Pemerhati sosial dan politik, Sholihin MS, melontarkan kritik tajam terhadap figur politik yang belakangan kerap disorot publik, yakni KDM. Dalam sebuah tulisan yang beredar luas di berbagai kanal, Sholihin menyebut bahwa gebrakan KDM hanyalah ilusi keberpihakan kepada rakyat, namun sejatinya menyimpan agenda dan karakter yang bertolak belakang dengan nilai-nilai kebenaran dan moral Islam.
Sholihin menilai, sejak awal, KDM menunjukkan kedekatan dan kekaguman kepada keluarga mantan Presiden Jokowi. Ia bahkan menyebutkan bahwa “lingkaran Jokowi” merupakan simbol kebatilan, kebusukan, dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai kebenaran.
“Siapa pun yang masuk ke dalam lingkaran Jokowi akan ikut membusuk, termasuk KDM yang sejak awal memang sudah islamofobia seperti Jokowi,” tegas Sholihin dalam pernyataan kepada Radar Aktual, Ahad ,(13/7/2025).
Dalam tulisannya, ia juga mengutip beberapa tokoh nasional yang disebut ikut membela kebatilan setelah bergaul dengan lingkaran kekuasaan, seperti YM, YIM, NGBLN, hingga FH.
Sholihin lalu memaparkan lima alasan utama mengapa umat Islam tidak boleh menjadikan KDM sebagai panutan:
1. Akidah KDM Diragukan
Menurut Sholihin, akidah KDM tidak jelas sebagai seorang Muslim sejati. Ia bahkan menyebut kemungkinan status KDM sebagai kafir atau musyrik merujuk pada Surah Al-Bayyinah ayat 5.
2. Pembela Kebatilan
Sholihin menilai KDM hanya akan membela hal-hal yang sesuai dengan kepentingannya dan lingkaran budayanya, bukan berdasarkan kebenaran.
3. Berpihak kepada Oligarki
Ia juga menyebut KDM sebagai bagian dari jaringan oligarki taipan. “Bohong jika pembela oligarki benar-benar mencintai rakyat,” tegasnya.
4. Bersikap Otoriter
Tindakan sepihak mengganti nama RSU Al-Ihsan tanpa musyawarah dengan DPRD atau tokoh masyarakat, menurut Sholihin, mencerminkan karakter otoriter dan arogan KDM.
5. Islamofobia
Sholihin menyinyalir KDM adalah sosok yang tidak nyaman dengan ulama garis lurus, simbol-simbol Islam, dan bahkan menghalangi kebenaran. Ia menyebut karakter seperti ini haram dijadikan panutan oleh umat Islam.
Sebagai penutup, Sholihin mengutip ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits yang menekankan pentingnya memilih pemimpin dan panutan dari kalangan orang beriman yang jujur dan tidak berpihak kepada kebatilan.
“Kebenaran tidak akan bersatu dengan kebatilan. Jangan sampai umat Islam tertipu oleh pencitraan yang justru membawa kepada kehancuran akidah dan moral,” pungkasnya.












