News  

Aparat Provokasi Bikin Rakyat Marah Agar Tragedi 1998 Terulang Lagi?

Lagi-lagi aparat kepolisian bersikap represif. Kejam dan brutal. Driver ojek online alias ojol jadi korban. Affan Kurniawan (21), driver ojek tewas usai ditabrak dan terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob di Pejompongan, Jakarta Barat.

Berdasarkan dokumentasi yang viral di media sosial, terlihat tindakan brutal polisi dalam menangani unjuk rasa hari Kamis, 28 Agustus 2025 kemarin.

Tampak dalam berbagai video amatir yang viral, aparat menembakkan gas air mata, hingga kendaraan lapis baja Barracuda untuk membubarkan massa yang mulai ricuh dan memancing kericuhan.

Aparat bahkan mengejar demonstran dengan kekerasan berlebihan, menggunakan senjata api tanpa pandang bulu. Lebih tragis lagi, pada aksi 28 Agustus 2025, sebuah video menunjukkan kendaraan aparat dengan sengaja menabrak kerumunan, menggilas, hingga merenggut korban jiwa.

Tindakan aparat polisi yang menabrak dan menggilas seorang yang menggunakan jaket ojek online hingga meninggal dunia menyulut kemarahan para driver ojek online.

Sekira jam 22.00 malam, Kamis 28 Agustus 2025 ribuan ojol mengepung Markas Brimob yang berada di kawasan Tugu Tani, Kwitang, Jakarta Pusat. Ribuan ojol menuntut pertanggung jawaban atas meninggalnya Affan Kurniawan dan Mohammad Umar Amirudin dalam kondisi kritis.

Ribuan ojol bermotor ‘menyerbu’ Markas Brimob di Kwitang, Jakarta Pusat. Mereka geram dan marah atas perilaku polisi yang menggunakan kendaraan taktis melindas rekan mereka, Affan Kurniawan hingga meninggal dunia.

Cara polisi menangani unjuk rasa dan demonstran mengundang kecurigaan. Ada dugaan kesengajaan menyulut kemarahan rakyat dengan melindas driver ojek online. Kebetulan anggota ojol di Jakarta saja berjumlah jutaan.

Provokasi yang diduga disulut oleh aparat polisi agar terjadi kerusuhan seperti tahun 1998. Jutaan anggota ojol bergerak. Memantik demonstrasi besar-besaran. Rusuh. Ujung-ujungnya minta Presiden Prabowo mundur. Apalagi sehari sebelumnya beredar ajakan tragedi 98 comeback.

Seruan tragedi 98 comeback diperkuat oleh para loyalis Jokowi yang tergabung dalam Laskar Cinta Jokowi seperti dilansir rmol.id tadi malam mendesak Presiden Prabowo mundur karena dianggap tak bisa menjaga keamanan negara.

“Kerusuhan di depan DPR adalah bukti nyata bahwa negara gagal menjamin rasa aman rakyatnya. Presiden sebagai kepala negara bertanggung jawab penuh. Jika tak mampu lebih baik mundur demi kebaikan bangsa,” kata Koordinator Laskar Cinta Jokowi, Suhandono Baskoro, seperti dikutip dari rmol.id, Kamis malam, 28 Agustus 2025.

Tuntutan loyalis Jokowi ini memperkuat dugaan Geng Solo memancing di air keruh demonstrasi 25 dan 28 Agustus 2025 agar tragedi 98 berulang kembali.

Geng Solo ingin peristiwa peralihan kekuasaan tahun 1998 dari Presiden Soeharto ke Wakil Presiden BJ. Habibie berulang kembali di tahun 2025 ini, yaitu Presiden Prabowo diganti oleh anak haram konstitusi yang tak lain putra sulung Jokowi.

Meski Kapolri dan Kapolda Metro Jaya telah meminta maaf. Rakyat berharap Presiden Prabowo mengevaluasi kinerja Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebelum Tragedi 98 Comeback benar-benar terjadi.

Evaluasi ini juga untuk menepis kecurigaan publik bahwa selama ini Presiden Prabowo takut sama Geng Solo. Saatnya Presiden Prabowo bersikap!

Bandung, 5 Rabiul Awwal 1447/29 Agustus 2025
Tarmidzi Yusuf, Kolumnis