News  

Anggota DPR Terus Menari-nari di Atas Penderitaan Rakyat yang Hampir Mati Tercekik

Rezim Prabowo tak ubahnya rezim Jokowi : para pejabatnya bisanya hanya jadi algojo pembunuh rakyat sendiri secara perlahan.

Di satu sisi rakyat terus dicekik, darah dihisap, semua saluran pendapatan sekecil apa pun terus dipalak dengan dalih wajib bayar pajak, sementara para pejabat korup hidup makmur, korupsi terus merajalela, fasilitas negara terus mengalir, gaji mereka pun terus naik tanpa kerja nyata.

Di satu sisi uang negara yang ribuan triliun terus jadi bancakan para pejabat korup, disalahgunakan Jokowi, keluarganya dan kroni-kroninya tetapi dibiarkan saja tanpa tersentuh hukum, sementara gaji guru dan pensiunan yang telah berjasa bagi bangsa dan negara malah diungkit dianggap sebagai beban negara. Sri Mulyani itu seorang pengecut yang beraninya hanya kepada rakyat kecil, tapi kepada para koruptor, terutamanya keluarga Jokowi seperti tikus menghadapi kucing.

Bahkan demi menghimpun dana untuk menyantuni para pejabat korup dan bahkan sudah jadi pengkhianat bangsa, sang algojo wanita, Sri Mulyani berani membuat fatwa sesat kalau bayar pajak sama dengan bayar zakat dan wakaf.

Jika Sri Mulyani seorang patriot sejati, lakukan 5 perkara di bawah ini :

Pertama, Usut dana bansos yang telah digunakan Jokowi pada tahun 2024 yang jumlahnya mencapai 500 triliun

Kedua, Usut seluruh kebocoran anggaran negara, khususnya APBN yang menghilang tanpa jejak

Ketiga, Usut pengelolaan berbagai kekayaan sumber daya alam, ke mana tuh larinya uang ribuan triliun

Keempat, Usut seluruh pejabat era Jokowi yang telah menyalahgunakan berbagai dana dan kekuasaan negara

Kelima, Jangan lagi memalak rakyat kecil dengan dalih pajak, atau zakat, jika para koruptor bisa mengembalikan uang yang telah dicurinya, cukup untuk menutup APBN bahkan seharusnya bisa mensejahterakan rakyat

Jika Sri Mulyani masih mengutak-atik mencari dana dari rakyat l, sebaiknya mundur saja sebagai Menkeu, tidak perlu Menteri seorang Professor, yang lulusan SD juga bisa melakukan itu.

Bertindaklah bijak, cerdas, berhati nurani dan punya empati dan kepedulian kepada rakyat. Jangan bisanya terus menindas rakyat, jika itu yang dilakukan apa bedanya Sri Mulyani dengan para Preman jalanan.

Oleh : Sholihin MS (Pemerhati Social dan Politik)

Bandung, 27 Shafar 1447