Reliji  

Tanam Amal Baik Berbuah Manis Kebaikan

Allah Ta’ala telah melimpahkan nikmat yang tak terhitung kepada hamba-Nya. Udara yang setiap detik kita hirup, tubuh yang berfungsi sempurna, hingga berbagai fasilitas hidup—semuanya diberikan tanpa harus kita bayar.

Sebagai hamba, kewajiban kita hanyalah bersyukur atas anugerah tersebut. Salah satu wujud syukur adalah dengan berbuat baik dan menyebarkan kebaikan kepada sesama. Dalam Al-Qur’an, kebaikan yang dimaksud adalah amal saleh, yakni perbuatan yang dilandasi iman, dilakukan dengan ikhlas, serta sesuai teladan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Amal saleh bagaikan benih yang ditanam seorang petani. Ia merawatnya, memberi pupuk, dan menyiramnya hingga tiba masa panen. Saat itu, bukan hanya dirinya, tetapi banyak orang yang ikut merasakan hasilnya.

Demikian pula kebaikan seorang Muslim. Setiap amal baik yang ia lakukan sesungguhnya sedang menyiapkan “tanaman” yang kelak berbuah manis. Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, sehingga sekecil apa pun kebaikan—bahkan sehalus biji zarrah—tidak akan terlewat, melainkan tercatat dan akan dibalas dengan kebaikan pula.

Allah berfirman:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Surah al-Zalzalah [99]: 7).

Jangan bingung mencari bentuk kebaikan yang bisa dilakukan, sebab setiap manusia telah Allah bekali dengan beragam nikmat. Tangan dapat digunakan untuk menolong sesama atau bersedekah. Lisan bisa dipakai untuk membaca Al-Qur’an maupun menyampaikan ilmu. Kaki dapat melangkah menuju masjid dan majelis ilmu demi meraih keberkahan. Bahkan pena pun bisa digerakkan untuk menulis kebaikan, menyeru pada kebenaran, serta menolak kemungkaran yang ada di tengah masyarakat.

Dengan semua nikmat itu, masih adakah alasan untuk merasa sulit berbuat baik? Sesungguhnya ladang kebaikan yang Allah sediakan amat luas, sejauh langit dan bumi. Sarana untuk mengerjakannya pun melimpah di sekitar kita, tidak terhitung banyaknya. Waktu 24 jam yang Allah berikan dalam sehari sejatinya cukup untuk menebarkan amal kebaikan dalam kehidupan.

Maka, mulai saat ini mari kita perkuat tekad untuk senantiasa berbuat baik sebagai bentuk syukur kepada Allah Ta’ala. Setidaknya, niat itu selalu hidup dalam jiwa seorang mukmin: bahwa hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin.

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاء وَعْدُ الآخِرَةِ لِيَسُوؤُواْ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُواْ الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُواْ مَا عَلَوْاْ تَتْبِيراً

“Jika kalian berbuat Baik (berarti) kalian berbuat Baik untuk dirimu sendiri,Dan jika kalian berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” (QS: Al Isra : 7).

Semoga benih kebaikan itu dapat tumbuh subur dalam diri setiap Muslim. Hendaknya setiap hamba meyakini bahwa berbuat baik bukanlah perkara sulit, melainkan sesuatu yang ringan dilakukan dan selalu mendatangkan keberkahan.