Ketua Umum DPP Aliansi Profesional Indonesia Bangkit (APIB), Erick Sitompul, menyampaikan rasa prihatin dan duka mendalam atas peristiwa ledakan yang terjadi di Masjid kawasan SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Jumat (7/11/2025) siang.
Ledakan yang terjadi saat berlangsungnya salat Jumat itu dilaporkan terjadi dua kali — pertama di dalam masjid dan kedua di pintu keluar masjid — dan mengakibatkan puluhan siswa mengalami luka-luka. Beberapa di antaranya disebut mengalami luka serius dan harus menjalani operasi di rumah sakit.
“Saya sangat kaget dan prihatin atas terjadinya ledakan tersebut. Kami meminta pihak Kepolisian segera mengungkap siapa pelaku dan apa motif di balik ledakan di SMA 72 Jakarta,” ujar Erick Sitompul dalam keterangannya kepada media, Sabtu (8/11/2025).
Menurut Erick, kejelasan mengenai pelaku dan motif sangat penting agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi di tengah masyarakat. Ia menilai banyak praduga dan spekulasi yang beredar di media sosial, mulai dari kemungkinan pelaku perorangan hingga dugaan adanya keterlibatan kelompok radikal.
“Kalau ini dilakukan oleh kelompok radikal yang terorganisir, maka harus diungkap siapa dalang dan jaringannya. Mereka harus dihukum seberat-beratnya karena telah melukai anak-anak sekolah yang seharusnya mendapat perlindungan,” tegas Erick.
Erick juga menyoroti fakta bahwa selama beberapa tahun terakhir, aksi terorisme di Indonesia relatif mereda. Karena itu, ledakan di kawasan sekolah negeri yang memiliki sistem keamanan cukup ketat menimbulkan tanda tanya besar.
“Masjid di lingkungan sekolah negeri itu tentu memiliki pengamanan yang cukup. Maka kejadian ini sangat mengejutkan dan harus diselidiki secara serius,” tambahnya.
Lebih lanjut, Erick meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memberikan atensi penuh terhadap penanganan para korban. Ia juga mengimbau agar para siswa yang menjadi korban tidak hanya mendapat perawatan medis, tetapi juga pendampingan psikologis.
“Anak-anak murid harus ditangani secara intensif sampai sembuh total, baik secara fisik maupun psikis. Jangan sampai mereka mengalami trauma berkepanjangan yang mengganggu konsentrasi belajar,” pungkas Erick Sitompul.











