Reliji  

Kecerdasan Sejati di Tengah Fitnah Zaman

Tidak dapat dipungkiri, kita hidup di masa penuh ujian dan fitnah yang mengguncang hampir setiap sisi kehidupan. Baik dalam urusan agama maupun dunia, manusia kerap dibuat bingung oleh beragam ideologi dan pemikiran modern yang sering kali berseberangan dengan akidah Islam.

Pemikiran-pemikiran baru itu kerap dikemas sebagai wujud kecerdasan khas zaman modern, padahal jika dilihat dari kacamata Islam, banyak di antaranya justru mencerminkan kemunduran berpikir — bahkan dapat dikategorikan sebagai bentuk kejahilan masa kini.

Satu benang merah yang bisa ditarik ialah bahwa ukuran kecerdasan sejati bukanlah sejauh mana seseorang mengikuti arus pemikiran modern, melainkan sejauh mana jalan hidup dan pola pikirnya selaras dengan aturan Allah SWT. Siapa yang berpijak di atas hukum Ilahi, dialah orang cerdas sesungguhnya. Sebaliknya, mereka yang berpaling dari tuntunan-Nya hanyalah terperangkap dalam kebodohan.

Dalam kesempatan ini, penulis ingin mengajak merenungi hal yang tampak sederhana namun sarat makna: tentang kulit manusia. Mengapa hal ini penting? Karena justru dari perkara yang tampak sepele inilah muncul potensi fitnah besar, terutama di era modern ini.

Secara ilmiah, kulit merupakan organ terbesar pada tubuh manusia — luasnya mencapai sekitar dua meter persegi atau sekitar 15 persen dari berat tubuh, dengan bobot sekitar tiga kilogram. Fungsinya amat vital: menjaga suhu tubuh, melindungi organ dalam, menjadi indra peraba, membantu ekskresi, hingga mendukung pembentukan vitamin D. Semua ini merupakan karunia luar biasa dari Allah SWT yang sepatutnya dijaga dan disyukuri sesuai dengan fitrahnya.

Namun, kini kita menyaksikan banyaknya produk perawatan kulit — pelembap, pemutih, hingga penghalus — yang sebagian besar ditujukan bagi kaum hawa. Pada titik inilah muncul persoalan. Di balik industri kecantikan yang tampak glamor, tersimpan agenda komersialisasi tubuh wanita. Kulit, yang sejatinya merupakan aurat dan harus dijaga kehormatannya, kini dialihkan fungsinya menjadi komoditas visual.

Melalui iklan, majalah, dan media hiburan, para kapitalis menanamkan doktrin baru kepada perempuan: bahwa kecantikan identik dengan kulit putih, halus, dan bersinar — serta harus ditampilkan di hadapan publik. Wanita pun secara tidak sadar “dididik” untuk menampilkan auratnya demi memenuhi standar kecantikan buatan tersebut.

Padahal, dalam pandangan Islam, kulit wanita memiliki kehormatan yang harus dijaga. Kecantikan sejati bukanlah yang dipamerkan, melainkan yang terpelihara dalam ketaatan. Maka, siapa pun yang menjadikan kecantikan sebagai alasan untuk melanggar batas-batas syariat sejatinya telah tergelincir dari makna kecerdasan hakiki. Karena, orang yang menyalahi aturan Allah SWT — betapa pun modern penampilannya — tetap tergolong dalam kebodohan spiritual.

Di dalam Kitab Syifau’s Saqim Fi Ahadis Munqidhul Adziem halaman 9 dalam hadits urutan yang ke-6 yang disusun oleh Al Habib Muhammad bin Abdullah Al Haddar disebutkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Naim Ra. yang menjelaskan bahwasannya Rasulullah ﷺ Wassalam bersabda,

ابن آدم أطَعۡ رَبَّك تُسمّی عَاقلاً ولا تعصِهِ فتسمی جاهلا

ً“Wahai anak Adam taatlah kalian kepada Tuhan kalian (Allah) maka kalian akan disebut sebagai orang yang berakal dan jangan kalian bermaksiat kepada Allah maka kalian akan disebut sebagai orang yang bodoh.” (HR. Abu Naim).

Sesuai hadis tersebut berarti orang yang menutup kulitnya (aurat) adalah orang yang berakal karena sudah patuh kepada perintah Tuhannya. Dan sebaliknya mereka yang mengumbar aurat maka mereka adalah orang yang tidak berakal dalam pandangan Islam.

Di dalam Al Quran Allah Swt berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا

 

“Sesungguhnya, orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. An-Nisa: 56).

Penjelasan Al-Qur’an tentang fungsi kulit telah tersirat dengan sangat jelas dalam salah satu ayat yang menjelaskan bahwa indra perasa sakit berada pada kulit manusia. Jika kulit itu hilang atau rusak, maka rasa sakit pun ikut lenyap.

Fakta ilmiah ini baru dibuktikan berabad-abad kemudian, tepatnya pada masa Perang Dunia II (1939–1945). Saat itu, para dokter militer mengamati prajurit yang mengalami luka parah di medan perang. Mereka menemukan bahwa rasa nyeri hanya dirasakan ketika kulit masih utuh. Namun, begitu kulit terkelupas, rasa sakit menghilang sama sekali.

Dari hasil penelitian itu, para ilmuwan menyimpulkan bahwa ujung-ujung saraf pada kulitlah yang menjadi pusat sensasi rasa sakit, bukan organ tubuh bagian dalam. Kesimpulan ini memperkuat apa yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an lebih dari 14 abad sebelumnya.

Sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Zaghloul El-Naggar dalam karyanya Sekitar Ayat-Ayat Kosmos dalam Al-Qur’anul Karim (Jilid 1, hlm. 46), temuan tersebut menjadi bukti kuat bahwa wahyu Allah SWT mendahului pengetahuan ilmiah modern dalam menjelaskan rahasia penciptaan manusia.

Temuan ini sekaligus mengingatkan manusia untuk menggunakan akal dalam kerangka wahyu. Akal yang tunduk pada petunjuk Allah akan memahami bahwa setiap perintah, termasuk menjaga dan menutup aurat, memiliki hikmah dan dasar ilmiah yang mendalam. Sang Pencipta tentu paling mengetahui hakikat ciptaan-Nya, dan melalui Al-Qur’an, Dia telah memberikan panduan terbaik tentang bagaimana manusia seharusnya memperlakukan tubuhnya dengan penuh kehormatan.

Bahaya Saksi Bisu

وَيَوْمَ يُحْشَرُ أَعْدَاءُ اللَّهِ إِلَى النَّارِ فَهُمْ يُوزَعُونَ (١٩) حَتَّى إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٢۰) وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (٢١) وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلا أَبْصَارُكُمْ وَلا جُلُودُكُمْ وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ (٢٢) وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ(٢٣)

“Dan (ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allah digiring ke dalam neraka, lalu mereka dikumpulkan (semuanya). Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka atas apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab, “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dialah yang menciptakan kamu pada yang pertama kali dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”(QS. Fushilat : 19-23).

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwasannya kulit akan menjadi saksi di hadapan pengadilan Allah Swt kelak di akhirat. Kulit sebagai indra peraba dan perasa akan menjadi saksi bersama indera pendengaran, dan indera penglihatan.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdur Rahim, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Qadim, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Ubaid Al-Maktab, dari Asy-Sya’bi, dari Anas ibnu Malik r.a. yang menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ kelihatan tertawa dan tersenyum, lalu beliau ﷺ bersabda, “Tidakkah kalian menanyakan kepadaku mengapa aku tertawa?” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tertawa?” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Aku merasa heran dengan bantahan yang dilakukan oleh seseorang hamba terhadap Tuhannya di hari kiamat. Hamba itu berkata, “Ya Tuhanku, bukankah Engkau telah berjanji kepadaku bahwa Engkau tidak akan aniaya terhadap diriku?-” Tuhan menjawab, “Benar.” Hamba itu berkata, “Sesungguhnya aku tidak mau menerima saksi terhadap diriku kecuali dari pihakku.” Maka Allah Swt. berkata, “Bukankah sudah cukup Aku sebagai Saksi (mu) dan para malaikat yang mulia juru tulis amal perbuatan?” Ini diulangi berkali-kali. Kemudian dikuncilah mulut si hamba itu dan berkatalah semua anggota tubuhnya, menceritakan apa yang telah diperbuatnya (selama di dunia). Maka si hamba itu berkata (kepada semua anggota tubuhnya), “Celaka dan siallah kalian semua, dahulu aku membelamu.”

Merawat tubuh agar tampak rapi dan menarik tentu bukan hal yang salah, selama dilakukan dalam batas-batas yang dituntunkan syariat. Namun, akan menjadi bencana ketika perhatian berlebihan terhadap fisik justru membuat manusia lalai dari tujuan penciptaannya. Ironisnya, tubuh yang dibanggakan dan dijaga mati-matian itu kelak bisa berubah menjadi saksi pemberat di hadapan pengadilan Allah SWT di akhirat.

Hal itu terjadi ketika seseorang salah arah dalam merawat dirinya. Kulit yang semestinya dijaga sebagai aurat justru dipamerkan kepada publik demi mengejar pujian dan pengakuan. Padahal, tanpa disadari, tindakan itu menjadikan dirinya sekadar objek pandangan dan komoditas bagi kepentingan duniawi.

Perlu diingat, kulit adalah organ terluas pada tubuh manusia. Semakin banyak bagian tubuh yang ditampakkan kepada yang bukan mahram, semakin luas pula area yang kelak akan bersaksi di hadapan Allah SWT. Artinya, membuka aurat sejatinya sama dengan menyiapkan kehancuran diri sendiri — bentuk kezaliman terhadap tubuh yang seharusnya dijaga dengan penuh amanah.

Betapa ironisnya, manusia di akhir zaman justru rela menghabiskan banyak harta untuk memanjakan kulit — yang pada akhirnya akan menjadi santapan tanah dan belatung di liang kubur. Kulit yang dimanjakan di dunia, bisa menjadi musuh di akhirat. Inilah kebodohan sejati: mengagungkan sesuatu yang fana, sementara melupakan yang abadi.

Sungguh benar firman Allah Swt yang menyatakan bahwa,

“Maka Allah sekali-kali tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiri.” (QS: Ar Ruum: 9).

Maka sungguh logis sabda Rasulullah ﷺ yang menyebutkan bahwa orang berakal adalah mereka yang taat kepada Allah, sementara orang bodoh adalah mereka yang menentang aturan-Nya. Kecerdasan sejati bukan diukur dari kepintaran duniawi, melainkan dari kemampuan memilih keselamatan abadi di akhirat dibanding kesenangan sesaat yang menipu.

Dengan demikian, kulit yang membalut tubuh manusia bukan sekadar lapisan fisik, tetapi juga saksi bisu yang kelak akan berbicara di hadapan Allah SWT. Ia merekam setiap perbuatan, setiap sentuhan, dan setiap kali aurat terbuka tanpa hak. Kulit itu bekerja tanpa henti, menulis catatan yang kelak akan menjadi bukti di pengadilan Ilahi.

Karena itu, waspadalah. Jangan sampai nikmat yang dianugerahkan Allah justru berubah menjadi penyesalan di hari pembalasan.

Wallahu a’lam bis shawab.