Pengamat geopolitik Hendrajit menilai posisi Indonesia dalam konstelasi politik global kian strategis setelah Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah dan rakyat Indonesia terhadap Iran, sekaligus menyambut baik kesiapan Presiden Indonesia untuk memediasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat.
Dalam siaran persnya, Kedutaan Besar Republik Islam Iran menegaskan pentingnya solidaritas negara-negara sahabat di tengah eskalasi ketegangan kawasan. Apresiasi tersebut, menurut Hendrajit, bukan hanya bersifat diplomatik simbolik, tetapi mencerminkan pengakuan terhadap kredibilitas Indonesia sebagai aktor yang relatif netral dan konsisten dalam politik luar negeri.
“Posisi kita saat ini makin penting. Iran sudah menyatakan setuju Indonesia menjadi mediator. Ini momentum yang tidak bisa dipandang biasa,” ujar Hendrajit, Ahad (1/3/2026)
Ia menambahkan, dinamika global pasca-eskalasi konflik di Timur Tengah membuat peran negara-negara non-blok dan Global South kembali relevan. Dalam konteks itu, Indonesia dinilai memiliki modal politik dan moral yang cukup kuat.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan tradisi politik luar negeri bebas aktif, Indonesia selama ini konsisten mendukung kemerdekaan Palestina serta aspirasi negara-negara Islam dan Global South. Namun, Indonesia tidak terjebak dalam konflik sektarian maupun rivalitas internal di kawasan Timur Tengah.
“Indonesia tidak punya beban historis konflik di Timur Tengah. Kita mendukung perjuangan Palestina, tapi tidak ikut dalam percekcokan internal antarnegara di sana. Justru itu yang membuat peran mediator menjadi masuk akal,” jelasnya.
Hendrajit juga menyinggung relevansi kerja sama negara-negara Islam dalam kerangka BoP (Balance of Power) yang kini kembali mengemuka. Menurutnya, tujuh negara Islam yang berada dalam konfigurasi BoP global saat ini merupakan pihak-pihak yang terdampak langsung atau tidak langsung dari eskalasi konflik terakhir.
“Adanya BoP sekarang malah makin relevan. Karena tujuh negara Islam yang ada di dalamnya adalah yang kemarin kena imbas serangan. Dalam situasi seperti ini, figur dan negara penengah sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang kembali memanas tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga pada ekonomi global, termasuk harga energi dan jalur perdagangan internasional. Di tengah ketegangan tersebut, kehadiran mediator yang tidak memiliki kepentingan hegemonik menjadi krusial.
Hendrajit menilai, jika Indonesia mampu memainkan peran ini secara konsisten dan terukur, maka bukan hanya reputasi diplomatik yang meningkat, tetapi juga posisi tawar Indonesia dalam percaturan global.
“Ini bukan soal berpihak pada satu kubu. Ini soal menjaga stabilitas dan membuka ruang dialog. Dan Indonesia punya legitimasi moral untuk itu,” tegasnya.
Dengan dukungan domestik yang kuat terhadap prinsip kemerdekaan Palestina serta solidaritas terhadap negara-negara berkembang, Indonesia berada pada titik yang unik: mendukung aspirasi dunia Islam dan Global South, tetapi tetap menjaga jarak dari pusaran konflik kekuasaan regional.
Dalam situasi dunia yang semakin terfragmentasi, langkah Indonesia untuk menawarkan diri sebagai mediator justru dinilai sebagai manifestasi konkret politik luar negeri bebas aktif—sebuah sikap yang sejak lama menjadi fondasi diplomasi nasional.












