News  

Pupuk Indonesia Bantah Terlibat Peredaran Pupuk Palsu Rugikan Petani Rp. 3,2 Triliun

PT Pupuk Indonesia (Persero) menyangkal terlibat dalam peredaran lima jenis pupuk palsu yang disebut Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman telah merugikan petani hingga Rp3,2 triliun. Perusahaan pelat merah ini memastikan seluruh produk yang mereka distribusikan terjamin mutu dan keasliannya.

“Sebagai produsen dan distributor resmi pupuk bersubsidi dan nonsubsidi, Pupuk Indonesia Grup memastikan seluruh produk terjamin mutu dan keasliannya,” kata Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Wijaya Laksana, kepada Inilah.com di Jakarta, Minggu (13/7/2025).

Wijaya menyebutkan, produk resmi milik Pupuk Indonesia mencakup Urea, NPK Phonska, Petroganik, Nitrea, dan NPK khusus Kakao merek Pelangi yang seluruhnya berlogo Pupuk Indonesia. Selain itu, terdapat juga NPK Phonska Plus yang diproduksi oleh Petrokimia Gresik serta sejumlah produk dari anak perusahaan lainnya.

“Seluruh produk tersebut memiliki ciri khas berupa logo perusahaan, nomor izin edar, logo SNI, dan nomor call center. Khusus pupuk subsidi, kemasan juga memuat tulisan ‘Pupuk Bersubsidi Pemerintah, Barang Dalam Pengawasan’,” katanya.

Saat disinggung soal dugaan keterlibatan pabrik pupuk swasta, CV Sayap ECP, yang memproduksi sedikitnya tujuh merek pupuk diduga palsu seperti Enviro NKCL, Enviro Phospat, Spartan NPK, Spartan NKCL, dan Spartan SP-36, Wijaya enggan memberikan tanggapan lebih jauh karena menilai bukan kewenangannya.

Seperti diketahui, dalam kasus pupuk palsu tersebut, Polda Jawa Tengah telah menetapkan Direktur CV Sayap ECP, Totok Sularto, sebagai tersangka atas dugaan produksi pupuk palsu di Boyolali, Jawa Tengah.

“Based on berita ini, dan hasil koordinasi tim kami di lapangan, produk tersebut tidak terkait dan tidak ada kesamaan dengan produk kami. Adapun produk yang dimaksud dalam pemberitaan tersebut bukan merupakan produk dari Pupuk Indonesia. Mungkin pihak Kementan atau kepolisian yang lebih bisa menjawab ya,” ujarnya.

Gelar Edukasi Program Rembuk Tani
Wijaya menambahkan, untuk melindungi petani dari pupuk tiruan, Pupuk Indonesia rutin menggelar edukasi melalui program Rembuk Tani di berbagai daerah. Kegiatan ini bertujuan memastikan petani hanya menebus produk resmi dari kios yang telah ditunjuk dan tidak tergiur produk alternatif tak jelas asal usulnya.

“Kami juga aktif mengingatkan distributor dan kios agar tidak menjual pupuk alternatif yang tidak sesuai spesifikasinya atau pupuk tiruan,” kata Wijaya.

Ia pun mengimbau petani untuk segera melaporkan jika menemukan produk pupuk yang mencurigakan. Pelaporan bisa dilakukan melalui call center bebas pulsa 0800 100 8001, WhatsApp di 0811 9918 001, atau ke Dinas Pertanian setempat.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengungkap temuan lima jenis pupuk palsu setelah membongkar kasus beras oplosan yang melibatkan 212 perusahaan. Menurutnya, pupuk palsu itu sangat merugikan karena mayoritas petani membelinya dengan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR).

“Bayangkan, kalau pupuknya palsu, itu kerugian petani, baru kita temukan di lima (jenis) pupuk palsu (potensi kerugian petani) Rp3,2 triliun. Tapi, ini bukan Rp3,2 triliunnya, petaninya langsung bangkrut, ini pinjaman, pinjaman KUR,” ucap Amran di Makassar, Sabtu (12/7/2025).

Meskipun belum merinci lokasi dan jenis pupuk palsu tersebut, Amran menegaskan pihaknya akan menindak tegas pelaku pemalsuan sesuai aturan hukum yang berlaku.

Ia mengecam keras pihak-pihak yang menipu petani dan menyebut tindakan tersebut sebagai sesuatu yang tidak etis.

“Ini tegak, ini kita harus bereskan. Selama kami di pertanian, kami fokus, kami betul-betul ingin pertanian Indonesia berjaya,” tegas Amran.

Ia juga menekankan komitmennya untuk mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui swasembada.

“Kami ingin Indonesia menjadi lumbung pangan dunia seperti perintah Bapak Presiden (Prabowo Subianto),” pungkasnya.(Sumber)