Dalam sejarah Islam, para sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang pertama kali memeluk Islam dikenal sebagai As-sabiqunal awwalun, yakni golongan awal yang menerima dakwah Islam. Mereka di antaranya adalah Ali bin Abi Thalib, Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar As-Shiddiq, Zaid bin Haritsah, dan Utsman bin Affan—para tokoh yang menjadi fondasi awal tegaknya Islam.
Namun, tahukah Anda siapa sahabat Rasulullah ﷺ yang paling akhir memeluk Islam? Sosok tersebut adalah Abu Darda, seorang laki-laki mulia bernama asli Uwaimir bin Malik dari suku Khazraj. Setelah menerima hidayah, Abu Darda dikenal sebagai sahabat yang teguh dalam ibadah dan bersemangat tinggi dalam mengejar keridaan Allah SWT. Ia senantiasa berusaha menapaki derajat ketaatan tertinggi dalam hidupnya.
Kisah Abu Darda Bertobat
Sebelum memeluk Islam, Abu Darda dikenal sebagai pedagang sukses di Kota Yatsrib—kini Madinah. Meski hidup berkecukupan, ia masih menganut keyakinan lama dengan menyembah berhala. Setiap pagi, ia selalu mempersembahkan sesajen dan wewangian terbaik untuk patung yang disimpannya di tempat terhormat di rumah.
Kendati banyak sahabat dekatnya telah masuk Islam, hubungan Abu Darda dengan mereka tetap terjalin baik. Salah satu di antaranya adalah Abdullah bin Rawahah, sahabat karib yang tak henti mengajaknya untuk memeluk Islam. Namun, setiap ajakan itu selalu ditolak dengan halus oleh Abu Darda.
Hingga suatu hari, ketika Abu Darda tengah berdagang di tokonya, Abdullah bin Rawahah berkunjung ke rumahnya. Ia bertemu dengan istri Abu Darda, Ummu Darda, dan dengan izinnya, ia masuk ke dalam rumah. Tanpa sepengetahuan sang istri, Abdullah kemudian menuju ruang tempat berhala disimpan, lalu menghancurkannya sambil berkata, “Segala yang menyekutukan Allah adalah kesesatan.”
Teriakan histeris Ummu Darda memecah rumah ketika ia mendapati patung sembahannya hancur berkeping-keping. Ketika Abu Darda pulang, ia mendapati istrinya sedang menangis. Setelah mendengar penjelasan istrinya, kemarahan sempat membuncah dalam dirinya. Ia berniat mendatangi Abdullah bin Rawahah. Namun, sebelum melangkah, pikirannya tersentak oleh satu kesadaran.
“Jika patung ini memang memiliki kekuatan, tentu ia bisa melindungi dirinya sendiri,” ujarnya dalam hati.
Pernyataan sederhana itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Hatinya luluh, dan nurani yang lama tertutup akhirnya terbuka. Abu Darda pun bergegas mencari Abdullah bin Rawahah dan memintanya mengantar ke hadapan Rasulullah ﷺ untuk menyatakan keislamannya.
Sejak saat itu, Abu Darda resmi masuk Islam dan dikenal sebagai sahabat Nabi yang paling akhir memeluk Islam dari kaum Khazraj.
Penyesalan dan Ketaatan Abu Darda
Setelah memeluk Islam, Abu Darda diliputi penyesalan mendalam karena merasa terlambat menerima hidayah. Namun, penyesalan itu justru menjadi cambuk bagi dirinya untuk menebus masa yang terlewat. Ia bertekad mengejar ketertinggalannya dengan tekun mempelajari ajaran Islam dan mendalami Al-Qur’an.
Perlahan, ia meninggalkan kesibukannya berdagang demi menghadiri majelis ilmu dan memperkuat pemahaman agamanya. Ketekunan dan kesungguhannya membuahkan hasil—Abu Darda kemudian dikenal sebagai salah satu sahabat Nabi yang paling luas ilmunya dan termasuk di antara para penghafal Al-Qur’an.
Kisah perjalanan imannya ini dikisahkan dalam buku Sosok Para Sahabat Nabi karya Dr. Abdurrahman Raf‘at al-Basya.
Wallahu a‘lam.











