Reliji  

Tumpukan Istighfar Adalah Kebaikan

Bagi seorang Mukmin, istighfar merupakan kebutuhan yang tak tergantikan. Sebab, keimanan saja tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari dosa. Iman itu sendiri bisa bertambah dan berkurang. Ketika imannya melemah, seorang Mukmin akan lebih mudah terjerumus dalam kesalahan.

Lebih dari itu, manusia juga cenderung cepat melupakan dosa yang pernah diperbuat. Ketika dosa-dosa terlupakan, seseorang bisa merasa seolah dirinya bersih atau hanya sedikit melakukan kesalahan. Padahal, inilah kondisi yang sangat berbahaya. Jika tidak diimbangi dengan istighfar, dosa-dosa bisa menumpuk tanpa disadari.

Karena itu, istighfar sejatinya adalah anugerah dari Allah SWT bagi orang beriman. Sungguh merugi jika catatan amal seseorang kosong dari istighfar, sebab pada hari kiamat kelak, manusia akan sangat membutuhkan amalan yang mampu menyelamatkannya dari azab dan hukuman Allah.

Kebutuhan Darurat
Hadis tersebut memberikan motivasi kuat bagi kita untuk memperbanyak istighfar. Sebab, istighfar bukan hanya sarana memohon ampunan, tetapi juga dapat menjadi solusi atas berbagai permasalahan sekaligus menutup pintu-pintu keburukan.

Dalam hadis itu disebutkan kata thuba yang berasal dari kata thayyib, artinya kebaikan. Jadi, thuba bermakna kondisi yang baik dan kehidupan yang penuh kebahagiaan. Ada pula yang menafsirkan thuba sebagai nama salah satu pohon di surga. (Lihat Mirqatul-Mafatih Syarah Misykatul-Mashabih karya Ali bin Sulthon Muhammad al-Qori, 4/1632).

Penjelasan ini menegaskan betapa pentingnya istighfar. Selain menghapus dosa, istighfar juga bisa menjadi jalan datangnya berbagai kenikmatan hidup di dunia.

Allah SWT berfirman ketika menceritakan Nabi Nuh AS:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

“Maka Aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh [71]: 10-12).

Di akhirat kelak, istighfar juga menjadi penyebab seseorang selamat dari hukuman dosa-dosanya. Saat Allah SWT memperlihatkan catatan amal, setiap manusia akan terkejut karena tidak ada sedikit pun perbuatan—baik atau buruk—yang terlewatkan.

Bagi mereka yang catatan dosanya menumpuk, penyesalan pun tak terhindarkan. Bahkan, orang-orang kafir berharap bisa kembali menjadi tanah setelah melihat hukuman berat akibat dosa-dosa mereka.

Sebaliknya, orang yang catatan amalnya dipenuhi istighfar akan merasakan ketenangan. Rasa cemas, takut, dan penyesalan yang dulu menghantui di dunia berganti menjadi optimisme dan kegembiraan. Allah SWT mengampuni dosa-dosanya, hingga ia tetap memperoleh kebahagiaan di saat orang lain dicekam ketakutan menanti azab.

Melihat betapa besarnya peran istighfar, para ulama bahkan menganggapnya sebagai kebutuhan yang sifatnya mendesak bagi setiap Muslim.

Ibnu Taimiyah berkata, “Maka seorang hamba butuh kepada istighfar siang dan malam bahkan sangat mendesak (mudhtharr) baginya untuk selalu istighfar pada setiap ucapan dan keadaan, dalam keadaan sendiri atau di depan orang. Sebab dalam istighfar terdapat maslahat dan menghadirkan kebaikan dan mencegah keburukan. Melalui istighfar, seseorang meminta tambahan kekuatan dalam amalan hati, fisik, dan meminta tambahan keyakinan dan keimanan.” (Majmu’ul-Fatawa, 11/696).

Istighfar Setelah Berbuat Baik
Istighfar tidak selalu terkait dengan perbuatan dosa atau kesalahan. Jika kita mencermati nash al-Qur’an dan Hadits, perintah beristighfar justru juga datang setelah melakukan berbagai amal kebaikan.

Misalnya, setelah menunaikan shalat, umat Islam dianjurkan membaca istighfar sebanyak tiga kali. Hal yang sama juga berlaku usai berwudhu atau menghadiri majelis ilmu, di mana doa yang dipanjatkan sering kali berisi permohonan ampun kepada Allah SWT. Lalu, apa hikmah di balik anjuran ini?

Syaikh Abdurrahman bin Nashir Ass’adi berkata, “Dan demikianlah sudah sepantasnya seorang hamba setiap kali menuntaskan suatu ibadah agar beristighfar atas kekurangan yang ada di dalamnya dan bersyukur atas nikmat diberikannya taufiq menjalankan ibadah tersebut.” (Taisirul-Karimirrahman fi Tafsiril-Kalamil-Mannan, hal 92).

Kebaikan yang kita lakukan jauh dari kata sempurna. Ada celah dan kekurangan terutama yang berkaitan dengan keikhlasan dan kekhusyukan.

Para ulama salaf cukup merasakan hal itu. Mereka mengatakan bahwa tidak ada yang lebih berat untuk dilatih selain keikhlasan. Melalui istighfar, celah dan kekurangan itu ditutupi.

Ibnu Taimiyah berkata, “Istighfar itu mengeluarkan seorang hamba dari perbuatan yang dibenci menuju perbuatan yang disukai, dari amalan yang kurang menuju amal yang sempurna. Istighfar juga mengangkat seorang hamba dari posisi yang rendah menuju posisi yang tinggi dan sempurna.” (Majmu’ul-Fatawa, 11/696).

Istighfar Tanda Keshalihan
Keshalihan merupakan tujuan utama setiap orang beriman. Harapan untuk meraih surga selalu sejalan dengan upaya mewujudkan keshalihan. Salah satu ciri keshalihan adalah ketekunan dan konsistensi dalam beristighfar. Semakin giat seseorang beribadah, semakin besar pula kesadarannya akan banyaknya dosa yang mungkin diperbuat.

Hal ini tergambar dengan sangat indah dalam kehidupan para salaf. Di balik amal shalih yang begitu besar, mereka tetap merendah, merintih, bahkan menangis karena menyadari kesalahan diri. Mereka memiliki pandangan yang sangat mendalam dan teliti dalam menilai dosa-dosa mereka.

Ibnu Rajab berkata, “Dan mereka para salaf selain bersungguh-sungguh dalam beramal shalih saat sehat, juga selalu memperbaharui taubat dan istighfar ketika sakit menjelang wafat dan berusaha menutup amalannya dengan istighfar dan kalimat tauhid.” (Lathaiful-Ma’arif, hal 362).

Beberapa di antara mereka bahkan pernah berkata, “Andai saja dosa memiliki bau busuk, tentu tak seorang pun sanggup duduk di dekatku.”

Beginilah keadaan para salafus-shalih dalam menapaki kehidupan. Mereka tidak pernah merasa puas apalagi terlena dengan amal-amal luar biasa yang telah mereka lakukan.

Amru bin Ash, seorang sahabat yang telah mengukir prestasi gemilang di medan jihad, berkata menjelang wafatnya, “Ya Allah, Engkau memerintahkan kepada kami lalu kami bermaksiat, Engkau melarang kami tapi kami melakukannya dan kami tidak dapat lolos dari akibat dosa itu kecuali ampunan-Mu, tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau..” Ia mengulang-ngulangnya hingga wafat.” (Lathaiful-Ma’rif, hal 362).*