Reliji  

Ucapan Baik Jauh Lebih Bernilai Dari Sedekah Yang Besar Sekalipun

Manusia diciptakan bukan hanya sebagai makhluk individu, tetapi juga makhluk sosial yang harus hidup berdampingan dan saling berinteraksi. Seorang muslim tidak boleh tenggelam dalam kesalehan pribadi hingga lupa terhadap keberadaan tetangga dan sesama di sekitarnya.

Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan sempurna dalam menjaga keseimbangan hubungan—baik dengan Allah SWT, dengan sesama manusia, maupun dengan alam. Beliau adalah uswah hasanah, contoh terbaik dalam seluruh aspek kehidupan: sebagai pribadi, suami, ayah, kakek, hingga pemimpin umat.

Karena itu, umat Islam wajib meneladani ajaran dan akhlak Rasulullah ﷺ dalam setiap langkah kehidupan. Pendapat atau perbuatan selain beliau boleh diikuti selama sejalan dengan petunjuknya, namun harus ditinggalkan bila bertentangan. Terlebih lagi, menjadikan tokoh di luar Islam sebagai panutan dalam hal akhlak dan keyakinan adalah hal yang berisiko, sebab tidak ada jaminan keselamatan dunia dan akhirat di luar ajaran Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ diutus untuk menyempurnakan akhlak. Sebagaimana sabdanya yang populer :

انمابعثت لاتمم مكارم الاخلاق. اخرجه احمد والحاكم والبخاري فى ادب المفرد

Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak. (Riwayat Imam Ahmad, Hakim dan Bukhari dalam kitab adabul mufrad).

Akhlak Rasulullah ﷺ adalah Al-Qur’an. Beliau dihiasi dengan akhlak akhlak yang mulia dan dijauhkan dari akhlak yang tercela.  Beliau juga dianugerahi kalimat yang padat, ringkas dan penuh makna (jawamiul kalim).

Di antara akhlak Rasulullah ﷺ adalah berkata baik dan tidak keluar dari lisannya kecuali itu adalah wahyu. Rasulullah bersabda :

( من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذ جاره، ومن كان يؤمن بالله واليوم الأخر فليكرم ضيفه، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت ) رواه البخاري .

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sakiti tetangganya, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, muliakanlah tamunya dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam. (Hadist riwayat Bukhari)

Hadits Nabi ﷺ menegaskan, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” Pesan ini menunjukkan bahwa keimanan tidak cukup hanya tertanam di dalam hati, tetapi harus dibuktikan melalui ucapan dan perbuatan.

Iman sejatinya bermuara pada akhlak yang luhur. Begitu pula syariat Islam—shalat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya—bertujuan untuk melahirkan akhlak mulia. Iman diibaratkan sebagai akar, syariat sebagai batang dan cabang, sementara akhlak adalah buah yang dihasilkannya. Maka, perkataan yang baik termasuk bagian dari buah keimanan yang paling indah, bahkan nilainya bisa lebih berharga daripada sedekah besar sekalipun.

Di dalam surah Al-baqarah 263, Allah juga berfirman :

قول معروف ومغفرة خير من صدقة يتبعها اذى و الله غني حليم

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya, Maha Penyantun.