News  

Banjir Bukan Hukuman, Namun Mengapa Kita Lupa Saat Langit Cerah?

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa…” Ebiet G. Ade.

Lirik di atas adalah cermin lembut untuk kita, bahwa hujan, banjir, gempa, dan segala gejolak alam bukanlah hukuman, melainkan isyarat agar manusia kembali menjaga keseimbangan, merawat bumi, dan mensyukuri kehidupan yang sering kita perlakukan semena-mena.

Sejak 15 Januari hingga hari ini, 23 Januari 2026, Jakarta diguyur hujan deras yang konsisten, kadang disertai angin kencang. Di sejumlah kawasan, permukiman bantaran sungai, kawasan rendah dan padat penduduk, hingga titik-titik rawan genangan, banjir tak terhindarkan. Aktivitas warga terganggu, sekolah diliburkan, akses transportasi tersendat, sebagian rumah terendam, dan tidak sedikit warga yang harus mengungsi sambil menyelamatkan barang seadanya, pakaian, dokumen, dll.

Meski banjir Jakarta bukan cerita baru, namun kali ini yang berbeda dengan sebelumnya adalah volume semakin keras, intensitas hujan terasa lebih ekstrim dan berlangsung lebih lama.

Sepertinya ini terjadi karena ada perubahan serius dalam sistem iklim dan cara kita menata ruang hidup. Fenomena ini pun tidak berdiri sendiri. Di berbagai belahan dunia, cuaca ekstrim semakin sering terjadi, hujan lebat memicu banjir besar, gelombang panas, badai yang tak terduga, dan kekeringan yang meluas.

Dari keadaan ini marilah kita berhenti mengeluh, dan mulai berfikir apa yang ada di balik derasnya hujan.

Perubahan iklim ini bukan omon-omon di seminar, laporan ilmiah, atau perdebatan elit kebijakan. Ini fakta yang kita hadapi, air masuk ke kamar tidur dan ruang keluarga, jalanan lumpuh dan macet, pasar sepi karena distribusi terganggu, dan anak-anak diliburkan dan belajar dirumah, dll.

Kesadaran publik pun bergerak dari wacana menuju kebutuhan konkrit, beradaptasi, memperkuat ketahanan lingkungan, dan memitigasi resiko dengan serius.

Kesadaran ini penting, sebab tanpa perubahan cara berpikir, kita hanya akan terjebak dalam siklus yang sama, kaget saat banjir datang, sibuk saat air naik, lalu lupa ketika langit kembali cerah.

Kondisi ekstrim seharusnya menjadi pemicu percepatan inovasi dalam tata kota dan kebijakan publik. Banjir tidak boleh terus diperlakukan sebagai rutinitas tahunan yang diselesaikan dengan solusi darurat. Kota perlu dibangun dengan pemikiran jangka panjang, jangan lagi ada galian lubang jalan tumpang tindih, buatlah penataan ruang yang berpihak pada lingkungan, pemulihan daerah resapan air, integrasi teknologi prediksi cuaca, penguatan sistem drainase ekologi, serta kebijakan permukiman yang adil dan berkelanjutan.

Ketika ancaman bisa diprediksi, maka respon kita tidak boleh lagi reaktif. Manajemen resiko harus menjadi prioritas, bukan pelengkap. Di sinilah kualitas kepemimpinan diuji, apakah kebijakan berani melampaui kepentingan jangka pendek demi keselamatan generasi mendatang.

Tantangan iklim membuka ruang kolaborasi lintas negara yang semakin penting. Cuaca ekstrim tidak mengenal batas geografis. Banjir di Jakarta terhubung dengan dinamika iklim global, sebagaimana badai di negara lain juga merupakan bagian dari sistem yang sama. Pertukaran ilmu pengetahuan, teknologi mitigasi, sistem peringatan dini, hingga solidaritas kemanusiaan menjadi kebutuhan bersama.

Lebih dari itu, kolaborasi ini menuntut keadilan ekologis. Negara-negara yang paling merasakan dampak sering kali bukan penyumbang terbesar kerusakan lingkungan. Maka tanggung jawab global harus dibagi secara adil dan bermartabat.

Seperti pesan lagu Ebiet G Ade bencana bukanlah kutukan, namun isyarat alam yang mengingatkan manusia agar kembali rendah hati, menjaga keseimbangan, dan mensyukuri nikmat yang sering diabaikan.

Banjir Jakarta hari-hari ini seharusnya tidak berhenti sebagai berita musiman, tetapi menjadi momentum koreksi bersama, sebagai cara kita membangun kota, cara kita memperlakukan lingkungan, dan cara kita memaknai kemajuan tekhnologi dan jaman.

Di tengah genangan air, yang sedang diuji diperlukan kejernihan nurani dan akal sehat. Apakah kita mau belajar dari isyarat ini, atau kembali mengulang kelalaian yang sama?

Oleh: Agusto Sulistio – Pegiat Sosmed.

Kalibata, Jaksel, Jumat, 23 Januari 2026, 07:18 Wib.