Ketua Umum Persatuan Pergerakan Jaringan Nasional Aktivis 1998 (PPJNA 98), Anto Kusumayuda, memberikan apresiasi yang tinggi kepada Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, atas langkah cepat dan empatinya mengunjungi para korban ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara. Aksi kemanusiaan tersebut, menurut Anto, menunjukkan sikap tanggap dan kepedulian seorang pemimpin terhadap tragedi yang mengguncang dunia pendidikan.
“Langkah Pak Dasco untuk turun langsung menemui korban, pihak sekolah, dan keluarga, merupakan bentuk empati sekaligus teladan bagi pejabat publik. Beliau tidak hanya hadir sebagai pejabat, tetapi sebagai manusia yang peduli terhadap keselamatan generasi muda,” ujar Anto Kusumayuda dalam keterangan persnya, Sabtu (8/11/2025).
Ledakan yang terjadi di SMAN 72 saat salat Jumat kemarin sempat mengagetkan publik. Peristiwa ini menyebabkan beberapa siswa mengalami luka-luka dan menimbulkan kepanikan di lingkungan sekolah. Polisi kini tengah mendalami motif dan latar belakang pelaku yang diduga merupakan seorang pelajar di sekolah tersebut.
Anto menyoroti temuan awal aparat yang menyebut pelaku diduga belajar merakit bahan peledak dari media sosial. Menurutnya, hal ini menjadi sinyal serius bahwa literasi digital di kalangan pelajar masih sangat lemah.
“Jika benar pelaku mempelajari cara membuat bahan peledak dari media sosial, ini menandakan betapa rentannya ruang digital kita terhadap konten berbahaya. Pemerintah, sekolah, dan masyarakat harus lebih aktif memperkuat literasi digital, terutama di kalangan remaja,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, faktor perundungan atau bullying yang diduga menjadi salah satu pemicu aksi nekat tersebut perlu menjadi perhatian bersama. “Pelaku disebut sering dibully. Ini masalah sosial yang sering dianggap sepele, padahal dampaknya bisa sangat fatal. Kita perlu membangun budaya empati di sekolah,” tegasnya.
Menurut Anto, kejadian di SMAN 72 tidak boleh hanya dilihat sebagai kasus kriminal semata, tetapi juga sebagai peringatan keras bagi dunia pendidikan untuk memperkuat pendidikan karakter dan pengawasan terhadap perilaku siswa.
“Sekolah bukan sekadar tempat belajar akademik, tapi tempat membentuk karakter. Guru, orang tua, dan pemerintah harus berkolaborasi menciptakan ekosistem yang aman dan sehat bagi pelajar,” kata Anto.
PPJNA 98, lanjutnya, berencana mendorong gerakan nasional bertajuk “Sekolah Damai dan Cerdas Digital” yang akan berfokus pada dua hal: pencegahan kekerasan di sekolah dan peningkatan literasi media sosial. Program ini diharapkan dapat menjadi gerakan sosial lintas komunitas yang melibatkan aktivis 98, guru, siswa, dan lembaga pendidikan di seluruh Indonesia.
“Kami ingin memastikan tragedi seperti ini tidak terulang. Anak-anak bangsa harus mendapatkan ruang aman untuk belajar dan tumbuh tanpa rasa takut atau pengaruh negatif dari dunia maya,” ujar Anto.
Dalam kesempatan terpisah, beberapa warga sekitar SMAN 72 juga menyampaikan apresiasi kepada Sufmi Dasco Ahmad yang hadir langsung di lokasi pasca-ledakan. Mereka menilai kehadiran Dasco memberi ketenangan dan menunjukkan bahwa tragedi tersebut menjadi perhatian serius negara.
“Beliau datang, menenangkan siswa dan guru, serta berkoordinasi dengan aparat. Itu bentuk tanggung jawab sosial seorang pemimpin,” kata Deni, salah satu warga Kelapa Gading.
Tragedi di SMAN 72 menjadi pengingat bahwa tantangan pendidikan di era digital bukan hanya tentang kurikulum dan fasilitas, tetapi juga tentang kemampuan melindungi generasi muda dari paparan kekerasan, perundungan, dan konten destruktif.
“Langkah cepat Pak Dasco adalah simbol kepedulian. Namun, lebih dari itu, kita semua harus belajar dari kejadian ini — bahwa pendidikan tanpa empati dan literasi sosial hanya akan melahirkan luka baru bagi bangsa,” tutup Anto Kusumayuda.












