Guru Besar Ilmu Komunikasi dari Universitas Airlangga, Henri Subiakto, menyoroti dinamika hubungan Indonesia dengan Iran yang dinilai mengalami ketegangan dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut Henri, sejumlah indikator menunjukkan adanya perubahan persepsi Iran terhadap Indonesia, yang berdampak pada hubungan bilateral, termasuk isu pelayaran di kawasan strategis seperti Selat Hormuz.
“Selain keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) yang menunjukkan kedekatan Presiden Prabowo Subianto dengan Donald Trump, serta keengganan pemerintah Indonesia menyampaikan bela sungkawa atas terbunuhnya pemimpin Iran oleh agresor, terdapat pula faktor lain yang memperkeruh hubungan,” ujar Henri dalam keterangannya, Sabtu (28/3/2026).
Ia juga menyinggung adanya kasus sengketa kapal tanker milik Iran di Indonesia sekitar dua tahun lalu. Menurutnya, peristiwa tersebut bisa menjadi salah satu pemicu memburuknya persepsi Iran terhadap Indonesia.
“Kasus kapal tanker itu tidak bisa dilepaskan dari konteks hubungan bilateral. Ini berkontribusi terhadap sikap Iran, termasuk dalam kebijakan terhadap kapal-kapal Indonesia,” katanya.
Henri menduga, rangkaian faktor tersebut berimplikasi pada pembatasan atau hambatan terhadap kapal tanker Indonesia yang melintasi Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Lebih lanjut, ia menilai ketegangan Indonesia–Iran kini mulai mendapat sorotan dari media internasional. Kondisi ini, menurutnya, perlu menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia agar tidak berdampak lebih luas terhadap kepentingan ekonomi dan geopolitik nasional.
“Jika tidak dikelola dengan baik, ini bisa berdampak pada posisi Indonesia di mata dunia, terutama dalam konteks politik luar negeri bebas aktif,” tegasnya.
Henri mendorong pemerintah untuk segera melakukan langkah diplomatik guna meredakan ketegangan dan memulihkan hubungan bilateral dengan Iran, mengingat pentingnya kawasan Timur Tengah bagi stabilitas energi global dan kepentingan strategis Indonesia.












