Pengacara Ahmad Khozinudin angkat bicara terkait pelaporan dirinya ke Polda Metro Jaya oleh Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis (DHL), dua tokoh yang selama ini dikenal berada dalam barisan yang sama dalam upaya hukum mempertanyakan keaslian ijazah Presiden RI ke-7, Joko Widodo (Jokowi).
Khozinudin menyatakan pelaporan tersebut terjadi tak lama setelah Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis bertemu Joko Widodo di Solo. Ia menilai langkah itu sebagai bagian dari skenario besar untuk memecah belah perjuangan hukum yang selama ini mereka gaungkan bersama.
“Ini bukan sekadar pelaporan biasa. Ini adalah follow up dari rencana jahat untuk memecah belah perjuangan,” kata Khozinudin dalam keterangannya, Kamis (29/1/2026).
Khozinudin mengaku merasa dikhianati. Pasalnya, Eggi Sudjana selama ini dikenal sebagai sosok yang paling keras menyuarakan dugaan ijazah palsu Jokowi. Namun, situasi berubah ketika muncul skema yang disebutnya sebagai pemisahan klaster perjuangan.
Menurut Khozinudin, upaya tersebut dilakukan dengan membagi gerakan ke dalam beberapa klaster, lalu menawarkan jalur restorative justice kepada klaster tertentu. Dampaknya, kata dia, Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis justru memperoleh SP3 atau penghentian perkara.
“Dari klaster satu ditawari restorative justice, lalu keluarlah SP3 bagi mereka. Ini menimbulkan kritik luas, baik di internal maupun di publik,” ujarnya.
Khozinudin menegaskan dirinya merasa didzolimi karena justru dilaporkan saat masih aktif memperjuangkan kasus tersebut.
“Saya sedang berjuang membela rakyat, melawan kedzaliman, membongkar kebohongan. Tapi justru saya dilaporkan oleh orang yang mengaku Ketua dan Sekjen TPUA. Dunia akhirat saya tidak terima,” tegasnya.
Ia bahkan menyebut dirinya dianggap sebagai “batu sandungan” oleh pihak yang ingin menghentikan perkara.
Khozinudin juga mengungkap dugaan adanya upaya sistematis untuk menghentikan kasus, termasuk pendekatan personal kepada sejumlah pihak yang terlibat. Ia menyebut beberapa nama, termasuk Farhat Abbas dan Ade Darmawan, yang diduga melakukan komunikasi kepada pihak-pihak tertentu.
Ia menuturkan cerita tentang percakapan Farhat Abbas dengan rekan-rekannya, yang berupaya membuka jalan agar Khozinudin mau diajak ke Solo.
“Jawaban saya pasti tidak. Saya tidak akan berdamai,” tegasnya.
Bahkan, menurut Khozinudin, penyidik yang memeriksa sempat menyarankan agar perkara dihentikan karena kelelahan. Ia juga menyebut adanya pendekatan terhadap Kurnia Tri Royani oleh penyidik perempuan di luar ruang pemeriksaan.
Khozinudin mengakui sebelumnya telah menyampaikan peringatan keras bahwa siapa pun yang berdamai dengan Jokowi berarti mengkhianati rakyat. Namun, menurutnya, iming-iming SP3 terbukti lebih kuat.
“Rayuan SP3 ternyata lebih memiliki daya magis dibanding peringatan moral yang saya sampaikan,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis belum memberikan pernyataan resmi untuk menanggapi tudingan tersebut. Sementara itu, pelaporan terhadap Ahmad Khozinudin masih bergulir di Polda Metro Jaya dan terus menuai perhatian publik.












