News  

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia: Batu Bara dan LNG Jadi Mitra Kunci RI-Korea Selatan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa komoditas batu bara dan liquefied natural gas (LNG) menjadi pilar utama kerja sama energi antara Indonesia dan Korea Selatan.

Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil merujuk pada pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Republik Korea Lee Jae-myung yang berlangsung di Seoul.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Lee secara tegas menyampaikan bahwa Indonesia merupakan mitra strategis yang sangat penting dalam menjaga ketahanan energi Korea Selatan, khususnya melalui pasokan LNG dan batu bara yang stabil.

“Presiden Lee menekankan bahwa Indonesia adalah mitra kunci dalam mendukung kebutuhan energi Korea Selatan, terutama dalam penyediaan LNG dan batu bara secara berkelanjutan,” ujar Bahlil dalam keterangannya, Senin (6/4/2026).

Menurut Bahlil, hubungan bilateral kedua negara kini memasuki fase yang lebih maju dengan komitmen untuk meningkatkan kerja sama menjadi kemitraan strategis komprehensif khusus. Langkah ini diharapkan mampu memberikan manfaat konkret bagi kedua negara, baik dari sisi ekonomi maupun ketahanan energi.

Indonesia sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu eksportir utama batu bara dan LNG di kawasan Asia, sementara Korea Selatan merupakan negara industri maju yang sangat bergantung pada impor energi untuk memenuhi kebutuhan domestiknya.

Dengan penguatan kerja sama ini, pemerintah berharap stabilitas pasokan energi dapat terjaga sekaligus membuka peluang investasi baru di sektor energi, termasuk pengembangan infrastruktur LNG dan hilirisasi sumber daya alam.

Selain itu, kemitraan ini juga diproyeksikan memperluas kolaborasi di bidang teknologi energi, termasuk transisi menuju energi yang lebih bersih tanpa mengabaikan kebutuhan energi konvensional yang masih menjadi tulang punggung industri.

“Kerja sama ini bukan hanya soal perdagangan energi, tetapi juga mencakup transfer teknologi dan peningkatan nilai tambah bagi kedua negara,” kata Bahlil.

Pertemuan bilateral tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok energi global, sekaligus mempererat hubungan diplomatik dengan Korea Selatan di tengah dinamika geopolitik dan kebutuhan energi yang terus meningkat.