Sesuai tagline Ormas Gerakan Rakyat, Gotong Royong untuk Indonesia. Tentu bukan sekadar tagline. Mengandung makna amat dalam. Semangat dan jiwa gerakan bersama Ormas Gerakan Rakyat untuk Indonesia.
Demikian pula bila menjadi partai politik tentu menjadi pertimbangan Ormas Gerakan Rakyat bertransformasi. Gotong royong menjadi nilai, budaya dan perilaku setiap insan Partai Gerakan Rakyat dalam mengambil setiap keputusan dan kebijakan partai.
Gotong royong yang membuat Partai Gerakan Rakyat menjadi unik. Bahkan menjadi partai terunik di Indonesia. Satu-satunya partai yang menjadikan gotong royong sebagai napas partai untuk benar-benar membela rakyat. Bukan menjadikan rakyat sebagai komoditas politik terutama saat Pemilu.
Inilah yang selalu dicontohkan oleh tokoh inspiratif Ormas Gerakan Rakyat, Anies Baswedan. Contohnya Perkumpulan AksiBersama yang diluncurkan 14 Mei 2025 lalu.
AksiBersama bukan sekadar perkumpulan. Benar-benar unik. Launchingnya saat karya nyata berupa jembatan Titian Persatuan di Kampung Cikembang, Desa Cihanjuang, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten telah menjadi karya nyata. Bukan omon-omon.
Biasanya launching sebuah perkumpulan atau organisasi penuh dengan kegiatan seremonial yang menjemukan. Ini launchingnya dengan karya nyata.
Keunikan lainnya yang jarang kita jumpai di sebuah perkumpulan. Struktur organisasi. Perkumpulan AksiBersama tanpa struktur. Meski sebarannya sudah se Indonesia. Benar-benar sebuah gerakan bersama untuk karya nyata menyambungkan harapan rakyat.
Itu pula mungkin harapan Anies Baswedan jika Ormas Gerakan Rakyat bertransformasi menjadi partai politik. Unik. Berbeda dari partai politik yang ada di Indonesia. Nilai, budaya dan perilaku Partai Gerakan Rakyat berbeda dengan nilai, budaya dan perilaku partai politik yang ada saat ini.
Bila sama. Penulis yakin Partai Gerakan Rakyat akan menjadi partai gurem. Partai suara “nasakom” alias suara bernasib satu koma. Tidak laku ‘dijual’ karena hanya mengandalkan ketokohan Anies Baswedan belum cukup. Fakta dilapangan, perilaku pemilih makin transaksional.
Oleh karenanya penulis skeptis dengan bertanya untuk apa tokoh inspiratif Ormas Gerakan Rakyat, Anies Baswedan merestui transformasi menjadi partai politik bila nilai, budaya dan perilaku sama saja dengan partai politik yang ada hari ini.
Bukankah keunikan seperti yang dicontohkan melalui Gerakan Indonesia Mengajar, Turun Tangan dan AksiBersama seharusnya menginspirasi Ormas Gerakan Rakyat dalam bertransformasi menjadi partai politik.
Salahsatu keunikan andai, sekali lagi, andai Ormas Gerakan Rakyat bertransformasi menjadi partai politik adalah soal pencalegan dan strategi pemenangan calon anggota legislatif Partai Gerakan Rakyat.
Kekuatan Partai Gerakan Rakyat bukan pada kekuatan finansial karena biaya politik pencalegan amat teramat mahal dan Partai Gerakan Rakyat tidak punya uang untuk head to head lawan caleg kaya dan caleg incumbent. Kekuatan Partai Gerakan Rakyat adalah gerakan gotong royong telah menjadi napas bagi lolosnya calon anggota legislatif dari Partai Gerakan Rakyat.
Amat berbeda sekali dengan partai politik yang ada di Indonesia saat ini. Banyak sekali lawan. Teman separtai menjadi lawan. Apalagi berbeda partai. Saling sikut dan gesek sesama kawan dan lawan.
Partai Gerakan Rakyat harus berani tampil beda. Tidak ada persaingan sesama anggota partai. Lawan diminimalisir hanya beda partai. Sesama anggota partai di Partai Gerakan Rakyat bersatu untuk mencapai kemenangan bersama.
Bisa? Bisa kalau nilai, budaya dan perilaku Partai Gerakan Rakyat disepakati bersama dengan semangat gotong royong. Semangat menang bersama. Semangat besar bersama.
Kita ambil contoh, jumlah Daerah Pemilihan (Dapil) DPR RI ada 84 dapil yang tersebar di 38 provinsi. Di setiap dapil, akan dipilih sejumlah anggota DPR RI, dengan jumlah total anggota DPR RI sebanyak 580 orang. Setiap dapil memiliki jumlah kursi yang berbeda-beda, berkisar antara 3 hingga 10 kursi.
Bila semangat menang dengan semangat gotong royong dari 84 dapil DPR RI. Taruhlah 50 persen dari jumlah dapil memperoleh minimal 1 kursi maka total perolehan kursi DPR dari Partai Gerakan Rakyat sebanyak 42 kursi atau 7,2 persen dari total jumlah anggota DPR.
Apakah bisa? Tentu saja bisa. Asal nilai, budaya dan perilaku insan Partai Gerakan Rakyat benar-benar dilaksanakan secara konsekuen dengan semangat gotong royong untuk menang dan besar bersama. Partai Gerakan Rakyat menjadi alternatif dan harapan ditengah rakyat sudah bosan dan muak dengan perilaku partai politik yang ada sekarang.
Selebihnya penulis mengucapkan Wallahua’lam bish-shawab.
Bandung, 21 Muharram 1447/17 Juli 2025
Tarmidzi Yusuf, Kolumnis












