Langkah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) melakukan safari politik lebih awal mulai menarik perhatian. Di tengah semakin aktifnya partai tersebut membangun komunikasi politik, pengamat politik Adi Prayitno justru mengingatkan bahwa perjalanan PSI untuk menandingi kekuatan PDI Perjuangan (PDIP) tidak akan mudah.
Menurut Adi, tantangan terbesar PSI berada di wilayah yang selama ini menjadi basis kuat PDIP, terutama Jawa Tengah. Bahkan, kehadiran Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di belakang PSI dinilai belum cukup untuk membuat partai tersebut mampu menggoyang dominasi partai berlambang banteng.
Adi menilai kekuatan PDIP di sejumlah daerah bukan terbentuk dalam waktu singkat. Mesin politik dan basis pemilih yang telah terbangun selama bertahun-tahun menjadi modal besar yang tidak mudah ditandingi hanya dengan manuver politik menjelang Pileg 2029.
“Saya termasuk yang meyakini agak sulit mengalahkan PDIP di berbagai kandang, apalagi Jawa Tengah ataupun di berbagai tempat lain yang terasosiasi sebagai kekuatan politik PDIP,” kata Adi dalam keterangannya, dikutip Kamis (13/8/2026).
“Betapa sekalipun ada Pak Jokowi dengan PSI, agak sulit sebenarnya untuk bagaimana bisa mengalahkan kandang-kandangnya banteng itu, Pak,” lanjutnya.
Bagi Adi, pihak yang ingin menggeser dominasi PDIP harus terlebih dahulu membuktikan kekuatan politiknya melalui perolehan suara. Ia menilai analisis tersebut bukan sekadar membaca dinamika politik terkini, melainkan dapat ditelusuri dari rekam jejak suara PDIP dalam beberapa pemilu.
“Makanya kalau kawan-kawan PDIP itu kan, ya, lulus dulu lah kalau mau ngalahin PDIP, kan gitu,” tambah dia.
Adi kemudian membandingkan perjalanan suara PDIP sejak Pemilu 2009 hingga 2024. “2009, ketika PDIP saat itu kalah Pilpres dan juga kalah Pileg kan, karena yang menang Pilpres itu SBY dan Demokrat. Berapa suara PDIP? Sekitar 14,33 persen. Bersama dengan Jokowi, 2014, naikkan suara PDIP yang 14,33 persen menjadi 18,5 persen,” ungkapnya.
Namun, kenaikan suara tersebut menurut Adi tidak berlanjut dengan lonjakan serupa pada Pemilu 2019. “Setelah itu, 2019, naiknya cuma satu sekian. Dari 18 koma menjadi 19 koma, kan. Coba lihat angkanya,” ucap Adi.
Ia mengatakan cukup memahami angka-angka tersebut karena pemilu dan perilaku pemilih merupakan bidang yang diajarkannya. Dari data tersebut, Adi kemudian menyoroti perubahan perolehan suara PDIP pada Pemilu 2024 setelah hubungan politik Jokowi dan PDIP tidak lagi berjalan bersama.
“Di 2024 setelah Jokowi dan PDIP tidak bersama, coba, berapa suara PDIP? 16,1 persen. Dari 19 ke 16, Pak. Kurang lebih sekitar 2,9 persen,” ungkapnya.
Meski suara PDIP mengalami penurunan, Adi tidak serta-merta menganggap mesin politik partai tersebut telah runtuh. Menurutnya, kekuatan PDIP dalam kontestasi legislatif masih terlihat meski hasil Pilpres 2024 tidak sesuai harapan partai.
“Sekalipun ditinggal oleh Pak Jokowi, ya PDIP secara mesin, pileg khususnya, tidak terjun bebas. Bahwa pilpresnya terjun bebas, ya dapat 16, ya. Tapi pilegnya. Kalau mau disimpulkan, ya PDIP menang di pilegnya, pilpresnya babak belur,” ujar Adi.
Dengan hitung-hitungan tersebut, Adi melihat PSI masih memiliki pekerjaan politik yang panjang apabila ingin benar-benar menantang dominasi PDIP. Terlebih, basis-basis politik PDIP seperti Jawa Tengah memiliki mesin partai dan loyalitas pemilih yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.(Sumber)












