Selevel menteri omongannya asbun alias asal bunyi. Belum apa-apa sudah minta gerai Indomaret dan Alfamart yang sudah masuk ke desa-desa agar ditutup. Alasannya. Sudah ada Koperasi Merah Putih.
Kesannya omongan sang menteri enak didengar. Koperasi Merah Putih berhasil mengalahkan Indomaret dan Alfamart, gerai milik konglomerat. Nanti dulu!
Penulis jadi ingat pepatah tong kosong nyaring bunyinya. Sang manteri hanya membual. Faktanya Koperasi Merah Putih atau lebih tepat Korporasi Merah Putih belum ada apa-apanya karena ada apa-apanya.
Di kampus Ikopin University, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat berdiri megah Indomaret. Persis samping kampus IPDN. Dulunya, itu gerai super market milik Koperasi Keluarga Besar Ikopin University. Kini tinggal kenangan.
Padahal era Presiden Soeharto pernah ada koperasi serupa. Lahir mirip Koperasi Merah Putih hari ini.
Koperasi elit. Koperasi orang atas. Populer kita sebut koperasi top down. Jauh dari prinsip dasar koperasi Indonesia. Dari anggota, oleh anggota, untuk anggota. Yang ada mobilisasi anggota.
Harusnya Prabowo belajar dari kegagalan KUD, Ketua Untung Duluan eh Koperasi Unit Desa era Presiden Soeharto yang sempat booming tahun 1980 sampai 1998.
Koperasi Merah Putih lebih tepat disebut koperasi elit dari elit, oleh elit dan untuk elit. Keanggotaannya tidak jelas. Menterinya ngomong seperti pepatah Sunda, “Ngarawu ku siku”.
Peribahasa Sunda “Ngarawu ku siku” adalah perilaku tamak, serakah, atau rakus. Ungkapan ini mencerminkan Koperasi Merah Putih menginginkan sesuatu melebihi apa yang fakta kita lihat hari ini tentang keberadaan Koperasi Merah Putih.
Bukan kita tidak setuju pembatasan Indomaret dan Alfamart. Setuju sekali. Kita dukung seribu persen. Agar tidak mematikan warung-warung kampung.
Masalahnya apakah Koperasi Merah Putih sudah sekuat Indomaret dan Alfamart? Jawabannya, tong kosong nyaring bunyinya.
Data empirik membuktikan Koperasi Merah Putih yang ada di beberapa kecamatan di Indonesia itu baru sebatas koperasi papan nama. Dengan bangunan khas warna merah putih.
Bangunannya saja tampak keren. Penulis menjumpai beberapa Koperasi Merah Putih baru sebatas koperasi papan nama. Belum ada kegiatan. Bisnis model Koperasi Merah Putih saja belum jelas. Tiba-tiba pesan mobil pickup. Urgensinya dimana?
Sementara Indomaret dan Alfamart kuat modal. Menguasai jaringan distribusi dari hulu ke hilir. Lalu hebatnya Koperasi Merah Putih dimana? Jangan-jangan omongan sang menteri ada udang dibalik impor mobil pickup dari India. Anda tinggal hitung sendiri berapa komisinya? Mana ada yang gratis hari ini!
Menurut Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, “Pembiayaan 105 ribu unit mobil pickup dari India tidak pakai APBN. Bersumber dari pinjaman dari Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara”.
Ngerinya! Mengutip Menteri Keuangan, “Kewajiban saya, setiap tahun akan menyicil pinjamannya Rp 40 triliun selama 6 tahun ke depan,” ujar Purbaya seperti dilansir dari beberapa media saat konferensi pers APBN KiTA, di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (23/2/2026).
Aneh! Tidak pakai APBN tapi dicicil oleh APBN. Lagi-lagi rakyat Indonesia dibodoh-bodohi oleh rezim Prabowo.
Kuat dugaan. Koperasi Merah Putih atau Korporasi Merah Putih sebagai politisasi koperasi untuk persiapan 2029. Ada rumor yang menyebut Koperasi Merah Putih sebagai Posko Pemenangan Prabowo di Pilpres 2029.
Kejar tayang. Kejar modal Pilpres. Koperasi Merah Putih sebagai modus penggalangan dana untuk Pilpres. Kecurigaan itu diperkuat impor 105 ribu unit mobil pickup dari India. Tidak menggunakan APBN tapi dicicil oleh APBN. Aneh tapi nyata! Inilah Indonesia hari ini.
Bandung, 8 Ramadhan 1447/26 Februari 2026
Tarmidzi Yusuf, Kolumnis












