Bagi penulis tahun 2024 adalah tahun duka cita. Ibarat peribahasa, sudah jatuh tertimpa tangga. Kenapa?
Bukan hendak membuka luka politik. Pilpres 2024 sesungguhnya Anies Baswedan tidak kalah. Tapi dikalahkan oleh tangan-tangan setan kekuasaan. Angka 58 persen sudah dikunci. Hingga lahir presiden omon-omon dan wakil presiden oon.
Kata siapa dikalahkan? Tiga Hakim Mahkamah Konstitusi mengkonfirmasi telah terjadi kecurangan dalam Pilpres 2024. Hanya saja mereka kalah suara, 3 vs 4.
Kecurangan itu diperparah oleh ketiadaan saksi Anies Baswedan di bilik-bilik suara. Partai koalisi pendukung Anies Baswedan tidak serius menyiapkan saksi. Banyak TPS “bolong” tanpa saksi. Mereka lebih mengutamakan saksi pileg daripada saksi pilpres.
Sementara banyak relawan Anies Baswedan yang mau jadi saksi. Mereka terkendala jadi saksi karena regulasi mengatur saksi pilpres harus melalui partai politik.
Padahal partai pengusung Anies Baswedan memperoleh keuntungan politik. Istilahnya coattail effect atau efek ekor jas. Semua partai pengusung Anies Baswedan mengalami kenaikan perolehan kursi DPR.
Masih di tahun 2024, peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga makin menambah duka pendukung Anies Baswedan. Ketika partai-partai pendukung Anies Baswedan di Pilpres 2024 ramai-ramai meninggalkan Anies Baswedan di Pilkada Jakarta dengan alasannya masing-masing.
Anies Baswedan lagi-lagi dijegal oleh tangan-tangan setan kekuasaan. Tidak mendapat dukungan partai politik sesuai yang dipersyaratkan konstitusi.
Namun dibalik duka cita mendalam itu. Sesungguhnya ada hikmah besar yang Allah persiapkan untuk Anies Baswedan dan pendukungnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْراً يُصِبْ مِنْهُ
”Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” [HR al Bukhari].
Salahsatu kebaikan itu tetap bersatunya pendukung Anies Baswedan. Terlihat jelas pasca dikalahkan di Pilpres dan dijegal di Pilkada Jakarta para pendukung Anies Baswedan menantikan dan merindukan sebuah wadah perjuangan untuk mengartikulasikan aspirasi politiknya.
Seperti dikatakan oleh Ketua Umum Gerakan Rakyat, Sahrin Hamid pasca Rapimnas, Juli 2025 lalu. Mempertimbangkan opsi ormas Gerakan Rakyat menjadi partai politik.
Bermetamorfosisnya Gerakan Rakyat menjadi organisasi masyarakat bahkan menjadi partai politik merupakan jawaban atas masa penantian dan kerinduan pendukung Anies Baswedan.
Pendukung Anies Baswedan yang tergabung dalam Ormas Gerakan Rakyat bila pada Rakernas I Gerakan Rakyat, 17-18 Januari 2026 bersepakat memutuskan menjadi partai politik sebagai ikhtiar konstitusional untuk mewujudkan cita-cita bersama Tokoh Inspirasi Anies Baswedan.
Partai Gerakan Rakyat dengan keunikan dan kekhasannya yang berbeda dengan partai politik yang ada di Indonesia saat ini. Dengan keunikan dan kekhasannya itu dapat menjawab masa penantian dan kerinduan rakyat terhadap partai politik yang benar-benar memperjuangkan aspirasi rakyat.
Partai Gerakan Rakyat diharapkan sebagai karpet jingga bagi pendukung Anies Baswedan untuk berjuang bersama rakyat di Pemilu 2029, Insyaallah. Sekaligus menjawab masa penantian yang dirindukan, Anies Baswedan menang Pilpres 2029.
Bandung, 25 Rajab 1447/14 Januari 2026
Tarmidzi Yusuf, Kolumnis












