ibukota Pemerintahan Revolusioner Rakyat Indonesia (PRRI).

Bolehlah nanti diskusi lebih panjang tentang posisi menarik kota yang paling besar populasinya ini, namun sulit menjadi tempat bersandar politisi Sumbar moderen.

Nasrul Abit lahir di Air Haji, Pesisir Selatan, 24 Desember 1954, adalah sarjana Universitas Lampung. Ali Mukhni, kelahiran Kampung Pauah, Padang Pariaman, 16 September 1956, adalah sarjana Universitas Negeri Padang.

Indra Catri, kelahiran Bukittinggi 4 April 1961, adalah sarjana Institut Teknologi Bandung. Mulyadi, kelahiran Bukittinggi 13 Maret 1963, adalah sarjana Universitas Trisakti.

Mahyeldi Ansharullah yang menjadi salah satu yang diperkirakan dapat tiket, kelahiran Bukittinggi, 25 Desember 1966, adalah sarjana Universitas Andalas.

Dalam “teori berdasarkan pengalaman” yang penulis dapatkan, pertarungan dalam perebutan kursi gubernur dan wakil gubernur pada dasarnya adalah perebutan pengaruh antara dua perguruan tinggi negeri yang berada di provinsi tersebut.

Yakni antara kampus keilmuan versus kampus keguruan. Sementara untuk pemilihan bupati atau walikota, perebutan pengaruh terjadi antara alumni SMA 1 versus SMA 2.

Untuk kasus Sumbar, persaingan kursi Pilgub tenjadi antara Universitas Andalas versus Universitas Negeri Padang.

Jadi, mohon maaf, jika dari yang sudah mendapatkan tiket, baru Ali Mukhni yang punya “partai” pendukung yang kuat, yakni jejaring alumni Universitas Negeri Padang plus Piaman Laweh.

Sehingga, jika Mahyeldi jadi maju, pertempuran sengit bakal terjadi lagi antara “partai” Unand versus “partai” UNP. Namun di tempat silang nan bapangka, karajo nan bapokok, Mahyeldi bersihoyak dengan Indra Catri dan Mulyadi yang sama-sama asal Bukittinggi.

Di luar Mahyeldi, terdapat nama Fakhrizal yang kelahiran Bukittinggi, 26 April 1963. Walau tidak berhasil memenuhi syarat calon perseorangan, Fakhrizal merupakan calon unggulan yang bisa masuk dalam koalisi PKS.

Tapi ada persoalan mendasar, Mahyeldi dan Fakhrizal sama-sama rang Bukik, koto rang Agam, sebagaimana juga Mulyadi dan Indra Catri. Dalam rentang usia, ceruk pemilih yang diwakili juga kecil. Fakhrizal masuk generasi baby boomers dan Mahyeldi yang lahir tahun 1966 berada dalam generasi X.

Pilihan yang tersedia bagi Fakhrizal adalah ber-tungkus lumus dengan koalisi Golkar-Nasdem-PKB. Koalisi kuning-biru-hijau ini menjadi terminal terakhir bagi Fakhrizal untuk ikut atau tidak. To be or not to be.

Di luar nama Fakhrizal, penulis hanya punya dua nama, yakni Suherman TRD (34 tahun) dan Faldo Maldini (30 tahun). Suherman dan Faldo bisa menjadi pilihan calon wakil gubernur bagi Fakhrizal.

Angin politik membawa keberpihakan kepada Suherman dan Faldo. Mereka berdua adalah wajah generasi milenial alias lahir tahun 1981-1994, berkucindan dengan internet. Bukan karena saya kenal keduanya dengan baik, tapi googling saja.

Suherman dan Faldo paling banyak muncul di media sosial, dibandingkan dengan nama-nama lain. Selain itu, pilkada raya 2020 adalah pilkada yang 100% menerapkan protokol COVID 19.

Keseluruhan proses dan tahapan berlangsung di media, baik media cetak, elektronik, hingga online. Sama sekali tidak ada pengerahan massa semacam kampanye terbuka berhiaskan dangdut.

Diluar Faldo dan Suherman? Jangan lupa, Pilgub Sumbar penuh dengan kejutan. Dalam bayangan imajinatif saya, terdapat “kejadian” ajaib ini, yakni Fakhrizal berpasangan dengan Sutan Riska Tuanku Kerajaan.

Sutan Riska adalah Bupati Dharmasraya kelahiran Solok, 21 Mei 1989. Masih 31 tahun. Pun berada dalam Generasi Milenial. PDI Perjuangan dan PPP bisa jadi bergabung. Lima partai politik nasional yang pada tahun lalu berada di satu kubu.

Dimana Genius Umar (48)? Tentu bisa tetap mendampingi Fakhrizal, apabila Suherman dan Faldo “dilewati”.

