Politik

Selain Risma, Ini Deretan Politisi PDIP Yang Pernah Menangis

0

Ingat tidak aksi tangisnya Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini alias Risma hingga sujud di hadapan Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur dan Surabaya saat audiensi di Balai Kota Surabaya pada Senin, 29 Juni 2020. Tindakan Risma pun disorot publik.

Risma yang merupakan Politisi PDI Perjuangan menangis dan minta maaf kepada pihak RSU Soetomo, karena selama ini tidak bisa berkomunikasi terkait penanganan COVID-19. Padahal, Risma mengaku berkali-kali coba berkomunikasi tapi hasilnya nihil.

“Kami tidak terima. Karena kami gak bisa masuk ke sana (RSU dr Soetomo untuk komunikasi). Tolonglah kami, jangan disalahkan terus,” kata Risma.

Namun, VIVA merangkum bukan cuma Risma yang merupakan kader partai berlambang banteng ini pernah menangis. Tetapi, ada beberapa Politisi PDI Perjuangan lain pernah menangis juga di hadapan publik. Berikut rangkuman VIVA pada Minggu, 5 Juli 2020.

Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri

Megawati terharu ketika hendak mengumumkan kemenangan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla versi hitung cepat pada Pemilu Presiden 2014 silam di kediamannya kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan pada Rabu, 9 Juli 2014.

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto memanggil nama Megawati untuk memasuki ruang konferensi pers. Namun saat melangkahkan kaki ke ruangan itu, Mega meneteskan air mata.

Sambil mengusap air mata, dia terus melangkahkan kaki dan bersalaman dengan para petinggi PDIP dan para relawan di ruangan itu. Ketika hendak duduk, air mata Mega masih membasahi pipinya. Kemudian, Puan Maharani langsung memberikan tisu ke ibundanya untuk mengusap air mata.

Ketua DPR, Puan Maharani

Sebelum menjabat Ketua DPR RI, Puan Maharani pernah meneteskan air mata saat membacakan hasil rekomendasi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDI Perjuangan di Semarang, Jawa Tengah pada Sabtu malam, 20 September 2014. Saat itu, Puan sebagai Ketua DPP PDI Perjuangan.

Di hadapan 1.500 kader partai berlambang banteng, Puan tersendat-sendat saat membacakan poin demi poin rekomendasi Rakernas. Ketika sampai pada bagian perjuangan PDI Perjuangan memenangi Pemilu Presiden tahun 2014, Puan pun menangis.

Selama sepuluh tahun, PDI Perjuangan menjadi partai di luar pemerintahan. Dengan terpilihnya Jokowi sebagai Presiden RI sejak 20 Oktober 2014, PDIP menyatakan diri sebagai partai pendukung dan partai pemerintah.

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto

Hasto tidak kuat menahan air matanya berlinang ketika menegaskan mundurnya Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dari bursa pencalonan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur karena politik hitam yang diduga dilakukan lawan politiknya.

“Semua kami menangis, para kiai menangis, Ibu Megawati menangis. Kami tidak menyangka seorang Abdullah Azwar Anas mengalami cara-cara yang seperti ini,” kata Hasto Kristiyanto sambil menyapu air mata dengan sapu tangannya pada Sabtu 6 Januari 2018.

Padahal, Hasto sudah lama mengenal dan melihat kepribadian Azwar Anas memimpin Banyuwangi dengan baik. Makanya, PDI Perjuangan mencalonkan Azwar Anas untuk maju pada Pilkada Gubernur Jawa Timur bersama Syaefullah Yusuf pada 2018.

“Kami melihat dalam keseharian, pengenalan kami dengan Pak Azwar Anas dia orang baik, dia orang jujur yang menolak berbagai bentuk suap demi kekuasaan untuk rakyatnya itu,” ujarnya. {viva}

Kabarnya PAN dan Demokrat Masuk Kabinet, PKS Istiqomah Jadi Oposisi

Previous article

Gila! Dalam Sebulan Ada 105 Fintech Ilegal Jerat Korban Dengan Bunga Selangit

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *