Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, KH Anwar Abbas, menyatakan keraguannya terhadap inisiatif Dewan Perdamaian Gaza yang digagas oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Menurut KH Anwar Abbas, dewan tersebut tidak akan mampu menciptakan perdamaian sejati di Jalur Gaza, bahkan berpotensi merugikan perjuangan rakyat Palestina.
Gagasan Trump membentuk Dewan Perdamaian Gaza sejatinya bertujuan untuk menyusun kerangka kerja dan mengkoordinasikan pendanaan bagi rekonstruksi Gaza. Tujuannya adalah agar otoritas Palestina dapat memimpin wilayah tersebut secara aman dan efektif setelah porak-poranda akibat serangan Israel. Namun, KH Anwar Abbas mempertanyakan motif di balik inisiatif ini, mengingat peran Amerika Serikat yang selama ini selalu mendukung Israel dalam konflik tersebut.
“Bukankah Amerika telah ikut menghancur-leburkan Gaza karena Amerika selalu berada di belakang Israel?” ujar KH Anwar Abbas, sebagaimana dihimpun Mureks. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat semestinya bertanggung jawab penuh atas perbuatannya, bukan malah mengajak negara-negara lain untuk membangun kembali Gaza.
Lebih lanjut, KH Anwar Abbas meragukan kesediaan Amerika dan Israel untuk menyerahkan pengelolaan Gaza kepada pemerintah Palestina yang merdeka setelah proses pembangunan selesai. Ia secara tegas menyatakan bahwa Donald Trump tidak akan mendukung berdirinya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat. Pandangan ini didasarkan pada rekam jejak Trump selama masa jabatannya pada 2017-2021, di mana ia secara konsisten mendukung langkah-langkah Israel yang merugikan Palestina.
Rekam Jejak Trump dan Palestina
Sebagai contoh, KH Anwar Abbas menyoroti keputusan Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel dan memindahkan kedutaan besar Amerika Serikat ke sana. Kebijakan ini, menurutnya, jelas menunjukkan keberpihakan Trump yang merugikan aspirasi kemerdekaan Palestina.
Kini, dengan adanya beberapa negara Timur Tengah yang menunjukkan dukungan terhadap dewan bentukan Trump, KH Anwar Abbas khawatir hal ini justru akan memperlemah perjuangan rakyat Palestina. Apalagi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga telah secara terang-terangan menolak berdirinya negara Palestina yang merdeka.
Kemerdekaan, Bukan Sekadar Infrastruktur
Oleh karena itu, KH Anwar Abbas menyimpulkan bahwa Dewan Perdamaian Gaza tidak dapat diharapkan untuk menciptakan perdamaian. Ia bahkan memperingatkan bahwa yang mungkin terjadi justru sebaliknya. Menurutnya, kebutuhan utama rakyat Gaza bukanlah gedung dan jembatan yang indah dan megah, melainkan berdirinya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat. Sebuah tujuan yang, ia yakini, tidak diinginkan oleh Donald Trump maupun Benjamin Netanyahu.(Sumber)











