Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian, menegaskan bahwa program Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) merupakan instrumen strategis negara untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Namun, menurutnya, program beasiswa ini perlu dievaluasi agar prinsip keadilan dan akuntabilitas tetap terjaga.
“Terkait polemik LPDP yang ramai belakangan ini, saya memandang bahwa program LPDP pada dasarnya merupakan instrumen strategis negara untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” ujar Lalu kepada Inilah.com, Jumat (27/2/2026).
Advertisement
Menurut Lalu, orientasi program beasiswa yang dikelola negara harus selaras dengan kebutuhan strategis nasional dan tetap berpegang pada prinsip keadilan.
“Orientasinya harus tetap pada kebutuhan strategis nasional, dan prinsip keadilan,” tambahnya.
Meski demikian, Lalu menyoroti munculnya persepsi di masyarakat bahwa penerima LPDP didominasi kalangan yang secara ekonomi sudah mapan. Ia menilai hal ini menjadi catatan penting bagi pemerintah.
“Jika di tengah masyarakat muncul persepsi bahwa LPDP lebih banyak diakses oleh kalangan yang secara ekonomi sudah mapan, hal tersebut menjadi catatan penting,” ucapnya.
Lalu menegaskan evaluasi perlu dilakukan, terutama pada aspek transparansi data penerima beasiswa, penguatan jalur afirmasi bagi kelompok kurang mampu, serta penyempurnaan parameter sosial-ekonomi dalam proses seleksi, tanpa mengorbankan standar kualitas.
“Kami menilai perlu ada evaluasi, khususnya pada aspek transparansi data penerima, penguatan jalur afirmasi bagi kelompok kurang mampu dan daerah tertinggal, serta penajaman parameter sosial-ekonomi dalam proses seleksi tanpa mengorbankan standar kualitas,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan bahwa penerima beasiswa LPDP harus menghargai negara, mengingat dana yang digunakan berasal dari pajak rakyat. Pernyataan keras Menkeu itu menanggapi polemik yang muncul dari unggahan alumni LPDP, Dwi Sasetyaningtyas (DS), yang viral di media sosial terkait kewarganegaraan anaknya.
Dalam unggahannya, DS menulis, “I know the world seems unfair. Tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu.”
Pernyataan tersebut memicu kritik warganet yang menilai kurang bijak disampaikan oleh penerima beasiswa yang dibiayai negara.(Sumber)












