News  

Gawat! Jika Benar Jenderal Diduga Terlibat Insiden KM50 Bakal Jadi Menteri dan Kapolri

Namanya juga gosip. Bisa benar, bisa juga salah. Beredar gosip jenderal yang diduga terlibat pembantaian dan pembunuhan 6 Laskar FPI di KM 50 bakal jadi menteri dan Kapolri.

Isu jenderal pembantai dan pembunuh 6 Laskar FPI jadi Kapolri konon namanya disodorkan saat tuntutan demonstran agar Presiden Prabowo mencopot Kapolri, Listyo Sigit Prabowo. Desakan massa tersebut terjadi ketika kerusuhan pada aksi unjuk rasa 25-31 Agustus 2025. Sedangkan jenderal kedua yang bakal jadi menteri menjadi gosip setelah Presiden Prabowo melakukan reshuffle jilid dua.

Dimana nurani Presiden Prabowo andai gosip itu benar-benar terjadi. Tidak bisa dibayangkan betapa sakit hatinya ummat Islam khususnya FPI pimpinan Habib Rizieq Shihab. Aktor intelektual, dua orang jenderal yang diduga kuat pembantai dan pembunuh 6 Laskar FPI seharusnya diusut dan diadili malah masuk Kabinet Merah Putih.

Itu sama halnya Presiden Prabowo membuka front terbuka dengan FPI. Bahkan Habib Rizieq Shihab sudah mengeluarkan ultimatum. Bila jenderal dimaksud jadi Kapolri dan menteri, Habib Rizieq Shihab bersama jutaan pendukungnya bakal mengempung DPR dan Mabes Polri. Kondisi ini yang diinginkan Geng Solo. Chaos. Peta jalan “kudeta” merangkak terbuka lebar.

Presiden Prabowo bakal kehilangan dukungan dari ummat Islam khususnya Habib Rizieq Shihab yang berhasil menggerakkan jutaan massa ketika menggelar Aksi Bela Islam tahun 2016-2017 silam.

Padahal Presiden Prabowo perlu dukungan ummat Islam ditengah makin menguatnya isu dugaan operasi “kudeta” merangkak yang konon dioperatori oleh Geng Solo. Targetnya penggulingan Presiden Prabowo diganti anak haram konstitusi.

Padahal posisi Presiden Prabowo tidak kuat-kuat amat. Walaupun Presiden Prabowo didukung 80 persen partai parlemen. Bukan jaminan Presiden Prabowo bisa bertahan menghadapi “gempuran” Geng Solo. Peristiwa Agustus kelabu contohnya. Presiden Prabowo diisolasi.

Operasi “kudeta” merangkak konon sedang berjalan. Didesain tidak melalui parlemen. Serupa tapi tak sama dengan penggulingan Presiden Soeharto di tahun 1998. Dipaksa mundur melalui “people power” yang digerakkan Geng Solo dengan menumpang massa aksi ummat Islam.

Presiden Prabowo akan jatuh melalui hura-hara politik seperti demonstrasi di Nepal yang menewaskan 25 orang. Rezim Nepal jatuh. Demonstrasi Agustus kelabu menelan korban jiwa 11 orang. Presiden Prabowo bakal jatuh jika terjadi demonstrasi besar-besaran pasca Agustus kelabu.

Masih belum sadarkah Presiden Prabowo melakukan “bunuh diri” politik. Masuk jebakan Geng Solo. Setelah peristiwa Agustus kelabu. Presiden Prabowo masuk jebakan Geng Solo dengan mengangkat Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan, menteri urat nadinya negara.

Akankah untuk kesekian kalinya Presiden Prabowo masuk perangkap Geng Solo? Diadu domba dengan ummat Islam. Mengangkat jenderal yang diduga terlibat pembantaian dan pembunuhan 6 Laskar FPI menjadi Kapolri dan menteri. Tidak percaya? Silahkan cermati. Jangan lengah. Waspada!

Bandung, 18 Rabiul Awwal 1447/11 September 2025
Tarmidzi Yusuf, Kolumnis