Cuma, saya pribadi lebih berharap sahabat sebangku saya, Genius, melanjutkan kerja keras guna membangun water front city Pariaman. Tapi, kalau memang jodoh, bisa juga Genius adalah paket yang dikawal koalisi kuning-biru-hijau.

Jakarta, 04 Agustus 2020

Sebulan menjelang pendaftaran, pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sumatera Barat (Sumbar) memasuki tahap krusial. Yakni, penentuan (segera) calon-calon yang bakal diusung.

Di atas kertas, setelah pasangan Fakhrizal – Genius Umar gagal memenuhi syarat calon perseorangan, masih bisa terbentuk maksimal empat pasangan calon. Dari 65 kursi Dewan Perwakilan Rakyat daerah (DPRD) Prov Sumbar, terdapat komposisi yang menarik: 14, 10, 10, 10, 8, 4, 3, 3 dan 3. Syarat untuk mengusung minimal 14 kursi.

Dua pasang calon sudah mendekati final, yakni Nasrul Abit – Indra Catri yang diusung Partai Gerindra (14 kursi) dan Mulyadi – Ali Mukhni yang diusung oleh Partai Demokrat (10 kursi) dan Partai Amanat Nasional (10 kursi). Sudah 34 kursi yang terangkut.

Belakangan, Partai Golkar (8 kursi) membangun poros baru bersama Partai Nasdem (3 kursi) dan Partai Kebangkitan Bangsa (3 kursi). Bolehlah poros ini disebut Poros New Normal.

Koalisi kuning-biru-hijau. Penggagas Poros New Normal ini adalah pimpinan partai di tingkat provinsi. Tentu, saya membangun komunikasi dengan pimpinan pusat partai.

Sebagai Badan Pemenangan Pemilu DPP Partai Golkar dengan wilayah koordinasi seluruh Sumbar, penulis punya subjektifitas dalam hal ini.

“Tunggu surprised!” jawab Aditya Willy, petinggi Partai Nasdem yang saya tidak tahu jabatannya.

“Terkait Pilgub, tinggal menunggu jadwal pembahasan dengan DPP,” balas Haji Alex Lukman, Ketua DPD PDI Perjuangan.

Saya merasa tak perlu berkomunikasi dengan sahabat saya, Wakil Ketua Umum DPP PKB M Hanif Dhakiri, terkait sikap PKB. Siapa pula politisi asal Sumbar yang berani berhadapan dengan Febby Dt Bangso?

Lebih satu dekade saya kenal Febby, sulit sekali mengalahkan kelincahan, keuletan, dan penguasaan bola Febby. Ndak ada lapangan permainan saja, Febby bisa bermain sendiri dengan spartan, ligat dan presisi.

Jika Poros New Normal Sumbar ini berhasil solid, bahkan bisa bertambah dengan PDI Perjuangan, bagaimana dengan Mahyeldi Ansharullah dari Partai Keadilan Sejahtera (10 kursi)?

Satu-satunya partai yang bisa memenuhi syarat untuk diusung bersama tinggal Partai Persatuan Pembangunan yang punya 4 kursi.

Dari dua pasangan yang sudah diumumkan, empat teritorial sudah terwakili, yakni Kab Pesisir Selatan (Nasrul Abitt), Kab Agam – Kota Bukittinggi (Indra Catri), Kota Pariaman – Kab Padang Pariaman (Ali Mukhni) dan Kota Payakumbuh – Kab 50 Kota (Mulyadi).

Teritorial yang belum terwakili adalah Kota Solok (termasuk Kabupaten Solok dan Kab Solok Selatan), Kab Pasaman (dan Kab Pasaman Barat), Kota Sawahlunto (Kab Sijunjung dan Kab Dharmasraya) dan Kab Tanah Datar (dan Kota Padang Panjang).

Populasi Kepulauan Mentawai terlalu kecil untuk dihitung sebagai kekuatan politik.

Padang?

Sejak dulu saya tak memasukkan Padang sebagai basis politik dalam pilgub Sumbar. Padang tidak mewakili teritorial subetnografis apapun. Padang adalah pasar besar yang menjadi ibukota provinsi pada tahun 1958.

Alasan perpindahan Ibukota Sumbar dari Bukittinggi ke Padang tentu sangat terang-benderang: Bukittinggi semakin identik dengan Ibukota Pemerintahan Revolusioner Rakyat Indonesia (PRRI).

Bolehlah nanti diskusi lebih panjang tentang posisi menarik kota yang paling besar populasinya ini, namun sulit menjadi tempat bersandar politisi Sumbar moderen.

Nasrul Abit lahir di Air Haji, Pesisir Selatan, 24 Desember 1954, adalah sarjana Universitas Lampung. Ali Mukhni, kelahiran Kampung Pauah, Padang Pariaman, 16 September 1956, adalah sarjana Universitas Negeri Padang.

