News  

Institut Marhaenisme 27: Copot Kapolri Listyo Sigit Sekarang! Reformasi Polri Tak Bisa Ditunda

Deodatus Sunda SE (Dendy)

Gelombang tuntutan reformasi kepolisian kembali menggema, menuntut pencopotan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai langkah pertama perubahan. Dalam opini tajam yang ditulis Deodatus Sunda Se, Direktur Institut Marhaenisme 27, kepolisian di bawah Sigit dinilai berubah menjadi “mesin represi” yang gagal menegakkan amanat konstitusi dan justru menindas rakyat.

Rentetan kekerasan aparat sejak demonstrasi 25 Agustus 2025 menjadi pemicu utama. Aksi damai berubah ricuh setelah aparat bertindak brutal, menewaskan sedikitnya sembilan orang, termasuk pengemudi ojek online Affan Kurniawan yang tewas terlindas mobil rantis. Korban lain—dari pelajar hingga mahasiswa—jatuh di berbagai kota, sementara puluhan orang dilaporkan hilang dan ribuan ditangkap.

Video beredar memperlihatkan Sigit memberi perintah tembak di tempat dengan peluru karet jika massa mendekati markas Brimob. “Ini potret nyata Polri di bawah Sigit—haus kekuasaan dan kehilangan kompas moral,” tegas Deodatus dalam pernyataan kepada Radar Aktual, Sabtu (20/9/2025).

Tak hanya itu, Deodatus menyoroti penangkapan aktivis demokrasi oleh Direktorat Siber Polri dengan tuduhan makar, yang dianggap bentuk “penculikan gaya baru.” Pemerintah pun dinilai abai. Presiden Prabowo memilih pendekatan keamanan, memasang sniper dan memperketat pemeriksaan, alih-alih memberikan keadilan bagi korban.

Tragedi ini menambah daftar panjang kasus lama, seperti Kanjuruhan 2022, skandal Ferdy Sambo, hingga kasus narkoba yang melibatkan Irjen Teddy Minahasa. “Presisi yang digembar-gemborkan hanyalah kedok, presisi dalam melindungi bisnis haram dan kepentingan modal,” tulisnya.

Menurut Deodatus, mencopot Sigit adalah “langkah paling masuk akal” untuk membuka jalan reformasi kepolisian sejati. Namun, ia menekankan, pergantian Kapolri hanyalah awal. Reformasi harus menuntut pertanggungjawaban atas seluruh kejahatan aparat, membongkar relasi busuk Polri–modal, dan mengakhiri impunitas.

“Tidak ada kedamaian selama aparat bersenjata bebas membunuh rakyatnya. Reformasi Polri harus dimulai hari ini, dan langkah pertamanya jelas: copot Listyo Sigit Prabowo dari jabatannya sebagai Kapolri,” pungkas Deodatus.