Setiap insan yang melangkah ke pelaminan tentu memimpikan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Namun, tak sedikit yang harus menghadapi kenyataan pahit ketika bahtera pernikahan yang dibangun dengan harapan indah justru kandas di tengah gelombang ujian kehidupan.
Mengapa terjadi perceraian?
Pernikahan adalah bagian dari sunnah Rasulullah ﷺ, sebuah ikatan suci yang diharapkan membawa ketenangan, kebahagiaan, dan keberkahan dalam hidup. Melalui pernikahan, setiap insan mendambakan ridha Allah, bahkan berharap ikatan itu menjadi jalan menuju surga-Nya.
Namun, menjaga bahtera rumah tangga agar tetap kokoh bukan perkara mudah. Tak sedikit yang terombang-ambing di tengah gelombang ujian hingga akhirnya karam dalam perceraian. Karena itu, penting bagi setiap pasangan memahami prinsip-prinsip dasar agar pernikahan tetap terjaga dan berumur panjang.
Sebelum Menikah Perkokoh Dulu Apa Tujuan Menikah
Tujuan utama dari pernikahan sejatinya bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Sebagaimana hakikat hidup manusia adalah untuk beribadah dan menghambakan diri kepada Sang Khalik, demikian pula pernikahan menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam ikatan suci itu, cinta dan tanggung jawab bertransformasi menjadi amal ibadah yang bernilai di sisi Allah.
Sesuai kemaunNya dalam QS: 51/56. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
wa maa kholaqtul-jinna wal-ingsa illaa liya’buduun
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS: Az-Zariyat 51: Ayat 56)
Nah dari ayat jelas bahwa Allah tidak begitu saja menciptakan manusia kedunia ini tiada lain kecuali hanya beribadah.
Apa tujuan yang spesifik dari nikah ini?
Mendapat kan keluarga Asmara sakinah mawaddah dan rahmah. Sesuai dengan kemauan Allah swt. QS: Ar Ruum (30) :21
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖۤ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَا جًا لِّتَسْكُنُوْۤا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
wa min aayaatihiii an kholaqo lakum min angfusikum azwaajal litaskunuuu ilaihaa wa ja’ala bainakum mawaddataw wa rohmah, inna fii zaalika la`aayaatil liqoumiy yatafakkaruun
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS: Ar-Rum 30: Ayat 21)
Ayat ini ditujukan bagi orang-orang yang berfikir.
Lalu, apa sebenarnya makna sakinah? Dalam Islam, sakinah berarti ketenangan dan ketenteraman jiwa. Ia menggambarkan keadaan hati yang damai, jauh dari kegelisahan dan kegundahan. Sebaliknya, hati yang resah biasanya muncul karena dosa dan kesalahan yang belum disadari atau belum disucikan dengan taubat.
Untuk mencapai sakinah, manusia perlu kembali kepada ajaran Allah — bertaubat dan menjauhkan diri dari hal-hal yang menodai fitrah ketaatan. Sebab, ketika pondasi spiritual ini rapuh, pernikahan pun mudah terguncang. Perceraian sering kali menjadi tanda bahwa landasan keimanan dan komitmen dalam pernikahan tidak dibangun di atas dasar yang kokoh.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَا بِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَآءِ ۙ
a lam taro kaifa dhoroballohu masalang kalimatang thoyyibatang kasyajaroting thoyyibatin ashluhaa saabituw wa far’uhaa fis-samaaa`
“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit,” (QS: Ibrahim 14: Ayat 24)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
تُؤْتِيْۤ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ بِۢاِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَ مْثَا لَ لِلنَّا سِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ
tu`tiii ukulahaa kulla hiinim bi`izni robbihaa, wa yadhribullohul-amsaala lin-naasi la’allahum yatazakkaruun
“(pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim 14: Ayat 25)
Akar pernikahan yang baik maka akan menghasilkan sakinah mawaddah dan rahmah dalam rumah tangganya. Rumah tangga Surga.
Akar pernikahan yang jelek akan menghasilkan rumah tangga Neraka. Ini bisa dikaji QS: 14/26
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيْثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيْثَةِ ٭ِجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْاَ رْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَا رٍ
wa masalu kalimatin khobiisating kasyajarotin khobiisatinijtussat ming fauqil-ardhi maa lahaa ming qoroor
“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (QS: Ibrahim 14: Ayat 26)
Dari pondasi yang rapuh itulah sering muncul berbagai masalah dalam rumah tangga — mulai dari pertengkaran kecil yang berulang, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga berujung pada perceraian. Semua itu berawal dari akar pernikahan yang tidak sehat, yang sejak awal mungkin tidak ditanamkan dengan niat dan prinsip yang benar sesuai tuntunan Allah SWT.












