Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ahmad Luthfi sempat mengungkapkan bahwa minimnya keinginan anak muda untuk menggeluti profesi petani, karena dinilai sebagian orang sebagai pekerjaan yang kurang menguntungkan.
“Ayah saya itu petani jadi (beliau bilang) ‘kamu nanti kalau gede jangan seperti bapakmu’, sehingga rasa memiliki sense of crisis petani itu berkurang,” kata Luthfi dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Balai Kartini, Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026).
Ia membeberkan Jateng memiliki 8.710 desa dan kelurahan, dengan 570 kecamatan yang artinya rentang kendali antara provinsi, kabupaten/kota dan desa begitu jauh.
Sehingga yang dilakukan pihaknya agar anak-anak muda mempunyai keinginan untuk bertani, maka kecamatan difungsikan menjadi kecamatan berdaya.
“Itu kita gunakan untuk program-program petani milenial yang digagas oleh Mentan, kita akan fungsikan di kecamatan bukan di desa. Jadi anak-anak mudanya kita tarik ke kecamatan, kemudian programnya dari provinsi maupun dinas dan di situ akan digodok, gajinya Rp10 juta, itu kan pak mentan yang menggaji, nanti dididik di sana, dikembalikan ke desa,” tuturnya.
Selain itu, ia mengakui untuk mencapai swasembada pangan bukan sebuah jalan yang mudah. Apalagi pada 2026 ini, musim kemarau akan melanda dalam waktu yang panjang, sehingga hasil pertanian harus dipersiapkan mulai dari sekarang.
“Hari inilah kita menggunakan roadmap terkait dengan swasembada pangan kita, harus kita sesuaikan dengan produk di lapangan, termasuk petani kita sudah diarahkan ke sana. Bagaimana lumbung pangan nasional sentral-sentral kabupaten/kota maupun desa yang menjadi produk unggulan harus kita mitigasi dan lain sebagainya,” jelasnya.(Sumber)












