Kehadiran tiga armada Angkatan Laut Pakistan di Jakarta, termasuk kapal selam diesel-elektrik PNS Hangor, memunculkan perhatian serius dari kalangan pengamat geopolitik dan intelijen kawasan.
Selain kapal selam tersebut, Pakistan juga mengerahkan kapal perang PNS Taimur dan PNS Aslat yang bersandar di kawasan Dermaga IKT Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, dalam rangka latihan bersama “Teman E Bahr” dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut di Laut Jawa.
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai kedatangan armada Pakistan tidak bisa hanya dibaca sebagai agenda diplomasi militer biasa, melainkan bagian dari dinamika strategis yang lebih besar di kawasan Indo-Pasifik dan Timur Tengah.
Menurut Amir Hamzah, momentum kedatangan armada Pakistan menjadi menarik karena berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan pengaruh Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
“Pakistan selama ini dikenal memiliki kedekatan emosional dan strategis dengan Iran dalam beberapa isu tertentu, terutama ketika konflik Iran dengan Israel meningkat. Karena itu, setiap manuver militer Pakistan di kawasan Asia, termasuk di Indonesia, pasti akan dibaca oleh banyak pihak dalam perspektif geopolitik yang lebih luas,” ujarnya kepada wartawan, Senin (25/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa latihan gabungan laut antara Indonesia dan Pakistan sejatinya merupakan hal yang lazim dalam hubungan pertahanan antarnegara sahabat. Namun, kehadiran kapal selam seperti PNS Hangor memiliki pesan simbolik tersendiri karena kapal selam merupakan instrumen strategis dalam peperangan modern.
“Kalau yang datang hanya kapal patroli biasa, mungkin efek geopolitiknya tidak terlalu besar. Tapi ketika yang hadir adalah kapal selam, maka pesan strategisnya berbeda. Kapal selam selalu terkait dengan kemampuan deterrence, pengintaian bawah laut, dan perang senyap,” katanya.
Amir Hamzah melihat Indonesia saat ini semakin menjadi titik perhatian kekuatan global karena posisi geografisnya yang berada di jalur vital perdagangan dunia dan dekat dengan eskalasi Laut China Selatan.
Menurut dia, negara-negara besar maupun negara dengan kepentingan strategis mulai aktif membangun pengaruh melalui kerja sama pertahanan, latihan maritim, hingga diplomasi angkatan laut.
“Indonesia sekarang dipandang sebagai poros penting di Indo-Pasifik. Semua negara ingin menjaga hubungan baik dengan Jakarta, termasuk Pakistan. Ini bukan hanya soal latihan perang, tapi juga tentang membangun akses diplomatik dan kedekatan strategis,” jelasnya.
Ia juga menyoroti kemungkinan adanya dimensi pertukaran intelijen maritim dalam latihan tersebut. Dalam latihan laut modern, kata Amir Hamzah, biasanya tidak hanya dilakukan simulasi tempur atau pencarian dan penyelamatan, tetapi juga pembelajaran mengenai pola komunikasi, sistem radar, kemampuan anti-kapal selam, hingga interoperabilitas taktis.
“Setiap latihan militer internasional selalu memiliki nilai intelijen. Negara akan saling membaca karakter operasi, kemampuan teknologi, pola komando, bahkan kultur militernya. Itu hal yang lumrah dalam dunia pertahanan modern,” ujarnya.
Lebih jauh, Amir Hamzah mengaitkan langkah Pakistan dengan perubahan konstelasi global pasca meningkatnya rivalitas blok Barat dan Timur. Pakistan, menurutnya, kini berusaha memainkan politik luar negeri yang lebih fleksibel di tengah kedekatannya dengan China dan hubungan historisnya dengan dunia Islam.
“Pakistan punya hubungan strategis dengan China, punya sensitivitas dengan Iran, dan tetap harus menjaga relasi dengan Barat. Jadi mereka memainkan keseimbangan geopolitik yang sangat rumit,” katanya.
Ia menambahkan, Indonesia harus tetap menjaga prinsip politik luar negeri bebas aktif agar tidak terseret dalam rivalitas kekuatan global yang semakin tajam.
“Indonesia jangan sampai dipersepsikan masuk dalam orbit salah satu blok geopolitik. Kerja sama pertahanan boleh dilakukan dengan siapa saja, tetapi orientasinya harus tetap pada kepentingan nasional dan stabilitas kawasan,” tegasnya.
Menurut Amir Hamzah, Laut Jawa dan perairan Indonesia kini semakin strategis dalam peta keamanan internasional karena menjadi jalur penting mobilitas energi dan perdagangan dunia.
Ia memperkirakan intensitas latihan militer internasional di kawasan Indonesia akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan, terutama akibat kompetisi pengaruh antara Amerika Serikat, China, dan kekuatan regional lainnya.
“Ke depan, laut Indonesia akan semakin ramai oleh diplomasi kapal perang. Ini adalah konsekuensi dari perubahan geopolitik global. Indonesia harus cerdas membaca setiap manuver agar tidak hanya menjadi arena perebutan pengaruh,” pungkasnya.












