Bisnis Kotor Minyak Pertamina, Kisah Korupsinya dari Zaman Para Orang Tua Hingga Turun ke Anak-anaknya

Skandal mega korupsi pertamina ternyata menyeret nama anak-anak muda dengan jabatan mentereng dan kaya raya.

Selain nama Muhammad Kerry Adrianto Riza ada juga nama Gading Ramadhan Joedo yang kini menyandang status tersangka dalam kasus PT Pertamina Patra Niaga.

Gading Ramadhan Joedo adalah alumni Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia tercatat sebagai Direktur PT Pelayaran Mahameru Kencana Abadi sejak tahun 2012 lalu.

Selain itu, Gading Ramadhan Joedo juga dikenal sebagai Komisaris PT Jengga Maritim dan Direktur PT Orbit Terminal Merak.

Namun, di balik kasus yang menjeratnya, terdapat jejak panjang keluarganya dalam industri energi nasional, terutama melalui sang ayah, yang merupakan  mantan Direktur Utama Pertamina (1981–1984), Joedo Soembono.

Selain itu, Gading yang merupakan saudara dari Boy Haryanto Joedo Soembono juga dikenal sebagai mantan suami dari Vina Panduwinata.

Di dunia olah raga basket, Gading Ramadhan Joedo juga merupakan Presiden Klub Amartha Hangtuah Jakarta.

Salah satu klub bola basket profesional yang berlaga di indonesian Basketball League yang dimiliki oleh Muhammad Kerry Adrianto Riza anak dari Riza Chalid, The Gasoline Godfather. Alias Raja Mafia Minyak.

Lalu seperti apa kisah Joedo Soembono yang merupakan ayah dari Gading Ramadhan Joedo yang sama-sama berkarir di dunia bisnis minyak dan Pertamina?

Sebagaimana diketahui, kedekatan dengan berbagai lingkaran elit ini semakin memperkuat posisi keluarga Joedo dalam dunia bisnis dan politik di Indonesia.

Joedo Soembono atau Judo Sumbono bukan sekadar tokoh bisnis, tetapi juga perwira militer yang memiliki pengaruh kuat.

Ia mengawali kariernya sebagai Mayor di militer sebelum akhirnya terjun ke sektor energi. Namanya mulai dikenal luas saat menjabat sebagai Kepala Humas PN Permina.

PN Pertamina merupakan cikal bakal rezim Pertamina di bawah kepemimpinan Ibnu Sutowo.

Saat itu, Ibnu Sutowo dikenal sebagai tokoh utama dalam pembangunan industri perminyakan Indonesia.

Namun, kebijakan dan pengelolaan yang ia terapkan membuat Pertamina terjerat utang besar.

Judo Sumbono naik ke kursi kepemimpinan Pertamina menggantikan Piet Haryono.

Masa kepemimpinannya menjadi transisi yang krusial setelah skandal besar yang mengguncang perusahaan minyak nasional ini.

Salah satu momen penting dalam kepemimpinannya adalah penandatanganan kontrak penjualan LNG Arun ke Jepang pada 27 April 1981.

Judo saat itu sengaja mengundang Ibnu Sutowo untuk hadir dalam acara tersebut.

Langkah ini menimbulkan spekulasi bahwa Judo Sumbono tetap memiliki hubungan erat dengan Ibnu Sutowo, meskipun sang mentor telah tersingkir dari kursi kekuasaan.

Loyalitas ini menjadi tanda tanya, terutama terkait keberlanjutan sistem lama yang dibangun Ibnu Sutowo dalam tubuh Pertamina.

Pasca meninggalkan kursi Direktur Utama Pertamina pada 1984, Judo Sumbono tetap aktif di dunia bisnis.

Namanya dikaitkan dengan berbagai jaringan perusahaan yang bergerak di sektor energi dan maritim.

Salah satu warisan pengaruhnya adalah keberadaan Gading Ramadhan Joedo di lingkaran bisnis Pertamina.

Gading tidak hanya memiliki jabatan strategis sebagai Komisaris di PT Jengga Maritim, tetapi juga sebagai Direktur PT Orbit Terminal Merak.

Kedua perusahaan ini diketahui memiliki keterkaitan dengan bisnis perkapalan dan pengelolaan minyak yang bersinggungan langsung dengan Pertamina.

Skandal yang menyeret nama Gading Ramadhan Joedo terkait dengan dugaan korupsi dalam pengelolaan minyak mentah dan produk kilang di PT Pertamina Patra Niaga.

Kasus ini terjadi dalam rentang waktu 2018 hingga 2023 dan menimbulkan kerugian negara yang diperkirakan mencapai triliunan rupiah.

Tentu saja, kasus ini kembali membuka wacana mengenai keberadaan mafia minyak yang masih bercokol dalam tubuh Pertamina.

Artinya dengan latar belakang keluarganya yang memiliki sejarah panjang dalam industri energi, keterlibatannya dalam skandal ini semakin menguatkan dugaan bahwa mafia migas masih memiliki pengaruh besar di Indonesia.

Keterlibatan nama-nama besar dalam skandal ini menunjukkan bahwa korupsi di sektor energi seperti sudah menggurita dan diwariskan turun temurun. (Sumber)