Wisata  

Pukul Manyapu: Tradisi Lebaran Ekstrem, Simbol Pengorbanan Para Pejuang di Maluku

Masyarakat Desa Mamala dan Desa Morella di Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah, punya sebuah tradisi unik yang diadakan setelah Idulfitri, tepatnya setiap tanggal 7 Syawal dalam penanggalan Islam. Tradisi yang berlangsung secara turun-temurun dan jadi bagian dari kebudayaan Maluku ini bernama pukul manyapu atau biasa juga disebut baku pukul manyapu.

Tradisi tersebut diciptakan oleh seorang tokoh Islam dari Maluku yang bernama Imam Tuni dan diselenggarakan setiap tahun sebagai penanda perayaan Idulfitri. Pukul manyapu melambangkan persatuan dan perdamaian, serta merayakan keberhasilan pembangunan Masjid Mamala yang selesai tanggal 7 Syawal di abad ke-17.

Pukul manyapu juga dikenal dengan nama ukuwala mahiate. Nama ukuwala berasal dari bahasa negeri Mamala yang berarti sapu lidi, sedangkan mahiate artinya saling memukul. Ya, seperti arti dari namanya, tradisi ini melibatkan sapu lidi dan saling pukul. Seperti apa tradisi yang satu ini berlangsung?

Pukul manyapu akan dilakukan oleh dua kelompok yang masing-masing terdiri dari 10 pemuda. Agar lebih mudah membedakan setiap kelompok, biasanya kelompok satu akan menggunakan celana merah dan kelompok dua memakai celana hijau. Untuk semua peserta akan bertelanjang dada dan wajib memakai ikat kepala bernama kain berang guna menutupi area telinga.

Adapun perlengkapan yang dibutuhkan adalah alat pukul dari sapu lidi dari pohon enau dengan panjang 1,5 meter. Sapu lidi ini memiliki karakter yang kuat tapi cenderung lentur. Saking kuatnya bahkan dapat menyayat kulit hingga berdarah.

Sebelum pukul manyapu dimulai, para pemain akan menjalankan ritual dan didoakan oleh para tetua adat. Sebagai tanda mulainya atraksi, suling akan ditiup dan obor Kapitan Telukabessy akan dinyalakan. Setiap peserta akan berdiri berhadapan dengan kelompok lawan di tengah lapangan. Setiap orang juga sudah memegang sapu lidi dan akan segera diganti jika rusak atau patah.

Dua kelompok pemuda pun kemudian akan saling memukul lawan dengan sapu lidi secara bergantian. Aturan bagian tubuh yang boleh dipukul adalah dari dada hingga perut. Hal unik yang bisa disaksikan dari tradisi ini adalah tiap kelompok tidak menghindari lawan. Malah mereka akan mengangkat tangan setinggi-tingginya ketika giliran dipukul dan pasrah untuk disabet dengan sapu lidi.

Di sisi lain, orang yang memukuli pun akan penuh semangat dan sekuat tenaga menyerang lawan bertubi-tubi dengan sapu lidi hingga tubuhnya memar dan bercucuran darah. Pada akhirnya bagian perut dan dada semua peserta akan penuh luka dan darah. Namun, menariknya tidak ada satupun yang marah dan dendam setelahnya sebab luka tersebut menjadi simbol perjuangan dalam melawan penjaja

Menariknya, meskipun tubuh para pemuda itu sudah terluka, tidak ada yang marah apalagi dendam. Sebab luka dan darah itu merupakan simbol perjuangan melawan penjajah. Untuk memeriahkan acara akan diiringi tabuhan rebana, suling, dan tentunya sorak sorai para penonton. Selain itu juga akan ada penampilan atraksi bambu gila, cakalele, dan tarian adat Morella.

“Beta rasa pukulan sapu lidi cukup kuat di kulit hingga tubuh beta berdarah, tapi itu tidak berarti apa-apa, ketika ada dalam atraksi pukul sapu yang katong lakukan. Karena sebelum masuk di arena, samua peserta telah menjalani ritual adat oleh tua-tua adat. Luka robek akibat pukulan sapu lidi, segera sembuh ketika diolesi dengan getah tanaman daun jarak,” kata Hamdani Latukao, salah seorang warga Desa Morella kepada Rri.co.id.

Ya, seperti yang dikelaskan Hamdani, memang luka memar yang dialami para peserta dalam pukul manyapu akan segera diobati dengan minyak mujarab bernama nyualaing matetu atau disebut juga minyak tasala. Minyak tradisional ini akan dioleskan ke bagian tubuh yang luka terna sabetan lidi dan akan segera hilang tak berbekas.

Meski tergolong ekstrem, tradisi ini terus dilakukan secara turun-temurun dan mengingatkan masyarakat pada momen bersejarah pada masa penjajahan Portugis dan VOC di Maluku. Awal mula tradisi ini juga dikaitkan dengan perjuangan Kapitan Telukabessy dan pasukannya pada Perang Kapahaha melawan VOC Belanda pada 1636 hingga 1646.

Benteng Kapapaha merupakan sebuah benteng alami berupa bukit batu terjal di hutan Morella. Namun, saat itu, pasukan Telukabessy kalah bertempur dalam mempertahankan Benteng Kapapaha sehingga jatuh ke tangan Belanda. Untuk menandai kekalahannya maka pasukan pun saling mencambuk menggunakan lidi sampai penuh darah. Usai saling pukul, pasukan pun diceritakan saling berpelukan dan berikrar untuk saling bertemu dan mengingat kembali momen perjuangan tersebut setiap 7 Syawal.

Tradisi tersebut juga selalu menarik perhatian masyarakat dan wisatawan. Diselenggarakan setiap tahun, tradisi ini juga jadi sarana edukasi dan hiburan. Apalagi penyelenggaraannya dikemas dalam acara seremonial yang berisi petuah dan cuplikan adegan para pejuang dalam melawan penjajah. Bahkan pukul manyapu sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.