Lawrence Stroll: Saya Takkan Menyerah Hingga Aston Martin Racing Juara

Stroll ingin Aston Martin Racing ke puncak Formula 1. Pengusaha asal Kanada itu memberikan peringatan bahwa ia tidak akan menyerah hingga tujuan tersebut tercapai.

Bisa dibilang, petualangan F1 ayah Lance Stroll ini dimulai pada pertengahan 2018, ketika konsorsiumnya menyelamatkan Force India, yang kemudian menjadi Racing Point. Kemudian, pada Januari 2020, ia menginvestasikan 182 juta pounds (sekira Rp3,9 triliun) di Aston Martin untuk mendapatkan 16,7 persen saham di perusahaan tersebut. Tim F1 miliknya mulai membalap pada 2021 sebagai Aston Martin F1 Team. Sejak saat itu, ia telah berinvestasi untuk mencoba menjadikan tim yang bermarkas di Silverstone tersebut sebagai tolok ukur.

Dalam sebuah wawancara di saluran YouTube Aston, Stroll menjelaskan ambisi dan tujuan utamanya. “Saya tidak kenal lelah. Saya tidak akan menyerah sampai saya menyelesaikan misi. Dalam hal ini, misinya adalah menjadi juara dunia,” ia memulai.

Sebagai seorang yang ahli dalam meraih kesuksesan dalam bisnis, Stroll Sr tidak merahasiakan fakta bahwa, dari semuanya, Formula 1 adalah yang paling mempengaruhinya. Oleh karena itu, yang paling memberinya kegembiraan sekaligus kekecewaan.

“Saya sangat beruntung dan sangat sukses dalam semua usaha yang saya lakukan. Ini adalah yang paling penuh gairah yang pernah saya alami, yang paling tulus, yang paling mendorong saya, paling menggairahkan saya, paling membuat saya frustrasi. Ketika mengecewakan, itu yang paling menyakitkan,” ucapnya.

Stroll sadar bahwa jalan menuju kejayaan masih panjang, jadi dia bersabar dengan harapan waktunya akan tiba. “Dalam bisnis ini, ada banyak kekecewaan. Ada banyak titik terendah sebelum Anda mencapai titik tertinggi. Jadi, Anda tahu, ini adalah masalah kesabaran, yang merupakan kata yang sulit saya pahami dalam kosakata saya,” jelasnya.

Ketika mengambil alih tim, ia berbicara tentang memenangkan kejuaraan dunia dalam waktu sepuluh tahun, dan ia sudah berada di tengah-tengah jangka waktu tersebut. “Saya berkata, ketika saya mengambil alih tim ini, ketika saya membeli tim ini, sekitar enam tahun yang lalu, bahwa ini akan menjadi perjalanan selama 10 tahun untuk memenangi kejuaraan dunia Formula 1,” lanjutnya.

“Menang, itulah tujuan kami berada di sini. Di sini, kesuksesan diukur dari performa Anda. Ada stopwatch yang menentukan segalanya.”

Jika pada tahun 2026, dengan perubahan peraturan terbesar dalam sejarah F1 (baik aerodinamika maupun mesin) Aston Martin tidak dapat melakukannya dengan benar, jelas akan mengecewakan mengingat tim teknis yang telah mereka bentuk dan fasilitas kelas dunia yang telah mereka bangun.

Bahkan dengan Adrian Newey sebagai pimpinan, mereka tahu bahwa kemenangan pada 2026 bukanlah jaminan, tetapi mereka setidaknya mencari dasar untuk menang di tahun-tahun berikutnya. Hanya pada saat itulah kesabaran Stroll senior akan diuji.(Sumber)