Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana damai 20 poin yang diklaim bisa mengakhiri perang hampir dua tahun di Jalur Gaza. Namun, pengamat sosial ekonomi dan keagamaan Anwar Abbas menilai usulan tersebut tidak akan menyelesaikan konflik Israel–Palestina, melainkan sarat tipu daya politik.
Dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih, Senin (8/9/2025), Trump menyebut rencananya akan membuka jalan bagi gencatan senjata, pembebasan sandera, dan rehabilitasi Gaza. Ia bahkan mengumumkan pembentukan badan transisi bernama Board of Peace yang akan dipimpinnya sendiri dengan melibatkan mantan PM Inggris Tony Blair serta sejumlah pemimpin dunia.
“Sore ini, setelah konsultasi mendalam, saya secara resmi merilis prinsip-prinsip perdamaian kami,” kata Trump.
“Jika kedua pihak menyetujuinya, perang akan segera berakhir, sandera dikembalikan, dan Gaza akan dibangun kembali,” sambungnya.
Namun Trump menegaskan Hamas tidak boleh terlibat dalam pemerintahan Gaza pascaperang. Ia juga mengutip Netanyahu yang menolak keras gagasan pembentukan negara Palestina.
Menanggapi hal ini, Anwar Abbas menilai rencana Trump hanyalah skenario politik yang tidak berpihak pada rakyat Palestina.
“Board of Peace yang dipimpin langsung oleh Trump jelas tidak bisa dipercaya, karena sikap dan pandangan dia tentang Israel dan Palestina akan sangat memengaruhi keputusan badan tersebut,” ujar Buya Anwar dalam keterangannya kepada inilah.com, Selasa (30/9).
Ia mempertanyakan komitmen Amerika jika Gaza berhasil dibangun kembali. “Apakah wilayah itu akan diserahkan kepada negara Palestina? Jawabannya tentu saja tidak, karena Amerika sebagai sekutu utama Israel jelas tidak akan mau menyerahkannya,” tegas Anwar.
Menurutnya, Presiden Indonesia Prabowo Subianto harus menolak jika diajak bergabung dalam Board of Peace. “Bangsa Indonesia yang pernah lama dijajah tentu tidak ingin terjebak dalam tipu daya Trump, Netanyahu, dan konco-konconya,” tambahnya.
Latar Belakang Perang Gaza
Israel melancarkan agresi militer ke Gaza sejak Oktober 2023 dengan dukungan penuh Washington. Hingga kini, lebih dari 66.000 warga Palestina tewas, mayoritas perempuan dan anak-anak, menurut otoritas kesehatan Gaza. Jalur Gaza sendiri menghadapi kehancuran massal, kelaparan akut, dan wabah penyakit akibat blokade.
Trump mengklaim rencananya akan mengubah Gaza menjadi “zona bebas teror” dan membangun kembali wilayah itu dengan dukungan Bank Dunia serta lembaga internasional. Namun skeptisisme muncul dari banyak pihak, termasuk kalangan akademisi dan pengamat di Indonesia, yang menilai rencana ini hanya memperpanjang dominasi Israel di kawasan.(Sumber)












