News  

Yusuf Blegur: Lebih Mulia Jadi Petani, Ayo Dukung Kapolri Listyo Sigit Tinggalkan Kekuasaan dan Turun ke Sawah

Yusuf Blegur (IST)

Aktivis dan pengamat kebangsaan Yusuf Blegur melontarkan pernyataan keras sekaligus reflektif menyikapi pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang menyebut lebih baik menjadi petani ketimbang bekerja sebagai “menteri kepolisian”. Menurut Yusuf, pernyataan tersebut bukan sekadar spontanitas, melainkan cermin kegamangan institusional Polri di tengah derasnya kritik publik.

Dalam pernyataan tertulis yang disampaikan dari Bekasi Kota Patriot, Jumat (30/1/2026), Yusuf Blegur menilai profesi petani justru memiliki kemuliaan moral yang jauh lebih tinggi dibandingkan jabatan yang sarat kuasa dan kewenangan.

“Menjadi petani mungkin tidak prestisius dan tidak dibungkus kebanggaan simbolik seperti menjadi anggota Polri. Namun, sulit menemukan petani terlibat korupsi, politik dinasti, oligarki, maupun penyalahgunaan kekuasaan,” tegas Yusuf.

Yusuf menilai pernyataan Kapolri muncul sebagai respons emosional dan defensif terhadap wacana reposisi kelembagaan Polri, termasuk tuntutan agar kepolisian berada di bawah kementerian atau tidak lagi berada langsung di bawah Presiden. Sikap itu, menurutnya, menunjukkan resistensi terhadap evaluasi reformasi Polri yang telah lama disuarakan publik.

Ia mengingatkan, sejak Reformasi 1998, Polri sebagai institusi yang berada langsung di bawah Presiden kerap dikritik karena dinilai menjelma menjadi super body dan sulit disentuh akuntabilitas hukum maupun politik.

“Narasi Kapolri di hadapan Komisi III DPR terkesan menolak refleksi. Padahal kritik publik terhadap kinerja dan kelembagaan Polri bukan hal baru, dan justru harus dijawab dengan pembenahan, bukan perlawanan,” ujar Yusuf.

Namun demikian, Yusuf justru melihat sisi menarik dari pernyataan Listyo Sigit Prabowo yang mengaitkan dirinya dengan profesi petani. Ia menilai, entah disengaja atau tidak, figur petani menjadi simbol perlawanan moral terhadap praktik kekuasaan yang sarat distorsi.

Menurut Yusuf, petani adalah representasi kejujuran, kerja keras, kesederhanaan, dan pengabdian nyata bagi bangsa. Petani tidak membutuhkan jutaan hektare untuk dieksploitasi, tidak bergantung pada kekuasaan, dan tidak hidup dari rente politik.

“Petani hidup dari tanah sepetak, bukan dari kekuasaan sepetak. Mereka menafkahi negeri tanpa korupsi, tanpa membajak pajak, tanpa merusak hutan,” tegasnya.

Yusuf juga menyoroti kuatnya peran opini publik dan kekuatan netizen dalam membentuk citra Polri saat ini, terutama dengan munculnya fenomena no viral, no justice. Menurutnya, suara rakyat tak bisa lagi diabaikan dalam menentukan masa depan institusi kepolisian.

Di akhir pernyataannya, Yusuf Blegur secara terbuka mengajak masyarakat mendukung Kapolri jika memang serius ingin meninggalkan simbol kekuasaan dan menempuh jalan pengabdian yang lebih bersih.

“Ayo dukung Kapolri jadi petani. Pastikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo benar-benar menjadi petani yang jujur, bersih, dan terhormat. Ini bukan soal pribadi, ini soal masa depan negeri,” pungkasnya.