News  

Tingkat Kematian Sangat Tinggi, Indonesia Diminta Hati-hati Penularan Virus Nipah

Dokter medis sekaligus edukator kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Muhammad Fajri Adda’i mengatakan tingkat fatalitas (case fatality rate) virus Nipah tergolong sangat tinggi, yaitu sekitar 40–75 persen, tergantung pada lokasi wabah, kecepatan diagnosis, dan kesiapan sistem kesehatan.

“Kalau Covid kan kecil tuh 0,0 sekian, kalau ini gede mortality rate-nya, jadi harus hati-hati betul. Dan jika betul (kasusnya) meningkat, ya harus hati-hati betul,” tegas Fajri kepada inilah.com saat dihubungi di Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Ia menjelaskan virus Nipah (Nipah virus/NiV) adalah virus zoonotik dari keluarga Paramyxoviridae, genus Henipavirus, yang termasuk virus RNA dengan tingkat patogenitas tinggi. Reservoir alami utama virus ini adalah kelelawar buah (Pteropus), sehingga wabah sangat berkaitan dengan interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan.

Penularan dan mekanisme infeksi virus Nipah dapat terjadi melalui beberapa jalur, yakni transmisi dari hewan ke manusia, terutama melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi air liur atau urin kelelawar, seperti buah atau nira.

“Lalu kontak dengan hewan perantara yang terinfeksi, terutama babi, sebagaimana terjadi pada wabah di Malaysia. Penularan antarmanusia, melalui droplet, sekret pernapasan, atau cairan tubuh, terutama pada kontak erat dan di fasilitas pelayanan kesehatan,” tuturnya.

Masa inkubasi virus Nipah umumnya berkisar 4–14 hari, namun menurut laporan WHO dapat memanjang hingga sekitar 45 hari, yang membuat deteksi dini dan pelacakan kontak menjadi lebih menantang.

Tak hanya itu, Fajri mengungkapkan bila gejala klinis yang dialami sangat bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Keluhan awal dapat berupa demam, sakit kepala hebat, nyeri otot dan kelelahan, mual dan muntah. Pada kondisi yang lebih berat, pasien dapat mengalami gangguan pernapasan akut, penurunan kesadaran, kejang, ensefalitis (radang otak).

“Pada banyak kasus, kondisi dapat memburuk dengan cepat hingga koma dan kematian. Selain risiko kematian, WHO menegaskan sekitar 20 persen pasien yang selamat mengalami sekuel atau gejala sisa jangka panjang, terutama gangguan neurologis,” ungkapnya.

Sekuel ini meliputi gangguan kognitif, kejang berulang, perubahan perilaku, hingga gangguan fungsi saraf yang menetap, sehingga berdampak besar terhadap kualitas hidup dan produktivitas pasien.

Hal ini semakin menegaskan bahwa virus Nipah adalah penyakit yang sangat serius, meskipun jumlah kasusnya relatif jarang. Distribusi geografis virus Nipah terutama ditemukan di Asia Selatan dan Asia Tenggara, khususnya Bangladesh, India (terutama wilayah Kerala), Malaysia, Singapura (kasus terkait wabah Malaysia), Thailand dan negara sekitarnya, yang berisiko karena keberadaan habitat kelelawar buah.

“Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun terapi antivirus spesifik yang terbukti efektif untuk virus Nipah. Oleh karena itu, strategi utama pengendalian adalah pencegahan dengan memutus rantai transmisi, sesuai rekomendasi WHO,” jelas Fajri.(Sumber)