News  

Erros Djarot: Tak Peduli Latar Belakang Aktivis, yang Penting Bersatu Melawan Kezaliman

Budayawan dan aktivis nasional Erros Djarot menegaskan pentingnya persatuan para aktivis dalam menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan di Indonesia. Komitmen itu ia sampaikan dalam acara buka puasa bersama yang digelar di Aula Kantor Gerakan Bhineka Nasionalis (GBN), Senin (9/3).

Dalam momen yang berlangsung hangat dan penuh keakraban tersebut, Erros secara terbuka menyampaikan sikapnya terkait perbedaan latar belakang para aktivis yang hadir.

“Saya tidak peduli dia HTI,” ujar Erros saat mempersilakan advokat dan aktivis Ahmad Khozinudin naik ke panggung untuk menyampaikan pandangan hukumnya.

Pernyataan itu menjadi simbol sikap inklusif yang ingin dibangun Erros Djarot. Baginya, perbedaan latar belakang organisasi atau pandangan politik tidak seharusnya menjadi penghalang bagi para aktivis untuk bersatu dalam memperjuangkan keadilan.

Acara buka puasa bersama tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh nasional dari berbagai latar belakang. Kehadiran mereka memperlihatkan semangat persatuan lintas kelompok yang coba dibangun dalam forum tersebut.

Sekretaris Jenderal GBN, Franz Aba, yang beragama Nasrani turut berperan besar dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Kehadirannya memperlihatkan semangat kebhinekaan dalam ruang dialog para aktivis.

Selain itu, beberapa tokoh yang hadir antara lain ekonom Anthony Budiawan, mantan pejabat Kementerian BUMN Muhammad Said Didu, Sekretaris Jenderal DPR RI Indra Iskandar, pakar telematika Roy Suryo, hingga aktivis Sayuti Asy’ari.

Sebelum acara dimulai, suasana semakin hangat dengan lantunan lagu-lagu religi yang diiringi dua pemain gitar. Nuansa sederhana namun penuh keakraban itu menjadi warna tersendiri dalam pertemuan para aktivis tersebut.

Dalam kesempatan itu, Ahmad Khozinudin juga menyampaikan sejumlah pandangan hukum dan kritik terhadap beberapa kebijakan pemerintah.

Ia menegaskan bahwa kritik yang disampaikan bukanlah bentuk upaya menjelekkan pemerintah ataupun Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, kritik adalah bagian dari upaya memperbaiki kebijakan agar menjadi lebih baik.

“Kritik bukan berarti menjelekkan. Kritik adalah menyampaikan kebijakan yang buruk agar dievaluasi dan diperbaiki,” ujarnya.

Ia juga menyoroti sejumlah isu kebijakan yang dinilai perlu dievaluasi, termasuk keterlibatan Indonesia dalam forum internasional yang disebut sebagai Board of Peace (BoP) yang dikaitkan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, rencana perjanjian dagang resiprokal dengan Amerika Serikat, hingga wacana pengiriman pasukan TNI ke Jalur Gaza.

Menurutnya, kebijakan tersebut perlu dikaji ulang karena berpotensi bertentangan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi pijakan Indonesia.

Setelah berbagai pandangan disampaikan, acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Sayuti Asy’ari. Para peserta kemudian melanjutkan kegiatan dengan berbuka puasa bersama.

Menariknya, hidangan yang disajikan dalam acara tersebut merupakan racikan langsung Erros Djarot. Menu yang tersedia antara lain Soto Kudus, bakso, hingga tongseng yang disiapkan secara khusus untuk para tamu.

Suasana santai dan akrab terasa sepanjang acara. Para aktivis yang hadir tidak hanya berdiskusi mengenai isu-isu nasional, tetapi juga menjalin silaturahmi lintas kelompok.

Bagi Erros Djarot, forum seperti ini penting untuk membangun komunikasi dan memperkuat solidaritas di antara para aktivis.

Pesan utamanya sederhana namun kuat: perbedaan latar belakang bukan alasan untuk terpecah. Selama memiliki tujuan yang sama untuk melawan ketidakadilan, persatuan tetap menjadi jalan yang harus dijaga.