Operasi Kambing Hitam dan ‘Kudeta’ Merangkak Yang Gagal

Dugaan kuat ada operasi kambing hitam pasca kerusuhan Agustus kelabu. TNI kambing hitamnya. Intel BAIS (Badan Intelijen Strategis) milik TNI sasaran tembaknya. Intel tentara yang ditangkap polisi dijadikan opini menyerang TNI terlibat di kerusuhan meski TNI membantah.

Semua tahu pemicu membesarnya unjuk rasa 25 sampai 31 Agustus 2025 menjadi kerusuhan Agustus kelabu. Salahsatunya karena pengemudi ojek online Affan Kurniawan tewas dilindas oleh kendaraan lapis baja milik Brimob. Tidak sedikit pengamat menyebut sebagai provokasi.

Ditenggarai ada provokator dan perusuh. Penulis menyebutnya massa “binaan” yang diduga kuat “peliharaan” aparat tertentu. Memprovokasi massa unjuk rasa untuk bertindak anarkis dan melakukan penjarahan. Affan Kurniawan menjadi korban provokasi yang memicu ledakan emosi massa.

Benar saja. Unjuk rasa Agustus kelabu membesar dan meluas. Konon massa “binaan” disebar hingga ke kota-kota besar di Indonesia. Bukan hanya Affan Kurniawan yang tewas. Ada 10 orang lainnya yang menjadi korban tewas akibat represifnya aparat keamanan. 20 orang hilang. Ratusan terluka.

Kerusuhan dan penjarahan terjadi dimana-mana. Mengingatkan kita peristiwa tahun 1998. Polanya sama. Dulu Tim Mawar menjadi kambing hitam. Prabowo sasarannya. Jenderal yang bermain dalam kerusuhan 1998 sudah sering publik sebut. Sekarang jenderal yang dimaksud wara-wiri bertemu Prabowo di Istana.

Sekarang sama. Tentara lagi-lagi jadi kambing hitam. Isu TNI kembali ke barak kembali menjadi isu yang dimainkan. Tengoklah tuntutan 17 + 8. Padahal sejak era reformasi, TNI telah dilucuti. Koq tiba-tiba tentara disuruh kembali ke barak. Sementara tuntutan copot Kapolri hilang dari tuntutan.

Sehingga muncul spekulasi ada operasi dari kekuatan politik tertentu dengan menggunakan organisasi sipil dan para buzzer untuk menggeser dugaan keterlibatan Geng Solo yang ada di Polri dan TNI menjadi dugaan keterlibatan intelijen tentara.

Hal ini diperkuat dengan fakta. Petinggi polisi dan petinggi tentara saat ini masih merupakan warisan presiden sebelumnya dan publik menyebutnya sebagai bagian dari Geng Solo.

Asumsi ini diperkuat saat keputusan Panglima TNI men-“stafsus”-kan Pangkogabwilhan I, Letjen (TNI) Kunto Arief Wibowo dianulir Presiden Prabowo. “Distafsuskannya” Letjen Kunto Arief Wibowo setelah orangtuanya, Wakil Presiden ke-6 dan Mantan Panglima ABRI, Try Sutrisno ikut mendukung pemakzulan anak haram konstitusi.

Sementara ada kesan kuat polisi melindungi Jokowi dalam dugaan skandal ijazah palsu yang membuat Jokowi marah kepada Roy Suryo dan kawan-kawan. Kasus dugaan ijazah palsu Jokowi hingga kerusuhan Agustus kelabu masih menjadi perbincangan publik.

Tuntutan copot Kapolri yang sempat menggema di tengah-tengah aksi unjuk rasa pasca dilindasnya Affan Kurniawan oleh Brimob redup. Isunya digeser. Tentara kembali ke barak.

Beberapa media, organisasi sipil dan buzzer mengalihkan isu dugaan intelijen tentara memprovokasi massa sehingga terjadinya kerusuhan Agustus kelabu.

Sulit untuk tidak menyebut peristiwa pelindasan pengemudi ojek online Affan Kurniawan oleh Brimob sebagai provokasi dan diterjunkannya massa “binaan” menyerbu markas Brimob, Polisi sektor, halte-halte dan gedung DPRD dibakar massa serta penjarahan sebagai skenario kerusuhan seperti tahun 1998.

Targetnya tentu saja agar unjuk rasa Agustus kelabu membesar dan meluas sehingga tuntutan Presiden Prabowo mundur seperti disuarakan Laskar Cinta Jokowi. Ini pula yang memperkuat dugaan adanya skenario penggulingan Presiden Prabowo melalui peristiwa Agustus kelabu.

Andai saja Presiden Prabowo tidak menunda kunjungan ke China. Semula mulai 31 Agustus 2025 menjadi hanya kunjungan sehari ke China pada tanggal 3 September 2025. Ceritanya akan lain. Massa tak terkendali. Kerusuhan dimana-mana. Pembenaran pelengseran Prabowo.

Pasalnya telah beredar seruan aksi unjuk rasa lanjutan. Seruan aksi 1 hingga 5 September 2025. Saat itulah diprediksi aksi unjuk rasa akan benar-benar mencekam dan kerusuhan terjadi dimana-mana. Berpotensi menjadi arena penggulingan Presiden Prabowo. Sementara Prabowo sedang berkunjung ke China dan digantikan oleh anak haram konstitusi.

Kalaupun tidak sampai skenario penggulingan Presiden Prabowo. Setidaknya akan menjadi kredit poin bagi anak haram konstitusi karena dianggap mampu meredam gejolak massa yang marah dan anarkis dalam peristiwa Agustus kelabu sebagai bagian dari skenario “kudeta” merangkak.

Sehingga publik tidak perlu lagi meragukan kemampuan anak haram konstitusi. Buktinya jelas! Bisa meredam peristiwa Agustus kelabu. Bukan sekadar cuma bisa bagi-bagi sembako dan bertemu ojol-ojolan. Tidak kalah dengan Presiden Prabowo yang militer dan jenderal itu.

Sialnya Geng Solo, skenario itu terbaca oleh publik dan Presiden Prabowo. Kini, sibuk mencari kambing hitam. Cuci tangan. Persis gaya PKI; lempar batu sembunyi tangan.

Bandung, 15 Rabiul Awwal 1447/8 September 2025
Tarmidzi Yusuf, Kolumnis