Munculnya bendera one peace akhir-akhir ini yang lengkapnya adalah bendera Bajak Laut Topi Jerami dari manga One Piece yang bergambar tengkorak, topi jerami dan dua pedang, konon sebagai simbol kebebasan dan perlawanan terhadap ketidakadilan.
Kemarahan rakyat terhadap para pejabat Pemerintah sudah begitu mendalam sehingga diekspresikan melalui bendera one peace atau ada yang menyatukan bendera merah putih (yang menggambarkan masih cinta Indonesia) dengan bendera one peace (sebagai simbol keinginan akan kebebasan dan perlawanan terhadap ketidakadilan).
Bagi rakyat, ulang tahun kemerdekaan yang ke-80 saat ini betapa terasa hampa di tengah hidup yang penuh nestapa. Segalanya dirasa telah hilang tak bersisa, hanya ampas-ampas yang tersedia. Semua sari dan kelezatannya telah ditelan habis oleh para pejabat durjana yang duduk di istana, di gedung dewan penindas rakyat, di pejabat korup di berbagai lembaga negara, termasuk para penjilat penguasa.
Ya semuanya yang bermakna kemerdekaan itu telah hilang ditelan kekuasaan dan keserakahan yang terus memperkaya diri dengan menjual negara, menjual harta negara, dan merampok harta yang dikelola negara. Semua sibuk mengambil harta yang seharusnya milik negara bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya.
80 tahun meredeka, tapi semua hak-hak rakyat telah diambil secara semena-mena oleh para pejabat rakus, korup, dan durjana. Rakyat hanya kebagian susahnya, rakyat terus dikejar untuk dipalak dan dipajak, mungkin sampai darah rakyat menjadi kering dan tubuh menjadi kaku baru berhenti.
Kedzaliman demi kedzaliman terus dipertontonkan para pejabat tanpa rasa malu dan merasa berdosa. Hak-hak rakyat yang sebenarnya merupakan hak azazi manusia meredeka telah hilang, yaitu hak terbebas dari kemiskinan hak terbebas dari ketakutan, hak terbebas dari kebodohan, hak memperoleh kesejahteraan, hak memperoleh hidup yang layak, hak memperoleh pekerjaan terhormat, termasuk hak mendapatkan bagian dari harta negara yang telah dieksploitasi secara membabi buta atas nama atau atas izin pemimpin pemerintahan.
Negeri Indonesia telah terjajah kembali bahkan lebih sadis lagi. Kedaulatan negara telah tercabik-cabik, kemandirian bangsa telah berubah menjadi bangsa jongos, hukum telah berubah jadi penghukuman terhadap yang lemah, keadilan telah berubah menjadi tirani dan kedzaliman, hati nurani telah mati berubah menjadi keserakahan, kejujuran telah hilang berubah menjadi kedustaan, kepedulian sesama telah hilang berubah jadi pemerasan, perampokan, pemaksaan, dan penindasan, moral dan etika telah hilang berganti menjadi homo homini lupus (siapa yang kuat dia dan lebih besar kekuasaanya) dialah yang menang.
Ketika kita menyaksikan bendera merah dikibarkan, yang muncul hanyalah tetes air mata kepedihan, di satu sisi ingin menghargai jasa para pahlawan yang gugur di Medan perang melawan penjajah Belanda, Inggris dan Jepang, di sisi lain, pengibaran bendera merah putih sudah tanpa makna. Para pejabat bajingan hanya berpura-pura cinta tanah air dan cinta Indonesia, pada faktanya Indonesia terus diinjak-injak dengan Prilaku bejatnya.
Kepedihan makin bertambah ketika menyaksikan rakyat saling injak satu sama lain sambil tertawa di acara panjat pinang Agustusan. Mereka saking bodohnya tidak sadar sedang diledek dan ditindas penguasa Belanda. Betapa menyedihkannya rakyat Indonesia : dibodohi, dibohongi, dimiskinkan, diinjak-injak, sampai terus dieksploitasi para pejabat durjana, tapi kenapa tetap happy-happy saja.
Sepuluh tahun rakyat telah ditindas oleh rezim Jokowi, terus ditipu dan dibohongi, diperas dan dihisap darahnya, tapi kenapa rakyat diam saja tidak mau bangkit melawan kedzaliman?
Sampai kapankah para pejabat di atas, baik yang duduk di istana, di lembaga-lembaga eksekutif, lembaga legislatif, dan lembaga yudikatif akan sadar dan menghentikan kedzalimannya kepada rakyat?
Indonesia saat ini benar-benar butuh pemimpin yang peduli dan cinta rakyat dengan bekerja jujur, benar, adil, berintegritas, profesional, dan tidak korup.
Masih adakah hari esok Indonesia bisa menikmati kemerdekaannya ?
Wallahu a’lam
Oleh : Sholihin MS (Pemerhati Social dan Politik)
Bandung, 18 Shafar 1447.












