News  

Prabowo Menggeser, Erick Bersiasat: Panggung Baru Menuju Puncak Kekuasaan

Erick Thohir (IST)

Perombakan kabinet yang menggeser Erick Thohir dari posisi strategis Menteri BUMN ke kursi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) 2025–2029 sontak memantik spekulasi politik. Di balik narasi resmi sebagai rotasi teknis, publik membaca tanda-tanda lain. Pengamat politik sekaligus pegiat sosial media, Agusto Sulistio dari Indonesia Democracy Monitor (InDemo), menilai langkah Presiden Prabowo Subianto sarat dengan pesan politik yang tidak bisa dianggap remeh.

Menurut Agusto, Erick selama ini dikenal sebagai salah satu tokoh kepercayaan Presiden Joko Widodo. Posisi Erick di BUMN memberinya akses besar terhadap jejaring bisnis dan infrastruktur ekonomi negara. Dengan memindahkannya ke Kementerian Pemuda dan Olahraga, Prabowo seolah mengurangi ruang manuver Erick di sektor strategis.

“Sebagian publik menafsirkan ini sebagai cara meminimalisir pengaruh Erick yang kerap diasosiasikan dengan lingkaran Jokowi,” ujar Agusto dalam analisisnya kepada Radar Aktual, Ahad (21/9/2025).

Banyak pihak menilai kursi Menteri BUMN adalah posisi “superpower” dalam kabinet karena mengendalikan ratusan perusahaan negara dengan aset dan dana triliunan rupiah. Sebaliknya, Menpora kerap dipandang sebagai kementerian dengan anggaran relatif kecil dan isu yang lebih lunak. Namun, jika dilihat lebih dalam, justru Menpora menyimpan potensi politik yang besar dan berbeda karakter.

“Jangan lupa, olahraga adalah ruang yang paling dekat dengan generasi muda,” kata Agusto. Dari euforia sepak bola, basket, bulu tangkis, hingga e-sport, basis pemilih muda—milenial dan Gen Z—terkonsolidasi melalui semangat supporter yang masif dan fanatisme yang sulit ditandingi arena politik manapun. Jabatan Menpora membuka jalur komunikasi langsung dengan segmen pemilih terbesar pada Pemilu 2029.

Erick Thohir bukan figur baru dalam dunia olahraga. Ia pernah menjadi Ketua Panitia Asian Games 2018 dan Ketua Umum PSSI. Reputasi ini memberi modal besar untuk menggerakkan kembali ekosistem olahraga nasional. Di tangan Erick, program pembinaan atlet muda, liga nasional, dan industri olahraga bisa diintegrasikan dengan narasi kebangkitan generasi muda.

Jika dikelola dengan cerdas, Menpora bisa menjadi laboratorium politik jangka panjang. Penciptaan program beasiswa olahraga, pembangunan fasilitas di daerah, serta kampanye kesehatan dan kebugaran nasional akan langsung menyasar hati pemuda. “Erick punya akses, pengalaman, dan karisma untuk mengorkestrasi ini semua,” tambah Agusto.

Politik Indonesia pasca 2029 akan ditentukan oleh suara pemilih berusia 17–35 tahun. Melalui Menpora, Erick dapat menanamkan brand politik yang menyatu dengan aspirasi anak muda: aktif, sportif, dan dekat dengan gaya hidup digital. Kompetisi sepak bola, turnamen e-sport, dan festival kebudayaan bisa menjadi panggung kampanye kultural yang efektif tanpa harus menampilkan simbol partai secara terang-terangan.

Di saat tokoh lain masih sibuk membangun citra lewat jalur partai, Erick berpotensi menguasai lanskap pemuda dengan sentuhan emosional lewat olahraga. “Menpora bukan sekadar kementerian pinggiran. Dengan dukungan dan jaringan yang tepat, jabatan ini bisa menjadi batu loncatan menuju panggung nasional yang lebih tinggi, bahkan kursi RI 1,” tegas Agusto.

Langkah Prabowo bisa dibaca sebagai upaya mengontrol pengaruh Erick, namun justru menempatkannya di arena yang lebih cair dan berpotensi melahirkan loyalitas generasi muda. Dalam politik, sejarah menunjukkan jabatan yang tampak “kecil” sering menjadi titik awal kebangkitan besar. Erick Thohir kini berada di posisi yang tepat untuk menguji teori itu.

Apakah ini manuver jitu Prabowo untuk mengendalikan, atau justru kesempatan emas bagi Erick untuk menyiapkan lompatan besar menuju 2029? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: panggung olahraga kini resmi menjadi gelanggang politik berikutnya.