News  

Geng Solo Tunggangi Kerusuhan, Kudeta Terhadap Prabowo Gagal Total

Kerusuhan Jakarta (IST)

Pemerhati sosial dan politik, Sholihin MS, mengungkap analisis tajam terkait kerusuhan yang belakangan mengguncang stabilitas nasional. Menurutnya, gelombang aksi anarkis yang terjadi bukanlah sekadar reaksi spontan rakyat, melainkan sudah ditunggangi oleh “Geng Solo” yang dikendalikan langsung oleh mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama putranya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Sholihin menilai, tujuan utama gerakan tersebut adalah upaya kudeta politik untuk menggoyang pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. “Kerusuhan ini bukan murni, ada operasi besar yang dimainkan oleh Jokowi, Gibran, dan jaringan mereka. Mereka ingin menciptakan kekacauan agar publik kehilangan kepercayaan pada pemerintah. Targetnya jelas: kudeta terselubung,” tegas Sholihin kepada Radar Aktual, Senin (8/9/2025).

Dalam analisis Sholihin, aksi kerusuhan diskenariokan agar aparat keamanan terjebak pada tindakan represif terhadap rakyat. “Aparat dihajar opini publik karena tindakan brutalnya, padahal itu semua jebakan. Dengan rakyat menjadi korban, Jokowi dan Gibran berharap gelombang kemarahan rakyat makin meluas, sehingga delegitimasi terhadap Prabowo tercapai,” katanya.

Namun, Sholihin menilai, skenario itu gagal total. Publik justru mulai melihat adanya rekayasa politik kotor. “Sayang sekali, operasi kudeta ini keburu ketahuan. Rakyat tahu siapa dalangnya. Geng Solo ketahuan bermain di balik layar,” ujarnya.

Meski kerusuhan berujung kegagalan, Sholihin menekankan bahwa tuntutan rakyat terhadap perubahan tidak bisa dihapus begitu saja. “Gerakan rakyat lahir dari rasa muak terhadap kebobrokan rezim. Jokowi dan DPR sudah tidak punya legitimasi moral. Setiap jalur kebenaran dan hukum sudah dimatikan. Inilah kenapa rakyat terus bergerak,” ungkapnya.

Ia menambahkan, walaupun Jokowi dan Gibran menggunakan segala cara untuk mengendalikan situasi, aspirasi rakyat tidak bisa dibungkam. “Jangan kira dengan brutalitas aparat lalu rakyat menyerah. Justru api perlawanan semakin besar,” kata Sholihin.

Lebih jauh, Sholihin menyerukan agar aparat penegak hukum tidak menutup mata. Ia menilai Jokowi, Gibran, dan Geng Solo seharusnya diproses hukum sebagai pelaku makar terhadap pemerintahan yang sah. “Sebagai pihak yang menunggangi kerusuhan, mereka pantas dijebloskan ke penjara. Jangan beri ampun, ini sudah makar. Jika hukum masih ada, Jokowi dan Gibran harus dihukum berat,” tegasnya.

Sholihin juga mengingatkan, Gibran tidak boleh dilepaskan dari tuntutan hukum hanya karena statusnya sebagai wakil presiden. “Jabatan publik bukan tameng untuk kebal hukum. Gibran terlibat, Gibran harus ikut bertanggung jawab,” ujarnya lantang.

Dalam penilaiannya, situasi saat ini sudah sangat kritis. “Kebobrokan rezim Jokowi dan DPR sudah tidak tertolerir lagi. Jika jalur hukum dan kebenaran yang lurus terus ditutup, maka negara memang sudah runtuh. Indonesia tinggal nama saja, tapi tanpa roh keadilan,” pungkasnya.

Sholihin menekankan bahwa hanya keberanian Prabowo dan aparat hukum yang bisa menyelamatkan bangsa dari skenario gelap ini. Tanpa langkah tegas, ia khawatir Indonesia hanya akan menjadi negara boneka yang dikendalikan oligarki lama.