News  

Projo Adalah Memori Masa Lalu yang Kelam, Prabowo Diminta Tak Hadiri Rakernas VII

Pemerhati politik dan kebangsaan M Rizal Fadillah menilai bahwa organisasi relawan Pro Jokowi (Projo) kini tidak lebih dari “memori masa lalu yang kelam”. Ia menegaskan, Presiden Prabowo Subianto seharusnya tidak menghadiri Rakernas VII Projo yang digelar di Jakarta, karena kegiatan itu dinilai hanya memperkuat kembali bayang-bayang kekuasaan lama di bawah kendali Jokowi.

Dalam tulisannya berjudul “Projo Itu Memori Masa Lalu yang Kelam”, Rizal Fadillah menyoroti bahwa Rakernas tersebut dilaksanakan bertepatan dengan genap satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo. Ia mempertanyakan apakah kehadiran Jokowi dan Projo menjadi bentuk “evaluasi” terhadap kepatuhan Prabowo terhadap Jokowi sebagai “desainer kemenangan” dan “guru politiknya”.

“Projo awalnya hanya relawan untuk kemenangan Jokowi melawan Prabowo saat itu. Lalu bertransformasi menjadi ormas dan tetap menjadi garda terdepan Jokowi. Kini, keberadaannya kembali digunakan untuk mengukuhkan pengaruh Jokowi dalam pemerintahan Prabowo,” tulis Rizal, Selasa (14/10/2025).

Rizal juga mengingatkan bahwa publik menilai Jokowi sebagai “pemimpin perusak bangsa” dan menyerukan agar mantan presiden itu diadili atas berbagai dugaan penyimpangan selama masa kekuasaannya. Ia menyebut bahwa kemenangan Prabowo dalam Pilpres 2024 justru menciptakan “matahari kembar” dalam kepemimpinan nasional, di mana Jokowi masih berusaha mengendalikan Prabowo lewat jaringan loyalisnya.

Lebih lanjut, Rizal menyinggung gerakan Gerakan Aksi Umat Melawan (GAUM) Jawa Barat yang telah mengeluarkan Ultimatum Bandung. Ultimatum itu memberi batas waktu hingga 20 Oktober 2025 agar Prabowo membuktikan kemandirian politiknya, menjalankan aspirasi rakyat, dan berani menegakkan hukum.

“Bentuk konkret dari tuntutan itu adalah Tritura — ganti Kapolri, adili Jokowi, dan makzulkan Gibran. Itu bukti dari semangat reformasi, ketaatan hukum, dan penghargaan terhadap moral serta konstitusi,” tegas Rizal.

Ia menegaskan bahwa Prabowo harus menunaikan Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) untuk membuktikan dirinya berpihak pada rakyat, bukan pada kekuasaan lama.

“Buktikan langkah pertobatan Prabowo dengan tidak menghadiri Rakernas VII Projo di Jakarta. Biarkan Jokowi sekarat sendiri dengan komunitasnya karena Projo adalah memori dari masa lalu yang kelam,” tegasnya.

Di akhir tulisannya, Rizal menutup dengan seruan keras kepada Presiden Prabowo:

“Jangan hadiri Rakernas Projo VII. Jangan menjadi pendukung kepalsuan dalam berpolitik. Jangan khianati aspirasi rakyat. Jangan terjebak dalam permainan culas untuk menginjak-injak harga diri, konstitusi, dan ideologi.”