News

Stop Tipu-Tipu Atas Nama COVID-19

0

Saya merupakan salah seorang dari ratusan juta umat Islam Indonesia yang paling geram dengan politisasi covid-19.

Betapa tidak, saat banyak masjid shaff shalat jamaah berjarak dan tidak berkarpet dengan dalih melaksanakan protokol kesehatan. Banyak pengurus masjid tertipu oleh raja tukang tipu.

Shalat tarawih dipercepat dengan bacaan surat-surat pendek. Ta’lim atau kajian online. Sempat dilarang pula atas nama radikal radikul. Lebay banget.

Sementara mall, pasar, terminal, stasiun, bandara bahkan pejabat negara tanpa risih mempertontonkan kerumunan.

Beberapa bank plat merah antrian mengular sampai ke area parkir. Kerumunan bagi-bagi bantuan tunai kartu pra kerja. Modus investasi untuk 2024?

Sekolah, madrasah dan pesantren ditutup. Belajar daring. Setahun lebih anak-anak kita dilakukan ‘pembodohan’ massal dengan alasan covid-19.

Mudik dilarang. Objek wisata dibuka. Aneh. Mana ada tempat wisata tanpa kerumunan.

Tenaga kesehatan, perawat dan dokter jadi korban. Sudah ratusan tenaga kesehatan meninggal. Tega sekali.

HRS ditangkap, dipenjara dan diadili dengan pasal dan dakwaan berlapis. Lain halnya dengan kerumunan Jokowi. Dua kali kerumunan Jokowi di NTT, satu kali di Kalimantan. Anehnya, Jokowi bebas dari jeratan hukum. Tanpa merasa bersalah lagi.

Propaganda covid-19 telah menimbulkan penyakit baru. Paranoid. Demam dikit, takut covid. Batuk-batuk dan sesak napas, takut covid. Lebih takut covid daripada takut kepada Allah subhanahu wata’ala. Syirik besar itu namanya.

Padahal, demam dan batuk penyakit populer. Padahalnya lagi, menurut data per 20 April 2021 seperti dilansir CNN Indonesia, angka kematian covid-19 hanya 2,7% dari jumlah yang positif covid. Sedangkan 90,6% dinyatakan sembuh. Sisanya 6,7% dalam perawatan.

Jumlah yang positif covid-19 sekitar 1.604.348 orang. Kalikan saja biaya rapid test Rp 250.000 dan ongkos vaksin Rp 300.000. Berapa? Triliunan. Belum termasuk APD, masker dan yang lainnya. Bisnis baru yang sangat fantastis dengan mengorbankan empat puluh ribu lebih orang yang meninggal. Bisnis menghalalkan segala cara.

Yang mengejutkan lagi. Ternyata penyakit penyebab kematian tertinggi di Indonesia bukan karena covid-19. Nah lho!

Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), penyakit penyebab kematian tertinggi adalah hipertensi 34,1% atau sekitar 8 juta orang pada tahun 2018. Sementara yang meninggal karena covid hanya 2,7% atau 43.424 orang.

Sedangkan menurut WHO, lima penyakit penyebab kematian paling tinggi di Indonesia adalah; Stroke 21%, Ischemic Heart Disease 9%, Diabetes 7%, Lower Respiratory Infection 5% dan TB 4%.

Kenapa angka kematian karena covid yang hanya 2,7%, tapi publik parnonya luar biasa.

Propaganda rezim yang berhasil menakut-nakuti rakyat. Saban hari kita disuguhkan banyak yang terpapar dan meninggal karena covid. Sampai-sampai jenazah covid tidak boleh dilihat keluarga. Shalat jenazah dalam peti mati di area kuburan.

Sekali lagi, hanya 2,7% penyebab kematian karena covid. Sekarang kasus covid di India sedang melonjak dijadikan alasan.

Sampai kapan publik ditipu atas nama covid-19? Sampai Indonesia jadi bagian dari Indo China Raya?

Bandung, 9 Ramadhan 1442/21 April 2021
Tarmidzi Yusuf, Pegiat Dakwah dan Sosial

Jubir PRIMA Minta Pemerintah Tolak Partisipasi Junta Militer Myanmar Dalam KTT ASEAN

Previous article

Terima Telepon Xi Jinping, Putra Mahkota Arab Saudi Dukung Jalur Sutra China

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *