News  

Analisa Tajam Profesor Intelijen Soal Pembakaran Gedung Pemerintah Saat Demo Rusuh

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Jenderal (HOR) Prof AM Hendropriyono menyampaikan psikologi massa saat pembakaran.

Hal itu disampaikan dalam Youtube Rhenald Kasali “Rakyat Sudah Marah, DPR Kabur! Rakyat Jangan Mau Ditunggangi!” dikutip tribun-timur.com, Selasa (2/9/2025).

“Ada yang meninggal. Apapun menurut hukum, massa tak punya pribadi, Crowd mind. Kita tak punya pikiran, ada yang satu teriak bakar maka, semua bergerak padahal ia tahu itu perbuatan salah,” katanya.

Crowd mind atau pikiran kerumunan bermakna keadaan di mana individu dalam sebuah kerumunan cenderung kehilangan identitas personalnya dan ikut terbawa oleh emosi, opini, atau tindakan kolektif.

Konsep ini dibahas dalam psikologi sosial, misalnya oleh Gustave Le Bon dalam bukunya The Crowd: A Study of the Popular Mind (1895).

Sehingga, dia pun meminta kepada masyarakat Indonesia untuk tetap berpikir jernih.

“Hati-hati! Boleh hati panas tapi kepala harus tetap dingin,” katanya.

Menurutnya, gejala ini bisa bermula dari gejala sosial menjadi gejolak sosial.

“Kalau sudah terjadi (gelojak sosial) apa selanjutnya?” ujarnya.

Pada Sabtu, 30 Agustus 2025, demonstrasi besar yang awalnya berlangsung damai di berbagai kota Indonesia berubah menjadi aksi anarkis.

Massa menyerang fasilitas publik, merusak, hingga membakar gedung-gedung DPRD di Nusa Tenggara Barat (NTB), Pekalongan (Jawa Tengah), dan Cirebon (Jawa Barat).

Tragedi paling parah terjadi di Makassar, ketika massa membakar kantor DPRD setempat. Api yang cepat membesar membuat sejumlah orang terjebak di dalam gedung.

Akibatnya, tiga orang tewas, terdiri dari dua staf dewan dan satu aparatur sipil negara (ASN). Selain itu, sedikitnya empat orang mengalami luka-luka.

Kerusuhan tidak hanya berhenti di Makassar. Aksi serupa juga tercatat di Bandung, Surabaya, dan Bali, di mana massa merusak gedung pemerintah serta membakar sejumlah fasilitas publik.

Gelombang kemarahan ini didorong oleh ketidakpuasan masyarakat terhadap tunjangan DPR yang dinilai berlebihan serta kebijakan penghematan pemerintah.

Di beberapa daerah, aksi anarkis bahkan disertai penjarahan yang memperparah kerugian materiil.

Peristiwa ini menjadi catatan kelam bagi stabilitas sosial-politik Indonesia, karena tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan kerugian negara, tetapi juga merenggut korban jiwa.

Berikut daftar korban jiwa yang tewas hingga Selasa, 2 September 2025:
1. Affan Kurniawan (21 tahun) – Pengemudi ojol asal Jakarta. Ia meninggal dunia setelah dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob saat aksi di Jakarta (28/8/2025). Affan tidak ikut berdemo, namun ia kebetulan berada di lokasi saat akan mengantar pesanan makanan di Jalan Bendungan Hillir.

2. Muhammad Akbar Basri (26 tahun) – Pegawai Humas DPRD Makassar yang juga meninggal dunia akibat terjebak di dalam gedung yang kebakaran.

3. Sarinawati (26 tahun) – Pegawai DPRD Makassar yang tewas terjebak dalam kebakaran saat gedung DPRD Makassar, Sulawesi Selatan terbakar.

4. Saiful Akbar (43 tahun) – Plt Kepala Seksi Kesra Kecamatan Ujung Tanah, Makassar, ikut menjadi korban dalam insiden kebakaran karena terjebak di dalam kantor DPRD Makassar.

5. Rusdamdiansyah Rusmadiansyah (25 tahun) – Pengemudi ojol di Makassar yang tewas setelah dikeroyok massa karena dituduh sebagai intel dalam demonstrasi yang terjadi di depan Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.

6. Sumari (60 tahun) – Tukang becak asal Solo yang meninggal dunia diduga akibat terkena tembakan gas air mata saat terjadi bentrokan massa demontrasi di Surakarta (Solo).

7. Rheza Sendy Pratama (21 tahun) – Mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta yang ditemukan meninggal dengan luka memar dan bekas pijakan sepatu di tubuhnya usai mengikuti demonstrasi.

8. Andika Lutfi Falah (16 tahun) – Siswa kelas 11 di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 14 Kabupaten Tangerang, Banten.

Ia terlibat dalam kerusuhan di demo Jakarta pada 29 Agustus kemarin.

Andika dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Dr Mintoharjo dengan kondisi luka berat pada bagian kepala belakang akibat benturan benda tumpul.

9. Iko Juliant Junior (19 tahun) – mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang angkatan 2024. Ia pamit ke orang tuanya pergi ke kampus dengan membawa jas almamater.

Namun kemudian ia dikabarkan dalam kondisi kritis dan harus menjalani operasi di RSUP dr. Kariadi, Semarang. Pengakuan orang tuanya, Iko sempat mengigau meminta untuk tidak dipukuli lagi, namun penyebab sebenarnya dari kematiannya masih belum terungkap.

10. Septinus Sesa – Warga saat aksi blokade di kawasan Wirsi dan Jalan Yosudarso, Manokwari. Kasus kematiannya masih diselidiki yang melibatkan Komnas HAM, Ombudsman, hingga LBH untuk menjamin transparansi.(Sumber)