Reliji  

Pacaran Yang Diridhoi Allah, Adakah?

New Stage of Life

Seorang pemuda dari Kufah yang dikenal karena kezuhudannya pergi menjenguk sahabatnya yang sedang sakit. Dalam perjalanan, ia berpapasan dengan Afirah, gadis cantik pujaan desa. Pertemuan itu membuatnya jatuh hati, dan rupanya Afirah pun merasakan hal yang sama.

Dengan tekad yang bulat, pemuda yang akrab disapa Zahid ini memberanikan diri menemui orang tua Afirah untuk melamarnya. Keluarga Afirah merasa senang karena mengetahui ketakwaan Zahid.

Namun, kabar mengejutkan datang—ayah Afirah ternyata telah menjodohkannya dengan sepupunya. Zahid kaget mendengar hal tersebut, begitu pula Afirah.

Zahid pulang dengan hati remuk, menyadari bahwa cintanya tak bisa terwujud. Kesedihan itu membuatnya jatuh sakit. Mengetahui kabar tersebut, Afirah pun mengirimkan sepucuk surat kepadanya.

“Kekasih hatiku, Zahid, bila kau mau, aku akan menunjukkanmu jalan menuju kamarku, dan kita bercinta di sini. Atau kau bisa menunjukkan jalan kepadaku agar aku bisa menemuimu, dan kita becinta di sana. Afirah.”

Zahid menangis ketika membaca surat tersebut. Ia pun membalas, “Assalamu ‘alaik. Mengenai ajakanmu, maaf aku tak bisa menerimanya. Aku tak ingin cintaku mengantarkanku pada murka Allah. Karena cinta yang mengantarkan pada murka Allah akan menghalangi kita untuk bisa bersama di Surga. Zahid.”

Afirah pun menitikkan air mata dan memohon ampun kepada Allah setelah membaca surat dari Zahid.

Kisah yang diangkat oleh Habiburrahman El Shirazi dalam karyanya Di Atas Sajadah Cinta ini mengundang pertanyaan: masihkah ada pasangan seperti Zahid dan Afirah di masa sekarang?

Pasangan yang menjaga cintanya agar tetap suci, tak ternodai oleh nafsu duniawi. Masih adakah yang mengatakan “aku takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala” ketika diajak untuk bemaksiat oleh orang yang dicintainya?

Sungguh, sangat jarang kita temui orang-orang yang berusaha menjaga kesucian cintanya; mereka yang memastikan cintanya tetap berada di jalan yang benar, layaknya Nabi Yusuf Alaihissalam. Beliau menolak ajakan Zulaikha untuk berbuat maksiat, meski godaan begitu besar, demi tidak melanggar larangan Tuhannya—sebagaimana kisahnya diabadikan dalam Al-Qur’an.

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (23) [يوسف: 23[

“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf u tinggal di rumahnya menggoda Yusuf u untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf u berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung.” (QS: Yusuf: 23).

Sesungguhnya, cinta adalah anugerah ilahi. Cinta sejatinya suci. Namun, di zaman sekarang, banyak yang menjadikannya alasan untuk bermaksiat.

Tak sedikit wanita rela melepas kehormatannya kepada lelaki yang bukan suaminya, hanya karena nafsu yang dibungkus rapi dengan label “cinta”. Mereka menjadikan cinta sebagai kambing hitam untuk membenarkan dosa-dosa mereka.

Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan ketika jatuh cinta, tetapi belum siap menapaki jenjang pernikahan?

Sebagai orang beriman, langkah terbaik adalah tidak mengungkapkan cinta itu kepada siapa pun—terlebih kepada orang yang menjadi tujuan cinta tersebut.

Dengan cara ini, kita dapat meminimalisir godaan melakukan hal-hal yang diharamkan agama, seperti pacaran, berkhalwat, bahkan zina. Wal ’iyâzhu billâh.

Jika kita mau berpikir jernih, pacaran sejatinya adalah hubungan yang hampir pasti berakhir. Ada dua kemungkinan:

Berpisah. Hubungan putus di tengah jalan, entah dengan cara baik atau buruk.

Menikah. Hubungan berubah status menjadi pernikahan—yang artinya, pacaran itu sendiri sudah berakhir, karena pernikahan berbeda dari pacaran.

Kalau memang sudah siap menikah, mengapa harus membuang waktu, tenaga, uang, bahkan perasaan untuk hubungan tak jelas bernama “pacaran”?

Bukankah lebih terhormat bila seorang lelaki mendatangi orang tua sang wanita dan melamarnya untuk dijadikan istri? Langkah ini jauh lebih jantan dan bertanggung jawab dibanding sekadar menyatakan cinta lalu memintanya menjadi pacar.

Melamar berarti siap memikul amanah besar sebagai seorang suami, sementara pacaran sering kali hanya dibangun tanpa komitmen dan tanggung jawab—bahkan tak jarang hanya didorong oleh nafsu semata.

Terlebih, ikatan pernikahan bukanlah ikatan sehari-dua hari, melainkan ikatan yang berlaku hingga akhirat kelak. Inilah “pacaran” yang diridai Allah Subhanahu Wata’ala.

Semoga dengan menjaga hati dan kehormatan, kita termasuk dalam golongan tujuh orang yang akan mendapat naungan Allah pada hari kiamat, sebagaimana disabdakan oleh Nabi ﷺ.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Dari Abu Hurairah ra. Nabi ﷺ bersabda; “Tujuh orang akan dinaungi oleh Allah di hari tak ada naungan selain naungan-Nya (hari kiamat). Yaitu, pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, lelaki yang hatinya tertaut pada masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, lelaki yang diajak bermaksiat oleh perempuan berpengaruh nan cantik namun ia berkata “Aku takut kepada Allah.”  {HR. Bukhari Muslim}.*