News  

PBNU Nilai Soeharto dan Gus Dur Pantas Jadi Pahlawan Nasional: Keduanya Punya Jasa Besar!

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur) menyatakan dukungannya terhadap usulan Kementerian Sosial Republik Indonesia kepada Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan untuk menetapkan Presiden Soeharto dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Pahlawan Nasional pada tahun ini.

Menurut Gus Fahrur, bangsa Indonesia perlu belajar dari masa lalu—baik dari kelebihan maupun kekurangannya—untuk membangun masa depan yang lebih bijak dan berkeadaban.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghormati jasa para pendahulunya. Kita perlu belajar dari kebaikan masa lalu dan mengambil hikmah dari kekurangannya,” ujar Gus Fahrur dalam keterangan tertulis, Kamis (6/11/2025).

Ia mengutip kaidah klasik dalam tradisi keilmuan Islam: Al-muhafazhah ‘ala al-qadim ash-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah — menjaga yang lama yang baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik.

Gus Fahrur menilai Soeharto dan Gus Dur memiliki kontribusi besar dalam dua fase sejarah yang berbeda.

“Pak Harto berjasa besar dalam stabilitas nasional dan pembangunan ekonomi. Di masa beliau, Indonesia dikenal dunia sebagai salah satu macan ekonomi baru Asia dengan program pembangunan yang terencana dan stabilitas ekonomi serta keamanan yang tinggi,” jelasnya.

Selain di bidang ekonomi, Soeharto juga disebut berjasa dalam bidang sosial dan keagamaan.

“Pak Harto membangun ratusan masjid di seluruh Indonesia, tercatat sekitar 999 masjid dibangun atas prakarsa beliau. Beliau juga mendorong kerukunan antarumat beragama dan menjaga persatuan nasional pasca pemberontakan G30S/PKI,” tambahnya.

Sementara itu, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), lanjutnya, berjasa besar dalam memperjuangkan demokrasi, pluralisme, dan rekonsiliasi nasional setelah masa reformasi.

“Menetapkan mereka sebagai Pahlawan Nasional bukan berarti meniadakan kritik atas kekurangan yang pernah ada, tetapi bentuk penghargaan atas jasa besar yang telah mereka berikan,” tegas Gus Fahrur.

Ia juga mengapresiasi langkah Kementerian Sosial di bawah Menteri Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang telah memproses sejumlah tokoh dan menyerahkannya kepada Dewan Gelar untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional tahun ini.

“Semoga penetapan ini menjadi momentum rekonsiliasi sejarah dan penguatan nilai kebangsaan. Semua pihak—sipil, militer, maupun ulama—punya andil dalam menjaga Indonesia,” tutup Gus Fahrur.(Sumber)