Sesuai sirah Nabawiyah dan riwayat yang masyhur, disebutkan bahwa “rahasia langit” (berita-berita gaib dari malaikat) telah ditutup total aksesnya bagi jin dan setan, terutama sejak masa diutusnya Nabi Muhammad Saw. Maknanya di dunia sudah tidak ada lagi ramalan berdasarkan info ghaib dari langit.
Masih adanya ramalan itu hanya prediksi bersandar dari Ilmu Titen, yaitu seni membaca pertanda alam baik dan buruk dari kejadian masa lalu dan dibaca akan terjadi pengulangan, karena sebab yang sama.
Ramalan tetap ramalan, memang ada kesesuaian ilmu titen dengan beberapa analisis politik jang menyebut Agustus 2026 sebagai bulan berisiko tinggi dengan membandingkan fakta potensi gejolak politik, tekanan ekonomi, dan ketegangan institusional di sekitar peringatan kemerdekaan dan ulang tahun kerusuhan 2025.
Membaca dan mencermati Ramalan berasal dari Yessi Dayak, seorang praktisi tarot dan konten kreator mistik yang populer di TikTok dan YouTube. Ia memprediksi bahwa pada Agustus 2026 akan terjadi eskalasi politik besar di Indonesia, termasuk potensi kerusuhan, gejolak sosial, dan bahkan ancaman terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Ramalannya tetap berreferensi dengan simbol alam, sampai pada prediksinya bahwa periode Juni–Agustus 2026 disebut sebagai masa “pergerakan bawah tanah”, “penyusupan”, dan “letupan di mana-mana”, mirip dengan tragedi Agustus 2025.
Ramalan ini viral di media sosial, terutama setelah unggahan berjudul gempa ! Runtuhnya Kepemimpinan Prabowo di Tahun 2026 dikaitkan dengan ramalan Ratu Ayu Losari
Ramalan Yessi Dayak bukan prediksi ilmiah, melainkan interpretasi spiritual dan simbolik berdasarkan tarot dan kepercayaan Nusantara. Ia sendiri mengingatkan bahwa ini adalah bahan renungan, bukan kepastian.
Ramalan Yessi Dayak layaknya seorang analis politik karena menjadi referensi dalam prediksinya dengan perkembangan aktual kekinian. Bahwa pemicu jalur eskalasi yang paling realistis, terjadinya tekanan ekonomi rumah tangga, pelemahan rupiah yang mendekati/ menembus psikologis Rp18.000/USD, harga pangan–energi, dan gelombang PHK yang sudah terdokumentasi di awal 2026 dapat menurunkan toleransi publik terhadap guncangan.
Kompetisi institusi keamanan–hukum, konflik naratif Polri–Kejaksaan dan persepsi “perang kasus”, lemahnya hukum dan macam macam kejadian korupsi saling menggigit dapat menurunkan kepercayaan pada penegakan hukum dan membuka ruang bagi tuduhan korporasi dan politisasi antar pejabat negara.
Narasi publik dan disinformasi, perang narasi mempercepat polarisasi, membuat insiden lokal mudah “naik kelas” jadi isu nasional.
Politik simbolik dan memori kolektif, momentum 17 Agustus dan akhir Agustus menjadi “trigger calendar” bagi unjuk rasa, terutama jika ada persepsi impunitas atau respons negara yang keras dan brutal.
Yessi Dayak hanya meminta semua pihak diminta waspada karena gejala alam yang bisa dibaca menjadi prediksi bahwa runtuhnya presiden Prabowo di bulan Agustus tahun ini. Apa benar .. Wallahu a’lam. (Sumber)












