Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Iwan Setiawan menilai demonstrasi yang berujung kerusuhan pada Senin (25/8/2025) ada kepentingan politik lain. Pasalnya, pada unjuk rasa kemarin ada motor yang dibakar hingga pemukulan terhadap warga.
“Kalau saya lihat aksi kemarin memang sengaja dibuat anarkis dan ricuh. Bisa dibilang di aksi kemarin itu ada kepentingan politik juga yang menumpang,” kata iwan kepada Inilah.com di Jakarta, Selasa (26/8/2025)
Iwan menjelaskan, aksi demonstrasi memang dijamin oleh UU nomor 9 tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum. Namun ia menyoroti, jangan sampai aksi tersebut berujung anarkis dan merusak fasilitas umum.
“Bahkan sampai membakar motor warga sipil di jalanan. Menurut saya ini sudah masuk kategori aksi provokatif yang ingin memancing kericuhan yang lebih besar lagi,” ujarnya menerangkan.
Aksi unjuk rasa di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (25/8/2025), berujung ricuh dan kerusuhan melebar ke berbagai titik yang menimbulkan keresahan warga sekitar.
Seperti yang terjadi di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat, diduga oknum massa membakar sebuah motor dan memukuli warga tanpa ada sebab. Kronologinya, ada pengendara yang melintasi Halte Petamburan, lalu ada sejumlah oknum demonstran memukul kemudian merebut motornya untuk dibakar.
Berdasarkan video yang beredar di sosial media, massa yang menolak kenaikan tunjangan anggota DPR itu juga membakar motor yang diduga milik polisi.
“Ini ada kerusakan kendaraan bermotor milik polisi teman-teman. Bahaya, bahaya bisa meledak ini bang. Ini motor Patwal habis dibakar,” kata seseorang pria dalam video tersebut. {sbr}