Indra Catri, kelahiran Bukittinggi 4 April 1961, adalah sarjana Institut Teknologi Bandung. Mulyadi, kelahiran Bukittinggi 13 Maret 1963, adalah sarjana Universitas Trisakti.

Mahyeldi Ansharullah yang menjadi salah satu yang diperkirakan dapat tiket, kelahiran Bukittinggi, 25 Desember 1966, adalah sarjana Universitas Andalas.

Dalam “teori berdasarkan pengalaman” yang penulis dapatkan, pertarungan dalam perebutan kursi gubernur dan wakil gubernur pada dasarnya adalah perebutan pengaruh antara dua perguruan tinggi negeri yang berada di provinsi tersebut.

Yakni antara kampus keilmuan versus kampus keguruan. Sementara untuk pemilihan bupati atau walikota, perebutan pengaruh terjadi antara alumni SMA 1 versus SMA 2.

Untuk kasus Sumbar, antara Universitas Andalas versus Universitas Negeri Padang. Jadi, mohon maaf, jika dar yang sudah mendapatkan tiket, baru Ali Mukhni yang punya “partai” pendukung yang kuat, yakni jejaring alumni Universitas Negeri Padang.

Sehingga, jika Mahyeldi jadi maju, pertempuran sengit bakal terjadi lagi antara “partai” Unand versus “partai” UNP. Namun di tempat silang nan bapangka, karajo nan bapokok, Mahyeldi bersihoyak dengan Indra Catri dan Mulyadi yang sama-sama asal Bukittinggi.

Di luar Mahyeldi, terdapat nama Fakhrizal yang kelahiran Bukittinggi, 26 April 1963. Walau tidak berhasil memenuhi syarat calon perseorangan, Fakhrizal merupakan calon unggulan yang bisa masuk dalam koalisi PKS.

Tapi ada persoalan mendasar, Mahyeldi dan Fakhrizal sama-sama rang Bukik, koto rang Agam, sebagaimana juga Mulyadi dan Indra Catri. Dalam rentang usia, ceruk pemilih yang diwakili juga kecil.

Fakhrizal masuk generasi baby boomers dan Mahyeldi yang lahir tahun 1966 berada dalam generasi X.

Pilihan yang tersedia bagi Fakhrizal adalah bertungkus lumus dengan koalisi Golkar-Nasdem-PKB. Koalisi kuning-biru-hijau ini menjadi terminal terakhir bagi Fakhrizal untuk ikut atau tidak. To be or not to be.

Di luar nama Fakhrizal, penulis hanya punya dua nama, yakni Suherman TRD (34 tahun) dan Faldo Maldini (30 tahun). Suherman dan Faldo bisa menjadi pilihan calon wakil gubernur bagi Fakhrizal.

Angin politik membawa keberpihakan kepada Suherman dan Faldo. Suherman dan Faldo adalah wakil generasi milenial alias mereka yang lahir tahun 1981-1994. Bukan karena saya kenal keduanya dengan baik, tapi googling saja.

Suherman dan Faldo paling banyak muncul di media sosial, dibandingkan dengan nama-nama lain. Bukan hanya itu, pilkada raya 2020 adalah pilkada yang 100% menerapkan protokol COVID 19.

Keseluruhan proses dan tahapan berlangsung di media, baik media cetak, elektronik, hingga online. Sama sekali tidak ada pengerahan massa semacam kampanye terbuka berhiaskan dangdut.

Diluar Faldo dan Suherman? Jangan lupa, Pilgub Sumbar penuh dengan kejutan. Dalam bayangan imajinatif saya, terdapat “kejadian” ajaib ini, yakni Fakhrizal berpasangan dengan Sutan Riska Tuanku Kerajaan.

Sutan Riska adalah Bupati Dharmasraya kelahiran Solok, 21 Mei 1989. Masih 31 tahun. Pun berada dalam Generasi Milenial. PDI Perjuangan dan PPP bisa jadi bergabung. Lima partai politik nasional yang pada tahun lalu berada di satu kubu.

Dimana Genius Umar (48)? Tentu bisa tetap mendampingi Fakhrizal, apabila Suherman dan Faldo “dilewati”. Cuma, saya pribadi lebih berharap sahabat sebangku saya, Genius, melanjutkan kerja keras guna membangun water front city Pariaman. Tapi, kalau memang jodoh, bisa juga Genius adalah paket yang dikawal koalisi kuning-biru-hijau.

Jakarta, 04 Agustus 2020

Ini Saran Legenda Hidup Hariyanto Arbi Untuk Tim Thomas Indonesia 2020

Previous article

Kader SOKSI Ziarah ke Makam Pendiri dan Dukun Politik Suhardiman

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *