News  

Insiden Adu Banteng Transjakarta di Koridor 13 Karena Sopir Kelelahan, Dewan Transportasi Desak Evaluasi Sistem Kerja

Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) meminta menajemen TransJakarta mengevaluasi sistem kerja sopir pasca insiden adu banteng dua bus TransJ di Koridor 13, Senin (23/2/2026) pagi tadi.

Sekretaris DTKJ, Adrianus Satrio Adi Nugroho, menilai insiden di jalur layang yang seharusnya aman dan terproteksi itu menjadi indikasi adanya persoalan serius dalam manajemen operasional Transjakarta.

“Secara logika transportasi, kecelakaan di jalur yang sudah steril dan terproteksi seperti Koridor 13 ini seharusnya tidak terjadi apabila sistem manajemen pergerakan bus berjalan secara optimal,” ujar Adrianus, Senin (23/2/2026).

Menurutnya, jalur layang tersebut dibangun untuk menjamin keamanan dan kecepatan layanan.”Namun, insiden “adu banteng” ini menjadi indikator kuat bahwa sistem pengawasan dan kendali operasional saat ini memerlukan tinjauan mendalam,” ujar Adrianus.

Adrianus menekankan, rentetan kecelakaan yang terjadi belakangan ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi kerja pengemudi di lapangan.“Faktor kelelahan pramudi harus menjadi poin evaluasi utama. Kita tidak bisa hanya menitikberatkan pada kesalahan manusia di lapangan tanpa membedah akar permasalahannya di tingkat manajemen,” tegasnya.

Ia juga menyoroti penambahan layanan angkutan malam hari (amari) yang bisa memicu kelelahan bagi para pengemudi. Sebab, mereka masih berkendara di waktu malam sampai pagi hari.

“Sekarang layanan amari diperpanjang jadi dua shift. Yakni di pukul 16.00 sampai pukul 00.00 WIB dan untuk yang shift 00.00 sampai 09.00 WIB,” kata Adrianus.

Berdasarkan pantauan DTKJ, sebelum insiden di Cipulir, telah terjadi sejumlah kejadian yang menjadi catatan evaluasi.

Di antaranya pada Januari 2026, kecelakaan tunggal di Jakarta Timur yang menabrak pembatas jalan, dengan faktor kelelahan pramudi menjadi sorotan dalam evaluasi internal.

Desember 2025, insiden tabrak belakang di koridor terintegrasi yang menunjukkan perlunya peningkatan kendali operator terhadap kedisiplinan dan kesiapan kru lapangan.

Sopir Lelah
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut kecelakaan TransJakarta di Koridor 13 hingga menyebabkan 23 penumpang mengalami luka, akibat human error.

Sopir yang mengemudikan Transjakarta nomor BMP 220263 dalam kondisi kelelahan hingga mengantuk.“BMP 220263 dan memang dalam kondisi bekerja dua hari, ngantuk mungkin karena tidak bisa mengontrol, akhirnya masuk lajur yang berlawanan,” ucap Pramono di Dermaga 101 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (23/2/2026).

Menurut dia, kondisi sopir yang kurang istirahat itu juga kemungkinan dipengaruhi oleh aktivitas selama bulan puasa.

“Human error mungkin tidurnya kurang karena puasa dan sebagainya sehingga kemudian busnya menyebrang atau melintasi, melawan arah,” katanya.

Pramono mengatakan, berdasarkan laporan awal yang diterimanya dari manajemen Transjakarta, kecelakaan terjadi saat bus melaju dari kawasan Tegal Mampang menuju Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (JORR).

Bus kemudian bertabrakan dengan armada Transjakarta lain bernomor BMYS 17100 yang dalam keadaan kosong usai melintasi jalur berlawanan arah.

Kronologi Kecelakaan
Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Ojo Ruslani menjelaskan kecelakaan Transjakarta Bianglala yang dikemudikan pria berinisial Y dari arah Kebayoran menuju Cipulir dan bus Transjakarta Mayasari Bakti yang dikemudikan A dari arah sebaliknya.

“Persis jam 7.15 WIB Saudara Y mengaku tertidur, ngantuk, akhirnya bus yang dikemudikan Y lari ke jalur Saudara A. Mungkin karena kelelahan,” jelas Ojo.

Saat kejadian, bus dalam kondisi penuh. Karena bertepatan jam berangkat kerja.(Sumber)